Transportasi Kendala Utama Guru di Sekolah Ujung Barat Nabire
NABIRE - Dalam konsep pembangunan selalu dikatakan semuanya bermula dari pendidikan, namun kenyataan Pendidikan Dasar (SD) dipinggiran sepertinya kurang adanya perhatian dari pemerintah kabupaten, sehingga SD-SD pinggiran dapat dinilai tidak maksimal dijalankan oleh para gu
Bagikan
NABIRE - Dalam konsep pembangunan selalu dikatakan semuanya bermula dari pendidikan, namun kenyataan Pendidikan Dasar (SD) dipinggiran sepertinya kurang adanya perhatian dari pemerintah kabupaten, sehingga SD-SD pinggiran dapat dinilai tidak maksimal dijalankan oleh para guru, sementara pemerintah daerah tidak melihat apa yang menjadi kebutuhan utama bagi guru yang bertugas di SD-SD pinggiran.
Untuk itu, Kepala SD Inpres Yeretuar Oscar Sipa, secara tegas mengatakan keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di SD-SD pinggiran bukan saja ditentukan oleh gedung yang mewah dan kehadiran guru di tempat tugas, akan tetapi juga ditentukan oleh fasilitas transportasi angkutan laut berupa Jhonzon.Karena, menurutnya, rata-rata para guru yang bertugas di ujung barat Nabire atau tepatnya di Distrik Teluk Umar, sangat sulit akan transportasi, sehingga kami selalu menumpang di perahu masyarakat yang akan turun ke kota dan juga perahu masyarakat yang akan pulang ke kampung. Untuk itu, Dinas Pendidikan diharapkan dapat melihat hal ini secara baik.Dikatakan Kepsek SD Inpres Yeretuar Oscar, kepada Papuapos Nabire Senin (13/2), di seputar Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, kami tidak ingin pihak dinas beli motor yang banyak bagi semua sekolah, akan tetapi dibelikan satu motor Jhonzon 40 Pk untuk 4 SD dan satu SMP Negeri1 Teluk Umar yang digunakan bersama-sama.Sebab, dengan menggantungkan fasilitas transportasi pada masyarakat, kami datang di kota untuk mengurus gaji, jatah dan kenaikan pangkat selalu tergantung sama angkutan masyarakat, sehingga untuk kembali ke tempat tugas juga harus menunggu perahu atau angkutan masyarakat yang tentunya dibayar dengan biaya yang cukup mahal.Dan yang lebih menyakitkan lagi, keluh Oscar, saat ini kami melihat Puskesmas Yeretuar yang berdampingan dengan SD Inpres Yeretuar telah memiliki fasilitas angkutan yang memadai hingga alat penerang (lampu genset), namun kami para guru hanya bisa pakai pelita di waktu malam dan ketika hendak ke kota atau kembali ke tempat tugas hanya bisa menumpang di perahu jhonzon milik masyarakat. (des)
Bagikan artikel ini



