UGM Dorong Produk Lokal Naik Kelas
Kampung Mandekman yang berada di kawasan Transmigrasi Muting memiliki potensi sayuran dan berbagai tanaman hortikultura. Potensi tersebut dinilai memiliki peluang ekonomi lebih besar apabila tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

MERAUKE — Hasil pertanian masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting tak ingin berhenti sebagai komoditas mentah. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (TEP UGM) PS014 mulai mendorong masyarakat mengubah potensi pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah melalui pengolahan, pengemasan hingga strategi pemasaran.
Langkah itu diwujudkan melalui Pelatihan Hilirisasi Produk Pertanian dalam program pemberdayaan Kembara (Kelembagaan Masyarakat Berdaya) yang digelar di Balai Kampung Mandekman, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Rabu (23/9/2026).
Pelatihan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat agar mampu mengembangkan usaha produktif berbasis potensi pertanian yang tersedia di kampung.
Kampung Mandekman yang berada di kawasan Transmigrasi Muting memiliki potensi sayuran dan berbagai tanaman hortikultura. Potensi tersebut dinilai memiliki peluang ekonomi lebih besar apabila tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Wakil Ketua sekaligus Koordinator Lapangan TEP UGM PS014, M. Yusril Mirza, mengatakan Program Kembara dirancang untuk mendorong kemajuan ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan kelembagaan masyarakat sekaligus setiap anggotanya.

“Harapan dengan adanya Program Kembara ini, kita bisa menginisiasi kemajuan dari segi ekonomi. Manfaatnya tidak hanya bagi kelembagaan masyarakat, tetapi juga individu yang ada di dalamnya melalui pelatihan dan pendampingan yang dilakukan dalam program ini,” ujarnya.
Pelatihan mengusung tema “Strategi Membangun Inisiasi Produk Kewirausahaan bagi Kelembagaan Berbasis Hasil Pertanian.”
Materi yang diberikan meliputi identifikasi bahan baku lokal, pengolahan sederhana, teknik pengemasan hingga strategi pemasaran dengan mempertimbangkan kebutuhan konsumen.
Puluhan peserta dari berbagai unsur kelembagaan di Kampung Mandekman ikut terlibat. Di antaranya Muslimat, PKK, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kelompok Gereja Katolik serta Pesantren Al Munawwaroh Mandekman.
Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi untuk merancang sekaligus mengembangkan produk yang sesuai dengan sumber daya lokal.
Untuk memperkuat materi, TEP UGM menghadirkan akademisi Program Studi Agribisnis Universitas Musamus sebagai narasumber, yakni Dr. Maria Maghdalena S.Si., M.Si., Nina Maksimiliana Ginting, S.P., M.P., dan Febri Nur Pramudya, S.P., M.Si.
Dari Pelatihan ke Pendampingan
Program Kembara tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Setelah pembekalan, peserta direncanakan mengikuti pendampingan inisiasi produk kelembagaan sepanjang September hingga November 2026.
Pendampingan tersebut ditujukan untuk mengaktifkan kelembagaan masyarakat, membangun kemandirian dalam mengembangkan ide program produktif serta memperkuat ekonomi kelembagaan melalui produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Tahapan akhir program akan ditandai dengan kegiatan Mini Expo Inovasi Produk Kampung.
Forum tersebut nantinya menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai inovasi produk yang dikembangkan selama program sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi berbasis kelembagaan masyarakat.
Kepala Distrik Ulilin, Junaidi, S.IP., M.A.P., menyampaikan apresiasi atas kehadiran TEP UGM di wilayahnya.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus pemerintah distrik dalam mengembangkan kawasan transmigrasi.
“Kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Tim Ekspedisi Patriot dari UGM. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kawasan transmigrasi, khususnya di Distrik Ulilin. Semoga program yang dilaksanakan membawa manfaat positif bagi masyarakat dan pemerintah Distrik Ulilin,” ungkapnya.
Dukungan terhadap penguatan kelembagaan masyarakat juga disampaikan Kapolsek Muting, IPTU Melkianus Bunga, S.H., M.H.
Ia menilai kelompok-kelompok masyarakat perlu diarahkan agar tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga mampu menghasilkan kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.
“Kelembagaan masyarakat yang ada di dalam kampung, selama ini hanya dibentuk sebagai ajang berkumpul saja. Harapannya setelah diberikan wawasan, dapat mengangkat ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat Berharap Ada Dampak Nyata
Dari kalangan peserta, Siti Lainah menyambut positif pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, kehadiran TEP UGM dan para narasumber memberikan kesempatan bagi masyarakat memperluas wawasan dalam mengembangkan potensi daerah.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas kehadiran Tim Ekspedisi Patriot ke Kawasan Transmigrasi Muting ini. Kehadiran para narasumber dapat membuka wawasan kami untuk meningkatkan kualitas daerah secara berkelanjutan. Semoga ilmu dan keterampilan dari program pemberdayaan ekonomi ini dapat kami jaga dan terapkan,” tuturnya.
Harapan serupa disampaikan Yuliana Alimo Mahuse. Ia mengapresiasi kedatangan UGM ke Kampung Mandekman dan berharap program tersebut memberikan dampak terhadap kemajuan kehidupan masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada UGM karena sudah datang di Kampung Mandekman. Kami berharap ke depannya ada dampak kemajuan bagi kami,” katanya.
Program Kembara sejalan dengan arah pembangunan transmigrasi yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan kawasan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan transmigrasi tidak semata-mata diukur dari pembangunan permukiman, tetapi dari kemampuan kawasan tersebut berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui Program Kembara, TEP UGM PS014 berupaya menerjemahkan gagasan tersebut di tingkat kampung dengan mendorong kelembagaan masyarakat menjadi penggerak aktivitas ekonomi.
Pelatihan, pendampingan dan pengembangan produk diharapkan tidak hanya menghasilkan keterampilan baru, tetapi juga membangun kerja sama antarkelompok dan membuka sumber pendapatan baru dari potensi yang selama ini tersedia di kawasan.
Dengan demikian, sayuran dan hasil hortikultura dari Kampung Mandekman tidak sekadar keluar dari lahan sebagai bahan mentah, tetapi dapat kembali ke masyarakat dalam bentuk produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan peluang pasar yang lebih luas. (ppn)
Bagikan artikel ini



