Tonggak Sejarah Baru: Festival Media Perdana di Papua Tengah Resmi Digelar

NABIRE - Sebuah peristiwa bersejarah bagi dunia pers di Bumi Cenderawasih Papua resmi dimulai hari ini di Kota Nabire. Festival Media (Fesmed) se-Tanah Papua Raya yang pertama kali digelar dalam sejarah, menempatkan Provinsi Papua Tengah sebagai tuan rumah sekaligus pelopor gerakan konsolidasi insan pers regional.
Momen besar ini lahir dari sebuah peristiwa yang tidak terduga, namun sangat menentukan. Segalanya bermula dari satu sambungan telepon singkat antara Ketua Asosiasi Wartawan Papua (AWP) Pusat, Elisa Sekenyap, kepada Abeth You yang saat itu sedang berada di tengah diskusi penting.
Kala telepon itu berdering, Abeth Youw ternyata sedang duduk bersama Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, di kediaman gubernur. Tanpa ada protokol rumit atau birokrasi yang berbelit, gagasan besar untuk menyelenggarakan festival media ini langsung disampaikan secara lisan di hadapan pimpinan daerah tersebut.
Mendengar rencana tersebut, Gubernur Meki Nawipa merespons dengan cepat dan penuh komitmen. Ia langsung menyatakan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Papua Tengah agar Nabire menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh jurnalis dari berbagai penjuru tanah Papua.
Keputusan spontan, namun strategis itu menjadi landasan kuat bagi pelaksanaan Fesmed yang berlangsung selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Januari 2026. Kehadiran para jurnalis dari berbagai wilayah Papua Raya di Nabire menandakan soliditas luar biasa di tengah tantangan profesi yang kian kompleks.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Panitia Fesmed, Abeth You, mengungkapkan rasa harunya atas kepercayaan yang diberikan. Baginya, terselenggaranya acara ini merupakan bukti nyata adanya sinergi yang harmonis antara insan pers dan pemerintah daerah di Papua Tengah.
Abeth menekankan, dukungan dari Gubernur Meki Nawipa dan seluruh Forkopimda bukan sekadar bantuan administratif, melainkan bentuk pengakuan terhadap peran penting media. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah daerah melihat jurnalis sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Ketua AWP Pusat, Elisa Sekenyap, dalam kesempatan yang sama menegaskan Fesmed ini memiliki misi yang melampaui sekadar pertemuan rutin. Forum ini dirancang sebagai wadah strategis untuk mempertemukan gagasan antara media dan pemerintah dalam satu meja dialog yang inklusif.
Elisa mengingatkan kembali, media di tanah Papua memikul beban moral yang besar sebagai jembatan informasi bagi rakyat. Di tengah arus informasi yang kian cepat, jurnalis dituntut untuk tetap menjadi penjaga nurani publik serta pilar demokrasi yang kokoh di paling timur Indonesia.
Pelaksanaan Fesmed ini juga difokuskan pada penguatan kapasitas jurnalis yang seringkali bekerja di bawah tantangan geografis dan keamanan yang berat. Melalui berbagai rangkaian acara, diharapkan media lokal Papua dapat terus menghadirkan narasi yang objektif, independen dan akuntabel.
"Media harus selalu mengedepankan kepentingan publik secara bermartabat," tegas Elisa. Harapannya, kolaborasi yang terjalin dalam festival ini dapat terus berlanjut antara media dengan seluruh jajaran Forkopimda di seluruh wilayah tanah Papua demi kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan pembukaan Fesmed di Nabire ini menjadi simbol kebangkitan dan kepercayaan diri jurnalis asli Papua. Kota Nabire di jantung Papua Tengah kini telah resmi tercatat dalam sejarah sebagai titik awal gerakan transformasi pers yang lebih profesional dan terorganisir di wilayah tersebut.
Festival ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk memperbaiki kualitas informasi yang beredar di masyarakat. Dari Nabire, sejarah pers Papua kembali disuarakan dengan semangat kebersamaan, memastikan bahwa setiap berita yang lahir benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat banyak. (sam)
Bagikan artikel ini



