Cerpen : Zhena Amanguna

Namaku Burhan. Nama lengkap Buhanu Sidikun. Diterima saja nama pemberian orang tua. Dan apalah arti sebuah nama. Semua berpulang kepada si pemilik nama, apakah ia orang baik atau orang jahat. Namun sejak muda teman-teman menjuluki dengan singkatan Burung Hantu. Itu karena saya suka begadang sampai larut malam. Selain itu saya suka memelihara berbagai jenis burung. Merasa damai jika di pagi hari suara burung membawa suasana pada suara alam.

Dikatakan bahwa burung-burung itu adalah umat Tuhan juga, sama seperti kamu semua pembaca Cerpen ini. Misalkan burung membuat sarang untuk melindungi diri dari kerasnya alam. Manusia membuat rumah. Burung juga punya anak dan sangat menyayangi anaknya. Dibesarkannya anak burung itu sampai ia bisa mandiri. Bisa mengepakkan sayap baru setelah itu si anak memasuki dunia burung yang sesungguhnya. Manusia kadang kalah sama burung dalam mendidik. Anak manusia banyak yang sudah besar masih belum mandiri.

Beberapa negara memakai burung sebagai lambang negaranya. Seperti Indonesia pakai lambang Burung Garuda dan Amerika memakai lambang Burung Elang Botak. Orang-orang juga memakai kata 'Burung' dengan makna metafora. misalkan Burung Cucak Rowo yang buntutnya panjang kalau digoyang terasa ser ser karena enak. Seperti diceritakan dalam lagu Cucak Rowo. Ini maksudnya mengisahkan sekitar hubungan suami isteri. Kata burung diasosiasikan pada makna senjatanya laki-laki. Makanya burung di Biak bisa dibesarkan dengan daun bungkus.

Dalam dunia burung juga ada burung kecil seperti Murai yang jadi sasaran burung besar seperti jenis elang. Tapi makanan elang bukan hanya burung kecil, bisa juga makan ikan, tikus tanah, ular atau apa saja. Tapi sepredator-predatornya burung dia tak serakus manusia. Manusia makan semua. Aspal pun dimakan. Pertamax dimakan. Sudah di gajih 4,5 milyar perbulan masih ngoplos pertalite.

Lebih mengenaskan dan memprihatinkan adalah burung Prenjak. Ia ditipu burung Kedasih. Dia tak menyadari kalau rumah atau sarangnya sudah disusupi telur Kedasih. Kalau telur itu menetas akan jadi pembunuh buat generasi Perenjak. Dan sumberdaya akan dikuasai sendiri okeh anak Kedasih. Perenjak contoh Ibu Pertiwi yang bodoh. Anak-anannya mati dibunuh oleh pihak yang dia dengan tulus melindungi sarang, mengerami telur, menetaskan, memberi makan sampai jadi burung dewasa.

Burung Kedasih itu balawi, dan Perenjak Itu Pemerintah Indonesia dan Kibin. Kita tak mungkin berharap Kedasih sadar menghentikan tipu muslihatnya, agar membuat sarang sendiri. Sarang khayalan di Tarim tidak Pernah dia tinggali. Sudah karakter Kedasih selalu begitu. Kalau di dunia pohon dia itu benalu.

Burung juga terhubung dengan Tuhan. Ketika pernah terdengar sebuah ungkapan : Apakah kalian tidak melihat burung diatasmu yang terbang sayapnya mengembang dan menghempit tak ada yang menyangganya dari jatuh kecuali oleh Sang Maha Pengasih.

*

Negara kita lambangnya burung juga. Garuda namanya. Pada kitab Ramayana dalam mitologi Hindu, Garuda adalah paman Jatayu. Dan Jatayu adalah burung yang sempat mau menggagalkan penculikan Sinta, isteri Rama. Bahkan karena sayapnya putus ditebas pedang Rahwana, Jatayu pun meninggal. Garuda sendiri di versi lain dikatakan sebagai Kendaraan Sang Wishnu. WISHNU sendiri adalah ajaran tentang Waskita, Irada, Setya, Hambalaa, Naaritha dan Umaditha. Agama kuna bangsa Lemurian di tataran Benua Zhunda, dengan salah satu nabinya Aki Tirem

Di Candi Sukuh ada patung manusia burung, disana Garudeya adalah anak Dewi Winata yang diperbudak oleh Penjajah Dewi Kadru. Garudeya lah Sang pembebas ibunya.

Ada sepasang burung tapi mukanya wajah manusia, sedang badannya adalah badan burung. Namanya Kinnara dan Kinnari. Dikisahkan dua sejoli ini penjaga pohon Kalpataru. Di Indonesia anugrah Kalpataru dikenal untuk Kota yang Bersih, tapi belakangan katanya jadi jualan. Bangsa ini memang sedang kacau otaknya, apa apa serba dijual. Megawati jual Indosiar ke Singapura, isinya data rahasia didalam. Kalau yang pernah ke Candi Borobudur ada relief mereka dua disana.

*

Ada juga burung terkait intelejen. Itu di jaman Nabi Sulaiman. Namanya si Burung Hud Hud. Satu ekor burung ini memang punya laporan intelejen yang sangat jitu. Suatu saat dia menemukan satu entitas kerajaan yang dipimpin oleh seorang Perempuan. Dia seorang Ratu penyembah matahari. Nabi Sulaiman percaya tidak percaya, dia mengancam Hud Hud kalau sampai berita itu bohong leher burung itu taruhannya. Bisa jadi santapan makan siang bersama hidangan lauk burung terkenal lainnya : Manna dan Sallwa. Dan ternyata laporan Hud Hud akurat, terkategori Laporan A1.

Ada juga burung politik. Yaitu burung Ababil. Dia tidak seorang diri tapi rombongan. Alkisah dalam surat Alfil, Pasukan Gajah sudah masuk di sekala perang kota di Makkah. Abdul Muthalib menghalangi, tapi apa daya Abrahah Sang Raja dengan Pasukan Kerajaan, sedangkan dia hanya sebuah kabilah. Dia hanya bilang, saya hanya amankan yang saya punya yakni unta-unta ini. Kalau Soal Ka'bah itu ada yang punya sendiri. Silahkan berurusan dengan pemiliknya, Dan pasukan gajah setelah itu bukan lagi pasukan gagah. Semuanya hancur lebur seperti daun dimakan ulat akibat tertimpa lemparan batu panas dari jutaan burung Ababil yang diurus sebagai politiknya Sang Maha Kuasa untuk mengalahkan politik Raja Yaman Hadromot itu.

*

Di musim hari raya Imlek orang-orang agama Konghucu melepaskan ratusan burung pipit sambil melepas doa. Agar Imlek kali ini lebih ditambah lagi rejekinya.

*

Di desaku ketika kami masih kanak-kanak kegiatan ketapel burung itu untuk perbaikan gizi. Baik burung kecil atau besar untuk dibakar laou dimakan. Selain itu ada juga kegiatan tangkap belalang dan cari ikan Mendo, Onyong-onyong dan Seserewet. Dari kegiatan itulah sisa-sisa kecerdasaan kami anak kampung dapat modal dasar sedikit.

Dulu di kampung belum ada burung gereja seperti sekarang. Herannya untuk burung itu oleh anak-anak dibiarkan bebas. Bahkan ketika ada burung gereja jatuh karena terhempas hujan angin pun anak-anak tidak mau memakannya. Sampai sekarang pun belum ditemukan alasannya. Dari pada terlalu panjang Cerpen ini saya tutup saja, sambil ngabuburit menunggu buka puasa.