Barat Sudah Tidak Ada Obat Lagi

Esai : Abdul Munib *
Dengan segala kekalahan telak dalam Perang 12 Hari Iran-Israel, para Zionis mengalami kesulitan. Bukan masalah berkurangnya sekutu atau modal persenjataan perang, melainkan runtuhnya mental bangsa Zionis. Jutaan sudah meninggalkan tanah Palestina Pendudukan, pergi ke luar negeri di berbagai negara. Dengan sedikit harapan untuk kembali. Warga kelas akar rumput yang tidak punya kemampuan kabur ke luar negeri, mengungsi ke lereng-lereng bukit menghindari balistik yang kapan saja bisa tiba dari Iran. Negara Bangsa Persia itu belum menerima tawaran gencatan senjata, artinya tanah musuh masih terbuka lebar untuk di rudal. Orang Israel yang kini kesulitan, mereka tak lebih baik dari nasib warga Gaza. Terlunta tanpa rumah dan mengenaskan.
Dalam keadaan mental bangsa Zionis jatuh, sulit untuk menata kembali ekonomi dan kehidupan normal. Serangan Netanyahu ke Iran salah perhitungan. Tak ada hasil dari menyerang situs pengayaan uranium. Tak ada perubahan rezim di Iran, dari membunuh panglima jendral IRGC. . Rakyat Iran demo bukan memprotes pimpinan mereka tapi, mereka mau Iran cepat membalas Israel dan minta eskalasi pembalasan yang paling keras.
Kondisi rakyat Israel banyak yang terbujuk rayu dan tertipu propaganda Rezim Zionis, bahwa mereka militer terkuat di Timur Tengah. Bagaimana gencarnya propaganda Mossad intelejen terhebat di kolong langit. Teknologi militer tercanggih ada di tangan pasukan IDF. Propaganda semua itu rontok setelah serangan 7 Oktober 2023 dan di kunci oleh Perang 12 Hari.
Eksistensi Israel memang tampak aslinya kini, sebagai Pangkalan Militer Barat di jantung dunia Islam, Timur Tengah. Ia bukan entitas bangsa atau negara. Kita sudah mengira ini bukan sekedar murni soal minyak bumi di Timur Tengah, dimana Barat mau menguasainya untuk ekonomi mereka. Bukan pula soal orang Yahudi yang tak punya wilayah sehingga perlu adanya negara Yahudi.
Melainkan ini adalah sebuah Dunia Iri Hati purba, yang terus tersimpan abadi dalam sanubari Yahudi, yang tidak mau menerima Nabi Terakhir karena bukan dari klan mereka. Karena hal ini dulu Yahudi melakukan perang terhadap Nabi. Perang Khaibar menjadi saksi. Dengan menyemarakkan ekonomi riba Yahudi memerangi Tuhan, Yahudi mengumumkan dan menabuh genderang perang melawan Yang Maha Kuasa dengan industri riba mereka yang dikawal bankir-bangkir mereka di seluruh dunia. Kini ia sedang berupaya untuk menjadi Pemimpin Dunia, namun gagal maning gagal maning, sebab adanya entitas kaum muslimin. Kendati pun sebagian kaum muslimin berada di pihak Zionis, seperti geng Saudi dkk.
Perang 12 Hari kemarin berhasil menguak Hoax yang membohongi kita selama ini. Israel dan Amerika Serikat ternyata sebuah Hoax. Lebih enak jika kita menganggapnya begitu. Karena akan lebih dekat kepada pemahaman yang mendekati kebenaran dari keberadaannya. Selama ini dipropaganda sebagai negara Super Power. Super Power mana yang minta gencatan senjata.
Kenapa mereka takut Iran sekarang ? Apakah karena di seluruh wilayah Iran yang terbentang dari Teluk Persia sampai Laut Kaspia, dalam perut buminya sudah tersimpan ribuan kota rudal bawah tanah ? Yang untuk berperang tiap hari selama 10 tahun melawan Israel dan Pangkalan Amerika di Timur Tengah, senjata itu belum akan habis. Jumlah tepatnya tak ada yang tahu, menjadi rahasia militer negara itu. Banyak yang kaget, mata dunia terbelalak, Iran bisa sekuat itu, bahkan masih misterius untuk mengetahui kekuatan yang sebelumnya.
Sang Super Power kehabisan pernyataan. Permintaan gencatan senjatanya dikacangin Iran. Iran hanya rehat sebentar. Kartu Iran hidup di seluruh Timur Tengah yang didirikan pangkalan militer AS dan seluruh tanah pendudukan Palestina. Sejak berdirinya 1979, Republik Islam ini memang mempunyai norma sistem kekuasaan yang tak sama dengan Plot Barat. Untuk itu sejak awal Republik Islam dibenci Barat.
Padahal di Iran ada Pilpres dan ada Pemilu. Tidak seperti di Arab Saudi dkk. Barat memang standar ganda.
Memahami Barat setelah Perang 12 Hari
Peradaban Barat yang selama 500 tahun belakang ini mengendalikan dunia, kini telah terkuak topengnya. Setelah Perang Dunia kedua mereka mengendalikan dengan ancaman Nuklir dan Tipu Daya. Kini negara seperti Iran dan Yaman rakyatnya sudah bisa membuat nuklir. Bukan Barat saja. Kini BRICS juga telah menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menyaingi Dollar.
Barat tidak berjalan seiring dengan rakyatnya. Rakyat mereka adalah publik yang mengambang yang tak memiliki kekuatan persatuan. Negara-negara Barat hanya sebuah hoax dari kekuatan bayangan yang ada dibaliknya. Kekuatan sistem anti-kemanusiaan dan kekuatan sistem anti-Tuhan. Bangsa dan negara Barat hanya sedang diperalat oleh kekuatan sihir syaitan itu.
Pandangan dunia Barat adalah materialisme. Ideologi Barat adalah kapitalisme. Pola sistem nilai Barat adalah pragmatisme, individualisme, relativisme. Paradigma Pedagogi dan Epistemologi adalah positivisme dan saintifisme.
Sementara sejak awal berdirinya tahun 1979 Republik Islam Iran meletakan norma sistem kekuasaan antitesa dari piranti sistem kekuasaan Barat. Iran tidak anti sains. Justru menilainya sebagai kewajiban menuntut ilmu itu sama dengan kewajiban menuntut ilmu keagamaan.
Kini perang melawan Barat yang telah taruh tangan terlebih dahulu atas Republik Islam Iran, sedang dikekola menurut kadar Iran. Segala bentuk kezaliman atas Palestina tersambung secara otomatis dengan tangan Iran yang akan menekan berapa ratus tombol rudal balistik. Hidup dalam kondisi damai atau hidup dalam kondisi perang bagi negara seperti Iran yang di embargo Barat sejak lahir dan sering dibokong oleh Israel, sama saja. Tak ada bedanya.
Hanya untuk kali ini tampaknya Barat sudah kehilangan seluruh celahnya untuk terus menekan Iran. Karena kesadaran baru yang menimpa negeri-negeri Muslim kini tak lagi anti-Iran dan Anti-Syiah. Ini keadaan yang membahayakan Barat. Ketika kesadaran baru rakyat dunia Muslim tumbu, bahwa kita dapat berbagi dalam memimpin peradaban dunia Pasca Barat. Karena Barat sudah tidak ada obat lagi.
*Esais adalah Penanggung Jawab Papuapos Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



