JAYAPURA – Tokoh gerakan pembangunan ‘Odaa Owaada’ atau spritualitas adat istiadat Suku Mee, Paniai, Manfred Ch. Mote (52) dikabarkan telah meninggal dunia di kediamaannya Kampung Pinii Waghete, Deiyai, Selasa, (27/09/2016) dini hari akibat sakit yang diderita kurang lebih setahun belakangan ini. Manfred yang telah menyelesaikan kuliah pada STFT Fajar Timur Jayapura tahun 1987 itu rencanakan akan dimakamkan, Kamis, (28/09) di kampung halamannya sesuai permintaannya semasa hidup.“Ya, bapak sudah meninggal dunia karena sakit. Untuk pemakaman kami sedang menunggu anak perempuan Gustaviana dari Manado,” kata istrinya, Anastasia You Mote kepada awak media per selular, Rabu, (28/09/2016).Manfred adalah Ketua Tim Monitor Gerakan Pembangunan Komunitas Basis (Kombas) Odaa Owaada di wilayah dekenat Paniai, Keuskupan Timika sejak tahun 2001 hingga sekarang. Ide dibuat program Musyawarah Pastoral Mee (Muspasmee) di dekenat Paniai adalah berawal dari alumni SMA Gabungan Jayapura ini di Enarotali, dimana dirinya melihat Suku Mee harus hidup mandiri di era global ini.Almarhum yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Deiyai ini pernah mencanangkan tiga konsep dasar bagi Suku Mee, pertama adalah bagaimana cara hidup suku Mee yang baik dan benar melalui Tuhan Allah (Touye) dalam rangka menuju peradaban baru. Kedua, membangun orang Mee dari Makataka hingga Kegata harus bersatu melalui pekarangan Odaa Owaada dan ketiga adalah menjadikn adat istiadat (tarian) suku Mee harus bersaing dengan suku bangsa lain.Rekan PNS Deiyai, Irenius Adii mengatakan, Manfred Ch. Mote adalah seorang ahli psikolog dan antropolog suku Mee yang memiliki kemampuan sendiri, melahirkan ide dan tidak berubah pikiran. “Saudaraku Manfred Mote adalah orang pintar. Ia telah memberikan banyak pelajaran di gereja Katolik maupun Kingmi, bagaimana cara melestarikan budaya untuk memuliakan sang Touye (Tuhan Allah),” ungkap Irenius Adii.Manfred, salah satu doktor budaya Mee yang diberikan suku Mee yang rendah hati. Selain itu, ia juga telah menulis beberapa buku kehidupan suku Mee, di antaranya Touye, cerita rakyat suku Mee dan lainnya. Almarhum juga pendiri Sekolah Tinggi Katolik (STK) Touye Paapa di Deiyai sekaligus sebagai ketua yayasan kampus tersebut. Ia meninggalkan satu istri dan tiga orang anak. (AB)