NABIRE - Wabah African Swine Fever (ASF) terus menjadi ancaman serius bagi peternak babi di Kabupaten Nabire. Data terbaru dari Dinas Peternakan Kabupaten Nabire menyebutkan, hingga saat ini, telah tercatat kematian sebanyak 1.116 ekor babi akibat penyakit mematikan itu.

Kepala Dinas Peternakan Nabire, Drh. I Ayu Dwita, K.M mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi wabah ini, seperti melakukan vaksinasi massal, penyemprotan disinfektan dan pemusnahan ternak yang terinfeksi. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

“Jumlah babi yang mati terus meningkat, kami terpaksa melakukan tindakan tegas dengan mengubur massal untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” ujarnya.

Proses penguburan massal dilakukan di Kalibumi. Babi-babi yang mati dikumpulkan dan dikubur dalam lubang yang sudah disiapkan. Proses ini melibatkan petugas dari dinas terkait.

Angka kematian ini terus bertambah setiap harinya, membuat para peternak semakin khawatir dan mengalami kerugian yang cukup besar. Wabah ASF yang pertama kali muncul pada bulan lalu, kini telah menyebar ke beberapa wilayah di Kabupaten Nabire.

"Kami terus berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi wabah ASF ini. Namun, kami juga membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat, terutama para peternak, untuk bersama-sama mencegah penyebaran penyakit ini," ujar Dwita saat ditemui wartawan Papuapos Nabire di ruang kerjanya, Senin (09/12/2024).

Penyebab dan penularan ASF merupakan penyakit virus yang sangat menular pada babi, dengan tingkat kematian yang tinggi. Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung antara babi yang sakit dengan babi sehat, atau melalui benda-benda yang terkontaminasi virus, seperti pakan, air minum dan peralatan peternakan.

Dampak wabah ASF tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga pada perekonomian masyarakat, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada sektor peternakan babi. Selain itu, wabah ini juga dapat mengancam ketahanan pangan, mengingat daging babi merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting.

Untuk mencegah penyebaran ASF, masyarakat, terutama para peternak, diimbau untuk melakukan biosekuriti yang ketat di kandang ternak. Tidak membeli babi dari daerah yang terjangkit ASF. Segera melaporkan jika ada babi yang sakit atau mati. Memastikan kebersihan kandang dan peralatan peternakan.

Diharapkan, dengan upaya bersama, wabah ASF di Kabupaten Nabire dapat segera teratasi dan peternak dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait terus berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada para peternak yang terdampak wabah ini.(amd)