Esai :Muhamad Isa Almuntazar

Hari-hari menyimak perang Iran lawan Isrika (Israel Amerika) di layar hape di bulan Ramadhan sambil tadzarus baca Quran, terbersit beberapa ayat yang rasanya tak jauh dari keadaan perang ini. 

Surah Annisa 104 berbunyi : Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu merasakan penderitannya. Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui. 

Republika Islam Iran telah sampai pada kebijakan, hikmat dan konteks untuk mempedomani ayat diatas. Musuh harus merasakan sakit yang sama dirasakan oleh rakyat Iran. Kalau Iran diembargo, maka musuh juga harus diembargo. Kalau Iran tak bisa menjual setetes minyak dari Teluk Persia, maka musuh pun harus sama. Iran masih berharap Allah, sedang Israel dan Amerika tidak

Kenapa Iran selama 47 tahun diam tidak melakukan perang ini ? Tentu karena untuk dapat melakukan penutupan Selat Hormuz butuh mempersiapkan kekuatan dan memiliki alasan kuat. Mencoba menutupnya tanpa sebab kuat dan dalam keadaan Iran lemah, tentu menjadi hal yang tidak bijaksana. Mengkonversi pengayaan uranium menjadi senjata nuklir, menurut ijtihad ulama Islam Iran haram. Karena senjata itu memusnahkan dan menghancurkan segalanya. Iran mungkin baru akan membuat senjata nuklir jika pihak musuh telah menjatuhkan senjata nuklir di Iran. Karena dalam Islam tidak boleh mendahului atau pihak yang memulai perang. 

Bisa juga karena Iran sudah punya senjata plasma, yang bisa menghancurkan tentara dan senjata musuh dengan sangat mudah, tanpa menyasar masyarakat sipil. 

Alquran Surah Al Anfal ayat 60 menyinggung soal itu. Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka (musuh yang menyerang) apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi. 

Trump dan Netanyahu telah memenggal leher pemimpin Iran yang sedang kerja di kantornya. Dalam hukum Islam meja kerja Trump dan Netanyahu otomatis menjadi sah untuk jadi sasaran rudal IRGC. Netanyahu dan Trump telah menyasar terlebih dulu penduduk sipil Iran dengan harapan warga Iran marah ke Pimpinan Iran. Maka dalam keadaan yang seperti ini warga Israel dan Tentara AS di kawasan Timur Tengah otomtis menjadi sandera Trump dan Netanyahu. Dalam kondisi seperti ini sandera sah dibunuh, untuk sasaran membunuh Tramp dan Netanyahu sebagai maslahat umum yang lebih besar. Seperti ini kira-kira gambaran yang sedang terjadi di kawasan Asia Barat. Netanyahu dan Trump sendiri yang membuka gerbang perang itu. 

Lalu kenapa rudal Iran sampai ke Pangkalan militer AS di Saudi Arabia, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, kapal Induk AS ? Karena pangkalan-pangkalan militer itu yang dipakai untuk menyerang Iran. Tentu saja boleh diserang. Tetangga-tegangga berhati busuk yang selama ini menusuk dari belakang dengan belati karatan, tentu harus merasakan sakit juga. Minyak mereka akan parkir tak bisa dijual katena Selat Hormuz ditutup dan mesin kilang berhenti produksi. Pariwisata mana yang akan tumbuh kalau langit bandara dipakai main dron Shaheed. Eropa yang kemarin tertimpa kehilangan gas murah Rusia karena perang Ukraina, kini akan tertimpa dua kali ketika Hormuz dikunci. 

Yang tak pernah dipikirkan oleh Barat yaitu, bahwa dengan membunuh Imam Ali Khamenei mereka telah menghentikan seorang mujtahid yang mengharamkan uranium hasil pengayaan tak boleh dikonversi jadi senjata nuklir. Itu yang membuat sampai Imam Ali Khamenei terbunuh karena belum ada senjata nuklir. Kalau Iran sudah punya Amerika tak akan berani. Seperti sikap AS pada Korea Utara. Fatwa ini yang menunda Iran memiliki senjata nuklir. Tentu sebagai objek fiqh, sebuah situasi, kondisi dan menimbang kemaslahatan umum, fatwa bisa lain isinya melalui mujtahid yang lain. Bisa tiba-tiba sepuluh hulu ledak sudah siap. Karena punya senjata nuklir membuat musuh berpikir seribu kali untuk menyerang. Kalau ada fatwa yang memperbolehkan tak menunggu waktu lama, segera tahap pertama 100 hulu ledak siap. Tinggal satu buah untuk uji coba di pegununganpasir Alborz. Masalah Iran hanya di fatwa. 

Bisa saja mujtahid baru menetapkan persoalan baru ini dengan boleh membuat senjata nuklir hanya untuk bertahan. Hanya untuk musuh tak akan berfikir menyerang Iran. Hanya akan digunakan jika musuh membom Republik Islam Iran. Artinya sebagai Republik Islam yang berpijak pada mupakat referendum dasar Wilayatul Fiqh, segala keputusan konstitusi keluar dari pintu fatwa mujtajid. Ada 88 mujtahid besar dalam majelis Kubrigan yang mengangkat seorang Rahbar. 

Bisa jadi tidak lama lagi Iran uji coba senjata nuklir karena fatwa mujtahid sudah mempertahankan, mengingat situasi dan eskalasi. 

Dibelahan dunia Barat mana ada negara diserang musuh, rakyatnya turun ke jalan tanpa rasa takut. Republik Islam Iran punya rakyat yang seperti itu karena mereka terhubung ke masa lalu peristiwa pembantaian Imam Husein dan terhubung ke masa depan dengan kemunculan Imam Mahdi. 

Indonesia dulu pada 10 November punya rakyat yang seperti Iran sekarang. Cak Markeso mengabadikan sikap berani mati rakyat dalam syair Tali duk (ijuk) tali layangan, awak (diri) situk (hanya satu) ilang-ilangan (bayangan tak betul eksis tanpa eksistensi Tuhan). Tidak tahu Indonesia sekarang masih punya rakyat seperti itu atau sudah tidak lagi, Rakyat Indonesia sudah berulang-ulang ditipu pejabat korup yang mau enaknya sendiri saja. 

Netanyahu dan Trump sudah terlanjur menabuh genderang perang. Dan hukum dalam peperangan adalah hukum darurat. 

"...Apabila kamu bertemu dengan musuh orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah/tebaslah batang leher mereka..." (QS. Muhammad: 4)

Dulu bangsa Arab menjadi pilar utama Islam, memenangkan peperangan bersama Nabi Muhamad. Keberanian dan ke pendekatan bangsa Arab dulu terpatri di syair-syair Arab yang gemilang. Tapi tidak hati ini. Arab hari ini telah munafik. Hidup di ketiak musuh Islam. Perspektif eskatologis ini sedang terjadi hari ini. Pangkalan militer musuh ada di negara-negara Arab, membunuh pemimpin Republik Islam Iran. 

Ayat itu berkata. Ingatlah bahwa kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Padahal, siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang fakir. Jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan (durhaka) sepertimu. Kekuasaan Arab dengan belasan negara berpihak di Zionis. Tuhan sudah tidak memakai mereka lagi. Syair yang indah ketika bangsa Arab jaya bersama nabinya sudah tak ada lagi. Tuhan telah menggantikan dengan Bangsa Persia yang tak akan menghianati Allah dan Rasul Nya seperti bangsa Arab. Orang Arab yang sekarang bergabung Republik Islam Iran sifatnya hanya milisi. Arab mainstream hari ini bersama Zionis.