NABIRE - Sudah hampir satu bulan lamanya, masyarakat di Kampung Wanggar Pantai, Kabupaten Nabire, hidup dalam kekhawatiran akibat luapan air sungai yang kian mengancam pemukiman. Dampak ini merupakan kali kedua yang dialami warga, namun hingga saat ini perhatian dari pihak pemerintah daerah maupun provinsi dinilai masih sangat minim.

Masyarakat setempat mengaku telah berulangkali menyuarakan kegelisahan mereka kepada pihak terkait. Warga bahkan sudah mendatangi kantor DPR untuk menyampaikan aspirasi dan menceritakan kondisi nyata yang mereka hadapi di lapangan, namun sayangnya hingga kini belum ada aksi nyata yang dilakukan oleh para wakil rakyat tersebut.

Akibat tidak adanya respons cepat dari pemerintah, warga Wanggar Pantai terpaksa mengambil inisiatif mandiri. Pada bulan November lalu, masyarakat secara swadaya mengumpulkan dana sebesar 30 juta rupiah untuk melakukan penanganan awal. Dana tersebut digunakan untuk membuka alur kali agar aliran air tidak langsung menghantam pemukiman.

Meski upaya swadaya telah dilakukan, hasilnya belum maksimal karena penyempitan di bagian hilir sungai. Aliran air yang tertampung justru meluap kembali dan mengikis daratan di sekitarnya. Hal ini menyebabkan upaya penanganan mandiri yang dilakukan warga kembali rusak termakan arus karena keterbatasan alat dan biaya.

Kondisi saat ini kian memprihatinkan karena kerusakan lingkungan mulai merambah ke fasilitas umum. Luapan air sungai dilaporkan telah mengenai area perkampungan, bangunan gereja hingga sekolah. Jika tidak segera ditangani, fasilitas pendidikan dan ibadah tersebut terancam mengalami kerusakan berat yang akan merugikan masyarakat luas.

Warga baru-baru ini mencoba berkoordinasi dengan pihak perusahaan swasta untuk meminjam alat berat. Tujuannya untuk menyeberangkan material dan melakukan normalisasi serta isolasi pada titik-titik rawan. 

Terkait pembukaan jalan baru sebagai akses evakuasi, warga mengklaim jalur sudah tersedia dan hanya tinggal menunggu eksekusi teknis di lapangan.

Menanggapi situasi ini, Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John N.R. Gobai, turut angkat bicara. Melalui kanal medianya pada Minggu (26/01/2026), ia mengkonfirmasi bahwa masyarakat di Kampung Wanggar Pantai sangat mengharapkan adanya tindakan medis darurat berupa normalisasi Sungai Kali Wanggar.

Menurut John Gobai, inti dari permasalahan ini adalah aliran sungai yang sudah keluar dari jalurnya dan mulai merampas lahan pemukiman warga. Ia memperingatkan jika dibiarkan lebih lama, akses jalan utama di wilayah tersebut terancam putus total akibat abrasi sungai yang terus mengganas setiap harinya.

Solusi teknis yang mendesak dilakukan saat ini adalah mengembalikan aliran sungai ke badan semula. Selain normalisasi, pembangunan bendungan atau tanggul pengaman juga menjadi tuntutan utama warga agar air tidak lagi mengikis daratan perkampungan. Hal ini memerlukan koordinasi serius antara pemerintah tingkat kabupaten dan provinsi.

Masyarakat Wanggar Pantai kini hanya bisa berharap agar pimpinan daerah, baik di Kabupaten Nabire maupun Provinsi Papua Tengah segera menurunkan bantuan. Mereka menanti kehadiran pemerintah bukan sekadar untuk meninjau, melainkan untuk membawa alat berat dan solusi nyata sebelum kampung mereka tenggelam oleh aliran sungai.(amd)