ALAM Nabire mulai tidak bersahabat? sebuah pertanyaan mengajak kita semua di Nabire untuk mengevaluasi kebiasaan hidup bersama alam semesta. Bingung menyalahkan siapa dan kepada siapa kita mengadu, ketika muncul masalah banjir yang melanda Nabire dari ujung Timur hingga barat sepanjang Teluk Sarera.

Badai banjir pertama, telah meredam kima kampung dan dua dusun di Distrik Yaro dan dua lokasi pemukiman masyarakat di Kampung Wiraska, Distrik Wanggar dan penduduk di Kampung Wami. Belum selesai tragadei banjir di kawasan Barat Nabire, kawasan Timur Nabire juga dilanda banjir.

Banjir yang melanda di tengah permukiman warga dari Wami hingga pemukiman Rawaudo, lebih dominan akibat luapan air dari kali di tengah pemukiman penduduk. Hujan lebat mengguyur beberapa jam, kali di tengah pemukiman warga banjir.

Ketika banjir di tengah pemukiman warga yang jauh dari kali khususnya, alasannya parit taprop karena sampah kaleng dan botol serta sampah plastik. Solusinya, selokan dan parit bersih dari kaleng, botol dan plastik.

Ketika banjir hingga meluap ke tengah warga, kita salahkan warga yang berkebun di pinggir kali? Bisa benar, bisa tidak. Karena, masih ada faktor lain penyebabnya.

Kata orang lingkungan, ketika tidak ada penyangga berupa kayu besar dan kuat di mata air dan daerah-daerah tangkapan air, tidak ada yang bisa menahan air hujan bersama mata air yang ada sebelumnya. Karena, akar kuat yang bisa menahan sehingga air mengalir begitu deras selanjutnya terjadi banjir.

Kampung Wami, Distrik Yaur beberapa tahun terakhir ada saja musibah banjir. Lima kampung di Distrik Yaro (Parauto, Bomopai, Yaro I, II, Wanggar Pantai dan Homora) dilanda banjir ketia Kali yaro meluap, pemukiman Tanah merah meluap di tengah permukiman ketika Kali Matoa banjir, kali Wanggar banjir sasarannya ke warga jalur 8 dan permukiman Tanah Longsor. Demikian juga halnya dengan beberapa kali di dalam dan sekitar kota Nabire seperti Kali Bumi, Kali Nabire, Kali Sanoba, Kali Nabarua, Kali Kimi dan Kali Samabusa. Ketika kali-kali tersebut banjir, ancaman bagi warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) meluapnya air di tengah pemukiman masyarakat.

Terganggunya daerah tanggapan air di atas kali-kali yang ada di Nabire, tidak hanya karena penebangan hutan, baik itu untuk berkebun (kecil dan besar) juga termasuk pengambilan kayu, apakah dalam skala kecil ataupun besar, tetap menjadi ancaman terjadinya banjir. Demikian juga halnya pendulangan.

Tidak hanya di daerah tangkapan air, tetapi perlakuan masyarakat di atas kali di pinggir penduduk juga dapat menjadi ancaman tersendiri. Pengambilan batu dan pasir dalam jumlah banyak di satu kali juga dapat memperlancar aliran banjir sehingga dapat menimbulkan erosi di sepanjang bibir kali.

Oleh karena itu, ketika banjir seperti beberapa hari lalu, tidak hanya kita mempersalahkan mereka berkebun, pengambilan kayu, buka lahan, dan dulang tetapi juga pengambilan batu dan pasir di kali.

Menyinggung gangguan di daerah tangkapan air, menjadi kewajiban bagi pengusaha yang melakukan usaha di sekitarnya, apakah skala besar atau kecil dan sedang untuk menanam kembali lewat reboisasi agar banjir tidak terus berlanjut. Apalagi pengusaha yang memegang izin Hak Pengusaha Hutan (HPH) dan perkebunan skala besar. Sementara masyarakat yang mengambil kayu, baik perorangan maupun kerjasama dengan pengusaha sedang, juga berkewajiban moral untuk mengganti pohon yang ditebang dengan menanam satu pohon pengganti.

Sepertinya, pemerintah Kabupaten Nabire sibuk dengan penanganan dengan menghiraukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan dini. Karena kita sibuk ketika ada musibah, jarang ada upaya pencegahan. Kadang lupa kata-kata orang kesehatan, mencegah lebih baik dari mengobati. Jika seandainya, pemerintah punya kemauan untuk menanggulangi, lewat beberapa instansi terkait bisa ditangkal bersama, seperti kata operator, kita berpacu dalam melodi.

Wajar, alasan klise, kemampuan anggaran kita tidak cukup. Tidak ada dana preventif, dan itu bukan hanya masalah bencana tetapi juga alasan klise ini nyangkut juga disektor lain yang mendasar. 

Beberapa faktor penyebab kebanjiran di atas, seandainya pemerintah dan masyarakat punya hati dan kemauan, masih bisa ditanggulangi, mininal memperkecil resikonya.

Ataukah membiarkan upaya pencegahan (preventif) dan sibuk menanganinya bila sudah terjadi? Ketika tidak ada upaya pencegahan, agaknya, sigma Nabire sebagai NAnti Bisa Repot terulang, selama belum ada upaya pencegahan yang ditangani secara gotong royong antar instansi dan lembaga terkaitnya bersama masyarakat. Banjir yang melanda seluruh Nabire dari ujung Timur hingga Barat dalam kota sekitarnya, selama pekan lalu, mengingatkan kita semua untuk waspada dan waspada. (frans tekege)