Yang Membuat Saya Masih Bersama Jokowi
Esai : KH Abdul Munib*

Esai : KH Abdul Munib*
Adalah karena hinaan, cacian dan fitnah begitu berat yang harus ditanggung Presiden Jokowi. Dan itu dilakukan oleh rakyat bangsanya sendiri. Seolah apapun yang berasal darinya adalah kejelekan semata. Begitu kuatnya frame itu sepanjang jabatan kepresidenannya. Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa menguatkan jiwanya.
Dalam hal ini saya tetap bersama pihak manapun yang terasing dalam kesendirian dengan kezaliman hujat yang sangat masif. Sebagai presiden dan kepala negara tidak selayaknya pribadinya dihinakan begitu rupa. Kalau seorang kepala negara saja bisa dipersekusi verbal di Medsos sebagai pribadi, maka rakyat lemah tinggal tunggu disembelih saja jika pintu peluang terbuka bagi teroris.
Soal kepala negara dan kepala kita sebagai rakyat tidak bisa terpisah. Ketika persekusi verbal dibiarkan ujungnya akan berbahaya. Muamar Kadhafi kurang baik bagemana. Hasil minyak Libya untuk memakmurkan rakyat serba gratis. Karena rakyat mayoritas diam, Kadafi dipersekusi radikalis maka masuklah teroris didampingi NATO. Kita juga bisa dibegitukan kalau rakyat mayoritas diam membiarkan yang segelintir itu berhasil membuka pintuk untuk masuknya TERORISME berkekuatan biaya besar yang dikendalikan Negara Adikuasa. Perkara Kadafi dan Basar Assad, perkara yang sama Jokowi dan Prabowo. Kalau tidak tunduk ke Barat akan diganggu. Tapi kabar baiknya, Barat tak sekuat dulu. Amerika nya sedang melemah.
Soal Presiden Jokowi bukan soal dia sendiri sebagai pribadi. Tapi soal leher kita. Apakah akan diam saja membiarkan pisau teroris akan memenggalnya. Atas nama agama atau alasan yang dicari-cari setelah kepala jatuh di tanah. Dan semuanya terlanjur terlambat, penyesalan tiada guna. Untuk itulah Kiai Sepuh Mbah Moen berdoa dua tokoh Indonesia, Jokowi-Prabowo bisa akur.
Percayalah, hanya kelompok kecil saja yang cari rejeki melalui kucuran dana Elit Global, Saudi, Amerika, Zionis, dan Eropa. Karena dananya besar, bisa ngumpulkan rakyat. Membiayai radikalisme sejak dini. Menguasai media baik menstrem maupun medsos. Dan mayoritas diam, karena merasa baik-baik saja. Dan, kita tidak sedang baik-baik saja. Dunia sedang pancaroba. Alam besar gunung meletus, gempa dan tornado. Alam kecil virus dan sakit penyakit sedang bergolak. Amerika yang menurut Fukuyama sebagai akhir sejarah dan manusia terakhir, ternyata tidak demikian. Demokrasinya runtuh, negerinya limbung. Rasisme budaya koboy sedang balik memukul peradabannya sendiri.
Kita Indonesia harus simak baik. Waspada. Dalam pancaroba ini kita harus jernih melihatnya. Pagari nusa bangsa ini dengan kuat. Bhineka Tunggal Ika itu pandangan dunia, ideologi kita. Filsafat sejarah kita menyebutkan demikian. Arogansi Mongol dalam sejarah, kita jadikan ongol-ongol. Orang Bule cebok tisu itu tak berhasil menanamkan kebudayaan apapun dalam menjajah ratusan tahun. Malah mereka yang gandrung kebudayaan kita.
