Arang Limbah Sawmille Nabire Siap Exodus
NABIRE – Selama ini, kita mengenal arang dari hasil pembakaran kayu, kulit kelapa dan bahan lain. Tetapi arang limbah sawmille yang satu ini, arang yang dari hasil pengolahan serbuk dari sawmille yang selama ini dikenal sebagai limbahnya sawmille. Arang dari hasil pengol
Bagikan
NABIRE – Selama ini, kita mengenal arang dari hasil pembakaran kayu, kulit kelapa dan bahan lain. Tetapi arang limbah sawmille yang satu ini, arang yang dari hasil pengolahan serbuk dari sawmille yang selama ini dikenal sebagai limbahnya sawmille.
Arang dari hasil pengolahan serbuk yang sedang diolah PT. Eka Dwika Perkasa, sawmille Kalibobo ini baru satu-satunya di Papua yang bisa mengelola limbah sawmille menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis dan siap exodus dari Papua ke Surabaya menuju kawasan Eropa.Penanggungjawab PT. Eka Dwika Perkasa, Sri Genyo saat ditemui di Sawmille Kalibobo, Selasa (26/7) siang mengatakan limbah berupa serbuk kayu merbau bisa menyebar ke mana-mana sehingga menyebabkan limbah kayu gergajian. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan meminta kepada setiap industry kayu harus ramah lingkungan. Oleh sebab itu, mulai setahun lalu, Sawmille Kalibobo memutar otak untuk menjadikan industri kayu tersebut sebagai industry rambah lingkungan. Strategi yang dipilih PT. Eka Dwika Persada adalah mengolah limbah, serbuk sisa gergajian menjadi sebuah industry yang bernilai ekonomis dengan mengolah limbahnya menjadi arang.Untuk sementara, kata Sri Genyo, arang dari Kalibobo akan dikirim ke Surabaya, ke depan bisa ke kawasan Eropa yang membutuhkan arang sebagai pemanas rumah tangga di daerah yang dingin. Sementara untuk memenuhi kebutuhan lokal khususnya pedagang sate dan ikan bakar di kota Nabire, bisa membeli langsung di Kalibobo. “Sekarang ini, ada sebagian yang tidak perlu beli arang kayu dan tempurung kelapa. Cukup mereka pakai arang dari serbuk dari sini,” beber ayah dua anak ini.Arang produksi swamille Kalibobo, siap melego ke pasaran di Surabaya dengan kemasan 10 kg per karton. Sedangkan untuk kebutuhan lokal dilego tanpa kemasan.Ia Pria asal Klaten ini menjelaskan, limbah Sawmille ini kalau dibiarkan dia merambah ke mana sehingga menyebabkan masalah tersendiri, kalau dibakar bikin solusi udara, mau dibuang ke mana.Oleh sebab itulah pria asal Klaten ini bersama manajemen PT. Eka Dwika Perkasa pada awalnya mengirim serbuknya ke Surabaya untuk diolah sebagai arang. Dari pada mengirim serbuk terus ke Surabaya, sejak tahun menggagasnya untuk membangun industry arang dari serbuk di Nabire. Dan itu mulai terwujud dan sudah memproduksi arang dari serbuk di sawmille Kalibobo.Sri menggambarkan proses pembuatan arang dari serbuk, mulai dari pengumpuan serbuk di dekat penggergajian disalurkan ke tempat cetak pola. Dari pencetakan ke tempat open untuk membakar serbuk ke arang yang membutuhkan beberapa hari selanjutnya semprot lalu disortir dan dikemas.Ketika ditanya soal tenaga kerja, semuanya dari lokal, tidak ada dari luar. Bahkan, sebagian diantaranya ibu-ibu, baik di sawmille maupun di lokasi pengolahan limbah jadi arang. “Pekerjaan yang ringan dikerjakan oleh ibu-ibu,” jelasnya.Ia mengaku pengolahan limbah jadi arang belum 100 persen tetapi hal itu bisa dibenahi secara bertahap. Dan tidak gentar apabila ada pengusaha sawmille lain juga mengikuti jejaknya. (ans)
Bagikan artikel ini



