Yayasan Peduli Difabel Nabire Terbentuk 2012, Lantaran Gerakan Disabilitas
NABIRE - Yayasan Peduli Difabel (YPD) yang ada di kota Nabire, Provinsi Papua Tengah, berlokasi di Perumahan Graha Kelapa Dua, Blok G6, Kalibobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, beroperasional sejak tahun 2012 melalui komunitas masyarakat peduli difabel dengan gerakan gerilya for difabel Nabire.

NABIRE - Yayasan Peduli Difabel (YPD) yang ada di kota Nabire, Provinsi Papua Tengah, berlokasi di Perumahan Graha Kelapa Dua, Blok G6, Kalibobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, beroperasional sejak tahun 2012 melalui komunitas masyarakat peduli difabel dengan gerakan gerilya for difabel Nabire.
Ketua YPD Nabire, Maria Yetti Saputri, ketika dihubungi melalui WhatsApp (WA), Rabu (22/01/2025) mengatakan, berbagai macam kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari Bakti Sosial (Baksos) Sembako, pembagian kursi roda dan tongkat gratis, penohatan gratis.

Sampai hingga tahun 2017 disahkan secara administratif dengan akte notaris, SK Kemenkuham dan surat izin operasional dari dinas-dinas terkait. Dan banyak terobosan dalam berbagai bidang saat itu hingga sekarang.
Dirinya menambahkan, disabilitas yang berada di yayasan peduli difabel, total ada 105 anggota di dalam panti, ada 51 nama yang belum termasuk pengurus. Pengasuh dan guru-guru. Yang di dalam panti ada 54 nama, difabel mental (gangguan jiwa, psychofrenia, bipolar), difabel fisik (kaki 1, lumpuh kursi roda, buta), dan banyak anak berkebutuhan khusus (Hyperaktif, Autis, Down Syndrome)
Maria Yetti Saputri menambahkan, hak-hak yang diinginkan untuk teman-teman difabel, hak perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan, sama seperti orang normal pada umumnya. Namun banyak hal yang menjadi kendala difabel tidak tersentuh oleh pemerintah setempat.

Ketua YPD, Maria Yetti Saputri, menyampaikan imbauan kepada saudara-saudara yang mungkin ada yang merendahkan teman-teman difabel, dirinya mengajak befikir, bersimpati, berempati dengan mereka. Bagaimana jika yang mengalami disabilitas/ kecacatan itu saudara sendiri atau bagian dari keluargamu, apakah dirimu juga akan menghina dan merendahkannya.
“Jika bisa mari kita bersama membantu, memperdulikan difabel, tapi jika tidak mampu membantu atau menolong sebaiknya jangan menghina,” ujarnya.

Maria Yetti Saputri berharap, agar pemerintah memberikan bantuan dan keperdulian dengan dibuatkan panti yang layak dan lebih memadai. Misalnya, membantu Sembako untuk memberi makan sehari-hari atau membantu biaya pendidikan, supaya mereka juga bisa melanjutkan sekolah, sehingga suatu saat bisa menjadi orang-orang yang mandiri dan tidak terus mengharap belas kasihan yang lain.(edi)
Bagikan artikel ini



