NABIRE – Pemerintah Kabupaten Nabire, memberikan bantuan di masa pandemi kepada para mahasiswa asal kabupaten ini. Bantuan akan diberikan kepada mahasiswa yang orang tuanya berdomisili di Nabire, bekerja tinggal, hidup dan ber-KTP Nabire. Mereka telah terdampak Covid-19 dan berada di 29 kota studi di berbagai wilayah di Indonesia.

“Jadi ini bantuan 1 juta per mahasiswa yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi Covid-19 dan hanya satu kali diberikan,” ujar Yermias Degei di Nabire kepada para mahasiswa di halaman ruang kerjanya, Selasa (2/6/2020).

Menurut Degei, total penerima bantuan belum diperoleh sebab pihaknya masih terus menerima sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sehingga belum diverifikasi. Namun dari sejumlah data yang sudah ditransfer ke sebanyak 2.200 orang. Dan kurang lebih ada 700 data yang sedang diverifikasi dan dalam minggu ini akan ditransfer.

Kemudian, untuk pagu anggaran sesuai dengan data awal yang ditetapkan sebesar 2,9 milyar. Namun karena data terus bertambah sehingga perlu didiskusikan oleh pemerintah daerah yakni bupati dan Sekda.

“Sebab dana yang dikucurkan ini bersumber dari dana APBD, sehingga sampai hari ini (penutupan), memastikan berapa jumlah data yang masuk dan benar–benar mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Nabire,” tuturnya.

Terkait bantuan melalui Humas, Degei menjelaskan itu keliru. Sebab hal itu melalui Tim Gugus Covid–19 melalui kebijakan pimpinan daerah untuk pengumpulan data mahasiswa.  Dan persyaratannya berupa foto copy KTP, KK, kartu mahasiswa dan nomor rekening mahasiswa. Maka perlu diketahui bahwa kalau bantuan pendidikan tentunya diberikan melalui Bidang Kesra. Tetapi ini karena bantuan covid maka melalui tim gugus.

“Hanya saja kebetulan saya adalah salah satu anggota tim. Dan kami hanya bertugas memverifikasi data sementara penyalurannya melalui bendahara Sekda,” jelas anggota tim gugus penanganan Covid–19 bidang informasi/komunikasi itu.

Lanjutnya, bantuan dimaksud pihaknya sudah memgumumkan semenjak awal bulan Mei silam melalui rilis dan pemberitaan media. Juga termasuk membuat grup WhatsApp dengan ketua ikatan mahasiswa di masing-masing kota study untuk mengumpulkan data. Ia mengakui jika ada sejumlah mahasiswa mengeluh akibat transfer belum masuk.

Degei mengatakan bahwa hal ini pasti ada terjadi kesalahan terutama rekening atau bisa saja rekeningnya atas nama orang lain atau orang tua. Padahal nama di rekening dan KK harus sama. Sehingga, pihak bank akan menginformasikan bila ada nama yang yang tidak sesuai dengan data, yaitu tidak memiliki nomor rekening atau menggunakan nomor rekening orang lain.

Namun jika ada kelompok yang seperti dimaksud, pihaknya pasti akan menginformasikah ke ketua ikatan mahasiswa untuk memperbaiki nomor rekeningnya. Dan dananya tetap ada di bank terutama yang gagal kemudian jika sudah benar nomor rekeningnya maka akan dilakukan transfer.

“Dan mereka yang tidak ada rekening, tetap didata melalui orang tuanya dengan membawa data lengkap serta didepan bendahara akan menelpon dan memastikan bahwa benar orangnya ynag mendapat bantuan. Sehingga harapan kami, dengan dana yang ada untuk dapat digunakan untuk memenuhi kebutahan selama pandemi,” ujar Kabag Humas Setda Nabire ini. (pas)