Kecuali sisa abad 20 hasil Politik Etis. Anak-anak bangsa gandrung pada Internasionale. Modernisme menjadi lampu sorot yang memikat mereka. Semua telah terbukti oleh waktu. Seperti sangkaan Sukarni yang menculik Sukarno, bahwa asap itu hanya kepulan jerami disawah yang dibakar petani. Bukan api revolusi. Dan kita pun pernah terbakar revolusi yang dikobarkan Paduka yang Mulia penyambung lidah rakyat, PBR (pemimpin besar revolusi). Sampai sekarang orang Indonesia masih baku angkat bahu kalau ditanya definisi revolusi itu apa. "Saya juga tidak tahu. " Waktu 80 tahun kita belum juga tahu banyak hakikat pusaka Falsafah Pancasila itu. Mari kita terus gali.
Tentu saya masih tetap dapat mengeritik pandangan Pak Jokowi terhadap satu hal atau banyak hal. Terhadap kinerja para menterinya. Dan hal ini akan menjadi sebuah tanda. Bahwa demokrasi yang kita pilih ini masih bisa mekar segar tak merana.
Dulu yang selalu mengganggu presiden Jokowi adalah klan baklawi, yakni Habib Riziq. Namun setelah terkuak selimut yang menyelubungi lewat Tesis Kiai Imadudin Usmn Albantani, bahwa Balawi bukan cucu nabi saya, melihatnya jadi kasihan. Kalau bisa segera lah tobat, meski bukan cucu nabi kan masih bisa tetap jadi umat nabi yang mencintai nabi. Tapi kelihatannya sulit sekali bagi klan ini, bagai gajah masuk jarum jam. Sekali lagi ini soal bisnis proksi.
Sebagai rakyat biasa saya juga tak banyak tahu dunia 'shaddow' , dimana yang nampak oleh panca indera bukan lah yang sebenarnya. Bukan lah Bung Karno itu Proklamator dan Pahlawan Nasional, tapi di TAP MPRS nomor 33, ia ditetapkan sebagai penghianat. Bukan kah ajaran komunis telah dilarang sehingga buku-bukunya tak boleh beredar, tapi Tan Malaka adalah Pahlawan Nasional juga. Alimin PKI pahlawan nasional juga. Bapak Pendidikan Nasional kita Kihajar Dewantoro itu penerjemah lagu komunis Internasiomale.
Dan jenazah pemberontak Kahar Muzakar dimakamkan di TMP, walau tanpa diberi nisan penanda. LB Moerdani nama yang melekat sebagai panglima yang menindas orang Islam, ia berwasiat untuk dikubur secara Islam dan dibacakan Yasinan.
Berhenti lah sok tahu dengan bangsa dan negeri ini. Banyak yang disembunyikan untuk tujuan yang sama : bahwa kita masih butuh bangsa dan negara ini. Betapa merananya kini bangsa Kurdi, tersebar di Turki, Suriah, Irak dan Iran. Mereka tak punya bangsa, meski dulu punya dibawah Dinasti Ayyubiyah dengan tokoh Salahuddin Al Ayubi. Alangkah nestapa orang tak punya bangsa dan negara. Mau cinta tanah air, tapi tak punya yang dicintai.
Banyak yang rela tak tercatat jadi Pahlawan Nasional di permukaan, tapi di realita dia adalah Pahlawan. Kalau Gus Dur masih hidup ia akan bilang, " Tidak jadi Pahlawan Nasional juga ndak apa-apa. Gak 'pateken'. Daripada disuruh antre sama Jimly Asyidiki di Kalibata. "
Presiden yang terus dikuyo-kuyo meski dia tak lagi menjabat adalah Jokowi. Pintu masuk serangan ini adalah putranya Gibran Rakabunging Raka yang jadi Wapres. Tapi ini bukan kemauan dan kesalahan Gibran. Ini ditimbulkan oleh sebuah situasi dan kondisi politik Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 kemarin.
