Bupati Isaias Berhasil Raih WTP Bukan Hal Gampang
NABIRE - Untuk mendapatkan opini WTP adalah bukan hal yang gampang diraih, dirinya sebagai Bupati Kabupaten Nabire ke–9 banyak memberi
Bagikan
NABIRE - Untuk mendapatkan opini WTP adalah bukan hal yang gampang diraih, dirinya sebagai Bupati Kabupaten Nabire ke–9 banyak memberikan perubahan untuk Kabupaten Nabire. Selama 45 tahun, Nabire harus mempunyai data asset yang telah diberikan oleh pemerintah. Demikian dikatakan Bupati Nabire Isaias Douw, S.Sos.,MAP pada saat memberikan sambutan pada saat Ibadah Syukuran dalam rangka penyerahan Kartu Indonesia Pintar (KIP), Launching Batik Papua Khas Nabire, Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh BPK - RI atas Laporan Keuangan Daerah tahun 2016, Penghargaan Indonesia Awards 2017 dari MNC Group Kategori Pembangunan Daerah Terisolasi Indonesia Bagian Timur sekaligus penutupan Bola Voli Bupati Cup Tahun 2017, yang dilaksanakan Senin (6/11) bertempat di Halaman Kantor Bupati Nabire pukul 09.00 WIT. “Jadi WTP yang kita raih ini tidak gampang, saya bupati kesembilan, penumpukan-penumpukan aset, pemekaran Kabupaten Paniai menjadi ibukota Nabire, kita sensus dulu barang-barang yang ada di kabupaten-kabupaten lain, ini salah satunya selama 45 tahun, ini bukan main-main, ada yang kirim ke Dogiyai, ada yang kirim ke Paniai, ada yang kirim Deiyai, Intan Jaya, ada yang kirim ke Puncak, ada yang kirim ke Puncak Jaya, yang dulunya Kabupaten Paniai, ini semua kita datakan senilai 1 Trilyun 500 Milyar ini yang saya selesaikan, akhirnya saya dapat WTP 2016,” ungkapnya. “Terus terang kalau Isaias Douw datang ke Nabire ini bukan untuk curi uang, saya datang ke Nabire untuk perbaiki makanya saya datang ke Nabire. Kalau hanya saya mau kumpul-kumpul uang, saya tidak bisa dapat kayak-kayak begini (opini WTP), yang penting ada uang. Tetapi, saya sebagai anak daerah saya harus merubah Nabire, kenapa di daerah lain bisa, kenapa kita di Nabire tidak bisa, ini tujuan saya. Diakhir masa periode saya nanti, saya akan titipkan Kabupaten Nabire kepada pemimpin-pemimpin berikutnya untuk menjaga Nabire,” tuturnya. “Di kain batik ini ada tanda tangan saya, itu saya tinggalkan di Nabire karena ini adalah kenang-kenangan saya untuk membangun Nabire. Selain kain batik Papua ciri khas Nabire, Bandara ‘Douw Aturure’ dan pelabuhan adalah bukti nyata kerja keras. Sebentar lagi Nabire akan jadi Papua Tengah, kami tidak minta untuk merdeka, tetapi kami minta hak kami sebagai anak daerah untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan di wilayah Meepago, khusunya Kabupaten Nabire,” tambahnya. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo akan datang ke Nabire dan melihat langsung kondisi yang ada di wilayah Meepago. “Kebersamaan kita harus jaga, kalau saya ini hanya jabatan politik, 98 kerukunan ada di Nabire. Selama 5 tahun saya sudah bekerja untuk Nabire, masuk periode kedua saya masih kerja untuk Nabire dan mendapatkan WTP ini saya juga kerja keras dengan didukung oleh semua perangkat daerah,” ungkapnya.“Saya minta semua pimpinan-pimpinan SKPD, harus jaga dan mempertahankan opini WTP ini, jaga dan tingkatkan, kalau tidak mampu mundur, ada antrian di belakang banyak,” pungkasnya. (cad)
Bagikan artikel ini



