JAYAPURA,– Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (UNCEN) resmi menerima repatriasi perdana benda-benda budaya Papua dari Amerika Serikat dalam sebuah prosesi adat dan serah terima yang berlangsung di Universitas Cenderawasih Jayapura, Kamis (6/8/2026).

Repatriasi ini menjadi yang pertama di Tanah Papua dan menandai langkah penting dalam upaya mengembalikan warisan budaya Papua ke tanah asalnya.

‎Dari pantauan dilapangan, prosesi diawali dengan penjemputan koleksi di Depo Peti Kemas, selanjutnya artefak dikawal menuju Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih dengan melibatkan tim museum, Dewan Adat Papua, serta pihak terkait.

‎Setibanya di museum, benda-benda budaya disambut melalui ritual adat yang dipimpin Dewan Adat Papua sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang kembali ke Tanah Papua.

‎Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Ag, mengatakan pihak universitas menyambut baik dan mengapresiasi proses repatriasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut.

‎Menurutnya, koleksi yang dipulangkan terdiri dari sekitar 1.000 artefak budaya, lebih dari 20.000 foto, 100 rekaman suara, serta berbagai dokumentasi ilmiah hasil penelitian di wilayah Pegunungan Papua.

‎”Repatriasi ini merupakan langkah yang sangat luar biasa. Koleksi ini akan melengkapi Museum Loka Budaya dan menjadi sumber edukasi bagi masyarakat untuk mempelajari budaya Papua,” ujarnya.

‎Ferdinand menambahkan, keberadaan koleksi tersebut mendorong Universitas Cenderawasih untuk merencanakan renovasi bahkan pembangunan gedung museum yang lebih representatif.

‎Menurutnya, bangunan baru nantinya tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga pusat pembelajaran, penelitian, pelatihan seni, serta ruang pelestarian budaya Papua dengan desain yang akan dikonsultasikan bersama Dewan Adat agar mencerminkan identitas budaya Papua.

‎”Kami akan mengusulkan pembangunan atau renovasi museum kepada Kementerian Kebudayaan maupun kementerian terkait agar koleksi ini dapat dirawat secara maksimal dan menjadi pusat pembelajaran budaya Papua,” katanya.

‎Sementara itu, Kepala Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Enrico Yory Kondologit, S.Sos., M.Si, menjelaskan proses repatriasi tersebut memakan waktu sekitar tiga tahun tujuh bulan, sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 2023 hingga akhirnya berhasil direalisasikan pada 2026.

‎Ia mengatakan, repatriasi ini merupakan implementasi kebijakan UNESCO mengenai rekonsiliasi budaya, namun memiliki keunikan karena dilakukan langsung dari negara asal koleksi kepada institusi lokal, bukan melalui mekanisme antarnegara sebagaimana lazimnya.

‎”Ini menjadi contoh baru dalam diplomasi budaya. Prosesnya tidak mudah karena menyangkut administrasi lintas negara, tetapi akhirnya berhasil membawa pulang warisan budaya Papua ke tanah asalnya,” kata Enrico.

‎Dijelaskannya, artefak yang dipulangkan merupakan koleksi mendiang Dr. O. W. (Bud) Hampton, seorang antropolog yang melakukan penelitian di wilayah Dataran Tinggi Papua selama periode 1982–1999. Koleksi tersebut mencakup berbagai peralatan batu, aksesori, tas anyaman serat, kain jaring laba-laba, hingga dokumentasi penelitian yang sangat rinci.

‎Enrico mengungkapkan, selama melakukan penelusuran di luar negeri, pihaknya menemukan masih banyak koleksi budaya Papua yang tersimpan di berbagai museum di Amerika maupun Eropa. Bahkan, terdapat pula sisa-sisa manusia asal Papua yang masih berada di sejumlah museum luar negeri.

‎Ia berharap pemerintah daerah di seluruh Tanah Papua turut memberikan dukungan, baik melalui pembiayaan maupun pembangunan fasilitas museum, sehingga proses repatriasi berikutnya dapat terus dilakukan.

‎”Papua harus siap, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sarana prasarana. Jangan sampai benda budaya sudah kembali, tetapi kita belum memiliki tempat yang layak untuk merawatnya,” ujarnya.

‎Enrico menambahkan, koleksi yang baru tiba akan menjalani proses penataan sebelum dipamerkan kepada masyarakat. Museum Loka Budaya menargetkan artefak tersebut mulai dapat dinikmati publik dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi dan pelestarian warisan budaya Papua.(Bams)