Esai : Abdul Munib*

Masyarakat hukum adat di Kasepuhan Ciptagelar yang berada di pedalaman Gunung Halimun-Salak dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat dan tradisi yang bersandar pada budaya pertanian, khususnya padi. Melalui pendekatan berbasis kearifan lokal, Kasepuhan Ciptagelar juga telah berhasil mewujudkan ketahanan pangan. Stok gabah yang dimiliki bahkan cukup untuk pasokan hingga 6 tahun atau 7 tahun.

Pemimpin Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi menyampaikan, selama ini warga Kasepuhan Ciptagela tetap mempertahankan cara tradisional dalam menanam padi karena dinilai lebih efektif. Benih yang digunakan juga berberda-beda, sehingga membuat gabah yang disimpan di lumbung padi (Leuit) bisa bertahan lama hingga 20-50 tahun.

"Secara turun temurun kita diwarisi oleh leluhur untuk menanam padi secara tradisional. Kurang lebih ada sekitar 168 varietas padi yang disebar abah ke warga. Masing-masing padi itu diregenerasikan, jadi berbeda dari yang umum. Diperlakukannya juga secara alami dan tradisional tanpa bahan kimia, jadi kalau disimpan di lumbung padi bisa bertahan lama," kata Abah Ugi saat ditemui di Kasepuhan Ciptagelar.

Karena bibit yang digunakan berbeda, masa panen berlangsung lebih lama hingga 7 bulan. "Kalau di tempat lain itu 2-3 bulan sudah bisa panen, di sini harus nunggu 7 bulan dulu baru bisa panen. Ini yang membuat gabah yang dipanen lebih tahan lama," ungkap Abah Ugi.

Pola bertani masyarakat Kasepuhan Ciptageler juga berpatokan pada rasi bintang. Bertani mengikuti tanda dan simbol langit lewat bintang Kerti dan Kidang. Dengan mengikuti pola ini, bertani padi tidak akan gagal panen karena cuaca atupun gagal karena serangan hama. Semua dalam semesta, baik tanaan, hama atau cuasa ada siklusnya yang sudah difahami oleh yang dinamakan kearifan lokal karuhun (tetua) nusantara.

"Di sini stok gabah yang tersedia melimpah. Gabah yang disimpan di lumbung-lumbung padi cukup untuk memenuhi pasokan 5-6 tahun," ungkap Abah Ugi.

Secara administratif, saat ini Kasepuhan Ciptagelar berada di wilayah dusun Sukamulya, Dasa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Waga Kasepuhan Ciptagelar yang berjumlah sekitar 30.000 orang saat ini tersebar di 568 kampung. Berdasarkan catatan yang ada, Kasepuhan Ciptagelar mulai berdiri pada 1368 dan telah beberapa kali mengalami perubahan kepemimpinan yang dilakukan secara turun temurun. Suku Baduy Dalam di Provinsi Banten juga tak jauh beda dalam memperlakukan ketahanan pangan untuk keluarga mereka.

Kini pemerintah Presiden Prabowo sedang menggalakkan program ketahanan pangan. Menteri Amran dengan Bulognya membeli gabah basah dengan harga Rp 650 ribu per kwintal. Petani gembira, dengan kebijakan penguncian harga ini mereka bisa menjual padi kering giling dengan harga bisa 800 ribu perkintal. "Tidak salah kemarin Pilpres saya pilih Prabowo," ujar Hendi, seorang Petani dari Desa Tiwulandu, Brebes, Jateng. Katanya, baru kali ini saya panen pas harga gabah tinggi. Biasanya kalau panen raya harga jatuh sampai tembus di empat ratus ribu perkwintal untul gabah kering giling.

Pengalihan anggaran perberasan tahun ini bisa berbuntut panjang. Dana yang semula disiapkan untuk penyaluran beras di hilir dialihkan ke penyerapan di hulu. Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PEPI) , Khudori, mengatakan, kebijakan tersebut akan berdampak pada tugas Perum Bulog untuk menyerap 3 juta ton gabah di tingkat petani.

