BIDAU – Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Katolik (YPPK) Santo Petrus Kampung Bidau Distrik Sukikai Selatan Kabupaten Dogiyai yang merupakan SD terpencil di Bidau belum ada guru, sehingga tidak pernah ada proses belajar mengajar.   Dan paling ironis lagi, selain belum ada guru yang mengajar, juga belum ada bahan mengajar, seperti Alat Tulis Kantor (ATK), sebagai bahan, seperti buku dan kapur tulis, sehingga meminjam (baca:pinjam) ke sekolah lain. Tak sampai disitu, SD YPPK ini hanya memiliki tenaga sukarela bernama Fransiskus Tekege. Dalam mengajar, dirinya pun tanpa honor selama kurang lebih empat tahun, apalagi mau berbicara menyangkut kebijakan sekolah lainnya. Dalam beberapa kesempatan, Fransiskus Tekege sempat menghadap ke Kantor Dinas P dan P Kabupaten Dogiyai Drs. Andi Yobee, M.Hum dan melalui Kepala Bidang atau Bagian TK/SD, Alpius Mote. Dan secara umum, mereka menilai Fransiskus Tekege sebagai tenaga sukarela, belum PNS, sehingga mereka (pihak Dinas P dan P Dogiyai) belum bisa memberikan jawaban yang pasti. Sementara itu, terkait beberapa sumber dana yang diberikan, seperti dana BOS, dana miskin (BLT) belum jelas. Fransiskus Tekege pernah ikut testing pegawai fomasi 2013-2014 belum juga diterima.  Pada kesempatan itu dia juga melaporkan, SD terluar di Distrik Sukikai Selatan, yang rata-rata sekolah kecil yakni YPPK Bidau, Iyago Tinage, Ugagagi Digiyou, Wotai juga belum ada kebijakan dari dinas P dan P Dogiyai.  Belum ada fasilitas sekolah juga tenaga guru, diakuinya, sudah ditempatkan pimpinan sekolah, namum Kepsek masih saja di Dogiyai, sehingga kedepan, Fransiskus minta pemerintah Kabupaten Dogiyai memperhatikan masalah tersebut.(don)