Ceritanya begini. Bahwa Presiden Jokowi beda dengan Presiden SBY tentang siapa gerangan penerusnya yang akan menjadi Presiden setelahnya. Presiden SBY dengan Partai Demokrat-nya memang menggelar Konvensi. Partainya waktu itu bahkan punya tiket Presiden Threshold 20 persen tanpa koalisi. Tapi SBY tak sreg dengan semua peserta Konvensi saat itu : Anis Baswedan, Dahlan Iskan, Gita Wiryawan, Hayono Isman, Marzuki Ali dan Pramono Edhi Wibowo. Partai Demokrat, kendati punya tiket, tak ikut bertarung Pilpres 2014 kala itu. Partainya diam-diam dipersiapkan untuk putra mahkota Agus Harimurti Yudoyono, namun ia masih belum matang dan perlu dipoles. SBY lah sebenarnya Bapak sayang anak itu. Tapi proksi tak mempersoalkan karena ia anak baiknya (good boy) Barat. Jika dapat disebut sebagai kesalahan, maka satu-satunya kesalahan Jokowi adalah tidak tunduk pada Barat. Walhasil kesalahan dia itu karena memilih menjadi manusia merdeka apapun risikonya.
Sedangkan Presiden Jokowi dia langsung buat plot. Karakter orangnya tipikal taktis. Dalam plotnya Prabowo-Ganjar adalah pasangan ideal untuk menjadi penerusnya. Baik secara kematangan negarawan maupun elektabilitas pasangan itu tak ada lawan. Menyiapkan kader penerus juga dibilang salah oleh proksi. Maunya supaya yang jadi berikutnya adalah presiden pro Barat seperti Anis Baswedan.
Ada juga yang cemburu merasa posisi King Maskernya diserobot, yaitu ketua PDIP Megawati. Dari sini mulai hubungan kurang harmonis Mega-Jokowi. Ia memaksakan mendeklarasi Ganjar Wapres PDIP. King Maker amatir Surya Paloh juga mengawinkan pasangan Anis-Muhaimin. Kehilangan Calon Wapres Ganjar dan Muhaimin , Prabowo melirik dan meminang pasangan wakil Gibran yang dinilai paling potensial dan strategis untuk menang. Angka keterpuasan terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi saat itu bertengger di 80 persen lebih. Hal itu dinilai sebagai energi segar untuk menyuntik power elektabilitas Prabowo. Tepat kiranya perhitungan tadi, setelah menggandeng Gibran, Prabowo yang semula di kisaran 42 persen terus melejit hingga akhirnya di 58.persen. Politik seringnya memang situasiomal.
Begitulah kondisinya pada waktu itu. Namun politik sekarang berbalik arah. Proksi Barat di Indonesia yang menggurita di hampir semua lini, justru menyerang terus Jokowi dan keluarga. Orang tahu sasaran tembak utama selanjutnya Prabowo. Apalagi Prabowo berani masuk BRICS. Jokowi yang kini tidak menjabat Presiden pun terus dikejar dan dicecar oleh proksi itu, tujuannya untuk mengganggu Prabowo. Kini Jokowi seorang diri tanpa pembela.
Hanya hati rakyat kecil yang jujur dan polos mengakui di era sepuluh tahun Jokowi, 53 bendungan selesai dibuat. Di sepuruh tahun SBY hanya 5 bendungan selesai dibuat. Soeharto selama 32 tahun hanya membuat bendungan dalam hitungan jari. Ratusan bendungan justru dibuat di era Belanda.
Saya bicara bendungan karena ini terkait langsung dengan rakyat paling bawah yakni petani. Di hati rakyat kecil akan selalu ada Jokowi. Bagi para tukang olah, Jokowi sekarang sedang jadi proyek bulan-bulanan. Semua ini modus lama Hegemoni Barat lewat proksinya di Indonesia yang menggurita dimana-mana.
Mereka yang kini sedang merongrong Jokowi adalah muka-muka yang sama dulu mengkudeta Gus Dur. Pemimpin pro rakyat, Soekarno-Gus Dur-Jokowi-Prabowo, harus dikudeta bila perlu dibunuh karakternya. Karena hanya yang pro Barat yang dinilai menguntungkan. Mereka menggunakan media untuk memutar balik fakta yang sebenarnya.
*Penulis adalah penanggung-jawab Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



