DOGIYAI - Pemerintah daerah melalui Asisten II Setda Dogiyai, Thobias Bunapa, meletakkan batu  pertama pembangunan gedung SD YPPK St. Yohanes Pemandi dan Gedung Gereja Katholik St. Elisabeth di Kampung Yegoukotu, Distrik Mapia Tengah, Selasa (27/09/2016) kemarin. Bupati mengaku peletakan batu sebagai tanda berawal pembangunan. Artinya, setelah sudah dilakukan peletakan batu pertama tandanya sudah mulai pembangunan gereja maupun sekolah.“Untuk saya harap kepada warga Kampung Yegoukotu agar saling membantu dan saling kerjasama yang baik antara warga dengan punya kontraktor sehingga nanti bisa tercapai pembangunan,” katanya.Hal ini dikatakan Pastor Paroki  St. Maria Ratu Rosari Modio, Biru Kira, Pr. saat menyampaikan sambutannya dalam kegiatan peletakan batu pertama pembangunan gedung SD YPPK St. Yohanes Pemandi dan Gereja Katholik St. Elisabeth Yegoukotu, Distrik Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai.“Walau gedung gereja dan sekolah dipindahkan, tetapi jangan ubah atau pindahkan budaya dan imam,” kata Pastor Biru Kira.Menurutnya, budaya dan situs sejarah merupakan dua hal yang mesti dipelihara dan dipertahankan di tengah perubahan kian berkembang pesat seakan tak terelakkan. “Kalau tidak, berarti ketahan hidup masyarakat akan kacau-balau,” lanjut Pastor Paroki Modio.Jadi, kata dia, iman harus tetap dengan budaya walau gedungnya diubah. Warga Kampung Yegoukotu meminta kepada Pemda Dogiyai agar pembangunan kedua gedung, baik sekolah maupun gereja harus dituntaskan pemerintah hingga selesai.“Kami minta, pembangunan sekolah maupun gereja harus seratus persen dibantu pemerintah,” tutur Yones Tekege, warga Yegoukotu.Lanjut Tekege, pihaknya menagih janji pemerintah yang mana telah berjanji untuk membangun lima ruang kelas, tetapi nyatanya hanya akan membangun tiga ruang kelas. Oleh sebabnya, mereka menyayakan dua ruang kelas lainnya dikemanakan.Menanggapi hal itu, Asisten II Setda Kabupaten Dogiyai, Thobias F. Bunapa berjanji akan membangun 3 ruang kelas lagi selain 3 ruang kelas yang sedang akan dibangun. (gus)