Wabup Nabire Ajak Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Gangguan Keamanan

NABIRE - Wakil Bupati (Wabup) Nabire, H. Burhanuddin Pawennari, memberikan imbauan serius terkait kondisi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayahnya. Berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 36 tahun di dunia intelijen Polri, ia mengamati adanya pergeseran pola gangguan keamanan dari wilayah terpencil yang kini mulai berani memasuki kawasan perkotaan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Situasi ini dipicu oleh tiga insiden penembakan berturut-turut yang terjadi dalam waktu singkat. Peristiwa tersebut meliputi kejadian di kilo yang memakan korban luka, penembakan di Kali Kupaya hingga aksi serupa yang terjadi tiga hari lalu di Distrik Kuala. Rentetan kejadian ini telah menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan pemerintah daerah dan aparat keamanan.
Merespons kondisi tersebut, jajaran Forkopimda telah menggelar silaturahmi khusus yang dihadiri oleh Kasdam (mewakili Pangdam), Danrem, Kapolda serta Pj. Gubernur. Pertemuan tersebut secara khusus membahas rasa prihatin atas kasus yang menimpa areal PT Kristalin di Kampung Biha, Distrik Makimi, yang mengakibatkan masyarakat merasa was-was karena aksi kelompok tersebut sudah menyentuh area pemukiman padat.
Dalam arahannya pada kegiatan Musrenbang di Aula Bapperida, Rabu (25/02/2026), Burhanuddin menegaskan imbauan ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti warga. Sebaliknya, ia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian, terutama bagi warga yang berdomisili di wilayah luar pusat kota atau daerah pinggiran yang rawan.
Ia menekankan peran penting kepala distrik dan kepala kampung dalam mengedukasi warga. Meski masyarakat tidak memiliki senjata api untuk membela diri, Burhanuddin menyebut bahwa telinga dan mulut adalah senjata paling ampuh. Artinya, kecepatan masyarakat dalam mendengar informasi dan melaporkannya kepada pihak berwenang adalah kunci utama dalam pencegahan aksi kriminal.
Wabup juga memperingatkan agar masyarakat tidak menyimpan informasi sendiri karena rasa takut. Ia menegaskan bahwa sikap apatis atau mendiamkan pergerakan kelompok tersebut sama saja dengan membantu mereka. Sinergi antara ‘telinga’ masyarakat dan ‘tindakan’ aparat diharapkan dapat mengantisipasi jatuhnya korban lebih lanjut sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
Menutup pernyataannya, Burhanuddin berharap agar rentetan kekerasan ini menjadi yang terakhir di Kabupaten Nabire. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas agar konflik tidak meluas ke wilayah Barat. Kerja sama antara pemerintah distrik, aparat keamanan dan warga diharapkan mampu mengembalikan rasa aman di tengah masyarakat Nabire.(sam)
Bagikan artikel ini