Menurutnya, penyerapan 3 juta ton gabah dapat dijalankan relatif baik, bahkan memecahkan rekor stok beras terbesar sepanjang sejarah. Namun pengalihan anggaran itu menimbulkan masalah baru. Beras berpotensi menumpuk di gudang karena tak ada kepastian penyaluran.

Hingga 29 Agustus 2025, stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog mencapai 3,9 juta ton. Jika target penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1,3 juta ton, serta bantuan pangan 366.000 ton benar-benar tersalurkan hingga Desember, stok akhir tahun Bulog masih akan tersisa 2,684 juta ton.

Jumlah itu jauh lebih besar dibanding 11 tahun terakhir, di mana rekor sebelumnya pada 2018 hanya 2 juta ton. Khudori menyebut kondisi ini menimbulkan konsekuensi berat. Stok beras yang menumpuk berisiko turun mutu, bahkan rusak.

Apalagi ratusan ribu ton di antaranya merupakan beras impor 2024 yang sudah berusia lebih dari setahun. Jika tak segera tersalurkan, usianya akan bertambah di tahun depan. “Bagi Bulog, stok beras akhir tahun yang besar akan menimbulkan konsekuensi tidak mudah. Selain ada risiko turun volume, beras juga berpotensi turun mutu dan bahkan rusak. Risiko ini muncul karena dari 3,9 juta ton yang ada di gudang Bulog saat ini ada ratusan ribu ton beras berusia lebih setahun. Sebagian besar sisa impor 2024,” ujar Khudori.

“Bisakah dipastikan beras berusia tua itu tersalurkan semua di tahun ini jika penyaluran kecil ? Jika beras tua tidak tersalurkan semua tahun ini, usianya akan bertambah di awal tahun depan. Bagaimana kualitas beras itu nantinya?“ tanyanya.

Dari sisi masyarakat, penumpukan beras di gudang Bulog justru membuat harga di pasar tidak terkendali. Kenaikan harga gabah dari Rp 6.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 6.500 per kg sejak April 2025 memicu lonjakan harga beras yang berlangsung hingga Agustus. Intervensi pemerintah baru dilakukan pertengahan Juli melalui operasi pasar dan bantuan pangan 10 kg untuk 18,3 juta keluarga. Namun langkah itu dinilai terlambat, sehingga beras tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar selama tujuh dari delapan bulan pertama tahun ini.

Masalah utama ada pada anggaran. Khudori mengatakan, dana Rp 16,6 triliun yang disiapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sejak akhir 2024 awalnya untuk operasi pasar SPHP dan bantuan pangan. Namun, melalui rapat koordinasi terbatas, alokasi ini digeser untuk penyerapan beras oleh Bulog. Sementara itu, skema penyerapan sebenarnya bisa dijalankan dengan pinjaman bank yang bunganya ditanggung pemerintah, sebagaimana sudah dilakukan pada 2023 - 2024.

Sebelum Indonesia berdiri tahun 1945, masyarakat Nusantara sudah lama dalam budaya pertanian organik yang tertata rapi. Rezimlah yang kemudian menghapus pertanian organik diganti pertanian kimia. Leluhur nusantara sudah sejak dulu menyimpan gabah dalam tangkainya. Persis sama dengan anjuran Tuhan dalam Al Quran surat Yusuf ayat 47. Yang berbunyi : Yusuf berkata, “Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut. Kemudian apa yang kamu tuai ketika kalian panen, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Keluhan Khidori tidak akan terjadi kalau, urusan Perberasan kita mengikuti kearifan lokal dan didikan Tuhan. Bahwa ketahanan pangan itu setidaknya untuk orientasi jangka waktu minimal tujuh tahun.

Menghadapi persoalan ini tak bisa hanya dipikul oleh struktur dan rezim. Melainkan harus diletakkan kembali pada tradisi kearifan lokal leluhur nusantara yang dilestarikan pada budaya ketahanan pangan Kampung-kampung Ciptagelar. Demikian surat terbukan untuk Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

*Esais adalah Penjab Papuapos Nabire dan Papuapos TV