ASEAN dan Covid-19
Pandemi COVID-19 telah menjadi tantangan besar bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, dan menghadirkan tantangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya sangat luas, mulai dari melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga meningkatnya angka pengangguran di setiap negara. Untuk menghadapi tantangan tersebut, kerja sama antar negara menjadi penting, terutama dalam kerangka ASEAN Plus Three (APT), yaitu forum kerja sama ekonomi yang terdiri dari negara-negara anggota ASEAN dan tiga negara Asia Timur: Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Oleh : Ilham Gymnastiar Rosyid
Pandemi COVID-19 telah menjadi tantangan besar bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, dan menghadirkan tantangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya sangat luas, mulai dari melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga meningkatnya angka pengangguran di setiap negara. Untuk menghadapi tantangan tersebut, kerja sama antar negara menjadi penting, terutama dalam kerangka ASEAN Plus Three (APT), yaitu forum kerja sama ekonomi yang terdiri dari negara-negara anggota ASEAN dan tiga negara Asia Timur: Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
Menurut Purnowo (2021) dampak negatif pandemi COVID-19 terhadap perekonomian tidak boleh dianggap remeh. Sektor pariwisata, perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi terganggu bahkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Negara-negara di kawasan, termasuk negara-negara anggota ASEAN, menghadapi tantangan besar dalam memulihkan perekonomiannya. Namun, bekerja sama dengan APT menawarkan harapan bahwa dampak negatif ini dapat dikelola dan dimitigasi. Salah satu langkah spesifik APT adalah kebijakan ekonomi dengan fokus pada stimulus perekonomian, kebijakan fiskal dan moneter, serta kebijakan perdagangan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mendukung sektor-sektor yang terkena dampak seperti UMKM dan menjaga stabilitas perekonomian secara keseluruhan. APT juga memperkuat kerja sama di bidang kesehatan dan keuangan dengan mengintensifkan pertemuan antara menteri keuangan negara-negara anggota dan gubernur bank sentral.
Dalam kerangka hubungan internasional, kerja sama di tingkat regional seperti APT (ASEAN Plus Three) merupakan contoh nyata pentingnya kerja sama antar negara untuk mengatasi krisis global khususnya pandemi COVID-19. Pandemi ini menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan dan ekonomi tidak hanya terbatas pada batas negara, namun merupakan tantangan bersama yang memerlukan respons terkoordinasi dari berbagai negara. Misalnya, kerja sama antar negara di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand dengan mitra regional seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan melalui APT telah membantu memfasilitasi pertukaran informasi, sumber daya, dan bantuan. bersama-sama mengatasi dampak pandemi ini. Negara anggota APT, termasuk Korea Selatan dan Jepang, telah berhasil mengembangkan teknik diagnostik dan terapeutik yang inovatif untuk menghentikan penyebaran virus. Pengetahuan dan teknologi ini kemudian akan dibagikan kepada negara-negara lain di kawasan, termasuk negara-negara ASEAN, melalui Forum APT.
APT menyediakan forum bagi negara-negara Asia Tenggara dan mitra regionalnya untuk bekerja sama mencari solusi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Misalnya saja di bidang ekonomi, negara-negara anggota APT dapat bertukar strategi pemulihan ekonomi, mengembangkan paket stimulus bersama, dan meningkatkan perdagangan dan investasi lintas batas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kawasan.
Menurut Martha (2020), dalam menghadapi COVID-19, pemerintah Indonesia dapat menggunakan diplomasi publik untuk berkomunikasi dengan warga negara asing, membangun kerja sama, dan membangun citra positif. Dalam hal ini, diplomasi publik memungkinkan pemerintah untuk menyatakan keadaan krisis, mengumpulkan informasi dari negara lain yang terdampak pandemi, dan memutuskan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menangani penyebaran COVID-19 di Indonesia. Selain itu, pemerintah dapat membangun jaringan komunikasi dengan negara lain dan organisasi internasional untuk mendapatkan bantuan dan dukungan dalam menghadapi krisis. Selain itu, diperlukan strategi komunikasi yang tepat agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat dan menciptakan citra positif Indonesia. Oleh karena itu, diplomasi publik berperan penting dalam membantu Indonesia menghadapi tantangan pandemi COVID-19.
Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan diplomasi publik dengan mengadakan konferensi pers internasional secara rutin untuk mengetahui situasi pandemi virus corona di Indonesia. Melalui forum ini, Indonesia akan dapat memaparkan langkah-langkah yang telah diambil untuk memerangi penyebaran virus, berbagi informasi terkini mengenai jumlah kasus dan upaya vaksinasi, serta menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil untuk melindungi penduduknya.
Selain itu, Indonesia dapat memanfaatkan jaringan diplomatiknya untuk menerima dukungan dan bantuan dari negara lain. Misalnya saja dengan berkolaborasi dengan negara-negara yang berhasil menghentikan penyebaran virus, Indonesia akan mendapat dukungan berupa peralatan medis, vaksin, dan pengerahan tenaga kesehatan untuk membantu penguatan sistem kesehatan dalam menghadapi pandemi. Diplomasi publik juga berperan penting dalam membangun citra positif. Pemerintah dapat memanfaatkan platform media sosial dan kampanye informasi untuk menyebarkan pesan-pesan positif mengenai upaya Indonesia menangani pandemi ini. Dengan cara ini, Indonesia dapat memperkuat citranya sebagai negara tangguh dan tangguh dalam menghadapi krisis kesehatan global.
Melalui kerja sama ini, negara-negara Asia Tenggara akan dapat berkolaborasi dengan mitra regional untuk meningkatkan respons terhadap krisis, sementara diplomasi publik akan memungkinkan Indonesia untuk memperkuat keterlibatan internasionalnya, menerima dukungan dan bantuan dari luar negeri, dan mencapai tingkat daya saing global . Hal ini dapat meningkatkan citra positif Indonesia. Oleh karena itu, hubungan internasional memberikan landasan penting untuk membangun respons yang terkoordinasi dan efektif terhadap tantangan global, dan mendukung kerja sama dan kerja sama lintas batas dalam mengatasi krisis yang mempengaruhi seluruh komunitas internasional.
Referensi
Anaru, Y. O. (2020). Neoliberalisme: Analisis Kerjasama ASEAN Plus Three (APT) Dalam Menghadapi Dan Mengatasi Dampak Pandemi COVID-19. Jurnal FISIP UNAIR.
Martha, J. (2020). Pemanfaatan Diplomasi Publik oleh Indonesia dalam Krisis Covid-19. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 121-130.
Purwono, A. (2021). ASEAN dalam Tantangan: Diplomasi Dalam Mengatasi Pandemi Covid-19. Interdependence Journal of International Studies, 2(1), 1-10. (Penulis adalah mahasiswa FISIP – Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang)
Bagikan artikel ini



