NABIRE - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Nabire berkomitmen untuk terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui peningkatan keterampilan kerja. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menyalurkan bantuan paket peralatan pembuatan kue kepada para peserta pelatihan tata boga. Bantuan ini diharapkan mampu menjadi bekal awal bagi warga untuk membuka usaha mandiri di rumah.

Penyaluran alat penunjang usaha tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakertrans Nabire, Tience Pigome, S.Sos., usai kegiatan pelatihan di Aula SMK Negeri 2 Nabire, Sabtu (8/11/2026). Menurutnya, pelatihan yang diberikan tidak sekadar berhenti pada teori, melainkan harus berlanjut menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

“Jadi, setelah dari pelatihan ini kami bagikan alat supaya mereka lanjut dan tidak berhenti sampai di sini,” ujar Tience Pigome saat memberikan keterangan kepada media.

Paket bantuan yang diserahkan meliputi berbagai peralatan penunjang produksi kuliner berkualitas tinggi, mulai dari kompor dan oven merek Hock, timbangan digital, mixer Philips, blender, hingga berbagai ukuran mangkok takar serta baskom stainless. Peralatan tersebut dipilih secara khusus agar para peserta dapat memproduksi roti dan kue dengan standar mutu layaknya toko roti profesional.

Tience menjelaskan, beberapa peserta pelatihan sebenarnya telah memiliki pengalaman dasar berwirausaha, seperti berjualan donat atau roti skala rumahan. Namun, produk yang mereka hasilkan sebelumnya memiliki daya tahan yang singkat. Melalui materi dan teknik baru yang diajarkan selama pelatihan, kualitas produk peserta kini mengalami peningkatan signifikan.

"Sehingga roti yang mereka latihan di sini, belajar di sini itu sama dengan roti bakery, bisa awet tiga sampai empat hari. Jadi sama dengan toko yang ada di Hadi, seperti itu, jadi ada saya lihat mereka ada kemauan," kata Tience.

Kendati demikian, pihak Disnakertrans mengakui bahwa para pelaku usaha pemula ini masih menghadapi sejumlah tantangan klasik di lapangan, khususnya terkait permodalan, ketersediaan tempat usaha, serta strategi pemasaran produk. Untuk mengatasi kendala pemasaran, dinas berencana membuka ruang koordinasi bagi para peserta yang ingin berkonsultasi atau melaporkan perkembangan usahanya.

Terkait dengan aspirasi peserta mengenai ketiadaan uang saku atau uang transportasi pada tahun anggaran ini, Tience memberikan penjelasan terbuka. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan berasal dari keputusan internal dinas, melainkan penyesuaian dari sistem pusat yang mengalihkan alokasi anggaran secara ketat ke arah pengadaan sarana alat dan pelatihan fisik.

Ia pun tidak menampik perasaan kecewanya terhadap kebijakan tersebut, mengingat para peserta pelatihan sebagian besar merupakan pencari kerja yang sangat membutuhkan stimulus finansial sebagai penggerak awal usaha. Walaupun demikian, pihaknya tetap berupaya memberikan pemahaman kepada para peserta agar tetap fokus memanfaatkan keterampilan yang telah diperoleh.

Melalui program ini, Disnakertrans Nabire berharap para kaum ibu dan pencari kerja yang telah dilatih dapat memanfaatkan fasilitas peralatan secara optimal guna mendongkrak perekonomian keluarga. Dinas juga membuka pintu bagi paraalumni pelatihan untuk melapor secara berkala agar pendampingan lanjutan serta akses penghubung ke sektor permodalan dapat terfasilitasi dengan baik. (sam)