NABIRE - Masalah Covid-19 yang melanda dunia, juga diangkat dalam salah satu tema pada Debat Terbuka II Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Nabire tahun 2020 yang berlangsung, Kamis (19/11), di Auditorium RRI Nabire.

Dalam Debat Terbuka II yang juga merupakan debat terakhir para Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Calon Wakil Bupati Nabire tahun 2020, Paslon juga harus mempunyai solusi atau ide dalam memerangi Covid-19 di Kabupaten Nabire melalui Tema “Strategi Penanganan Covid -19”.

  Pertanyaan yang diajukan panelis kepada Paslon nomor urut 3, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si dan Tabroni Bin M. Cahya (FRANSBRO), perjuangan melawan Covid-19 di Kabupaten Nabire memerlukan dukungan semua pihak.

  Peran tenaga kesehatan menempati posisi kunci dalam upaya memberikan layanan kesehatan secara optimal kepada masyarakat yang membutuhkan dalam masa pandemi ini, walaupun dalam resiko tinggi terpapar Covid-19.

  Pertanyaannya, apa yang akan Anda (FRANSBRO, red) lakukan untuk mensuport para tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan di masa Pandemi Covid–19 di daerah ini apabila Anda terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Nabire.

  Dijawab Cabup Paslon nomor urut 3, Frans Mote, Covid-19 ini merupakan masalah dunia juga masalah nasional.

  Dan untuk masalah penanganan Covid ini sudah ada ketentuan nasional, seperti sekarang sedang dilaksanakan “New Normal”.

  Tetapi kenapa Nabire masih tutup dan tidak ada penumpang atau orang yang masuk ke Nabire, padahal di kabupaten-kabupaten lain sudah bisa.

Ada keterbukan informasi atau keterbukaan terhadap komunikasi dan juga keterbukaan masuknya orang di, terutama di laut.

  Di seluruh Indonesia sudah bisa, kecuali penanganannya dilaksanakan dengan ketentuan yang ada di setiap daerah itu baik, tapi kalau nasional mengatakan New Normal maka di Papua juga harus New Normal.

  Karena kita sedang dihitung oleh negara, juga sedang dihitung oleh provinsi dan sedang dihitung oleh kabupaten.

  “Kami juga bersyukur punya bupati yang sudah mengeluarkan aturan yang membuat masyarakat untuk patuh terhadap aturan yang mana ada pelanggaran mendapatkan denda dan seterusnya, itu baik.

Namun, keterbukaan informasi dengan ketentuan yang berlaku secara nasional harus diterapkan di Nabire, apalagi menjelang Natal, masyarakat juga membutuhkan transportasi yang cukup untuk mengembangkan diri atau pulang ke kabupaten masing-masing atau pulang kemana saja, dan Nabire harus terbuka untuk umum sesuai dengan ketentuan yang berlaku secara nasional,” katanya. 

Sementara itu, menyambung dari calon bupatinya, calon wakil bupati nomor urut 3, Tabroni Bin M. Cahya mengatakan, penanganan Covid ini kalau memang dalam pemikiran kami pasangan FRANSBRO itu ada dua.

  Yang pertama bagaimana penyelematan orangnya, tidak boleh terkena dampak Covid.

Berarti, harus mengikuti protokol kesehatan.

Yang kedua, orangnya juga harus aman, aman dalam artian mereka harus diperhatikan.

  Kalau tidak ada perputaran uang, tidak ada ekonomi berkembang lalu mereka bagaimana bisa makan, ini juga diperhatikan.

  “Ketika kami kedepan terpilih, ini harus kami menstimulus, apalagi program pemerintah pusat contohnya memberikan kebijakan bagaimana di tiap kampung, bagaimana dana-dana bantuan, tapi yang yang menjadi persoalan saya kemana-mana banyak mendengar, bahkan dana bantuan ini disunat, ini yang menurut saya sangat saya sesalkan,” ungkap Tabroni.

“Bahkan juga, mantrinya juga honornya juga disunat ini persoalan, jadi kedepan disamping kita memperkuat soal protokol kesehatan ini wajib, tadi soal penegakan hukumnya juga baik, tetapi lebih kepada sosialisasi, agar masyarakat juga lebih paham.

Misalnya pemerintah keras, ini juga tentu bagian daripada kewajiban negara untuk melindungi segenap tumpah darah masyarakat di seluruh Indonesia termasuk yang ada di Nabire.

Dan kepada para medis, akan diberi perhatian,” tutup Tabroni.

  Sementara itu, Paslon nomor urut 1, Yufinia Mote, S.SiT dan H. Muhammad Darwis (YUDA) ditanya seputar pada tahun 2020 Covid-19 menjadi masalah kesehatan global yang kemudian menjadi pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO pada tanggal 11 Maret 2020, Covid-19 menyebar hampir di berbagai seluruh negara Indonesia sampai di Nabire, Papua.

Strategi pemerintah atasi Covid-19 adalah satu, mencuci tangan pakai sabun, dua menjaga jarak, tiga memakai masker, empat menghindari kerumunan dan lima menjaga kesehatan diri di rumah.

Kita bisa lindungi diri kita, keluarga kita, tetangga kita, dan bangsa kita. 

Pertanyaannya, Covid-19, bila Anda terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire, mohon jelaskan kepada rakyat pemilih.

Pertanyaan tersebut dijawab langsung secara tegas oleh Cabup nomor urut 1, Yufinia Mote, S.SiT, dimana dirinya mengatakan, yang pertama kami (YUDA, red) berharap setelah kami jadi Bupati, Covid sudah tidak ada lagi di Nabire.

Yang berikut, yang akan kami kerjakan kedepan, yang pertama kami akan meninjau kembali atau mengevaluasi kembali situasi Covid yang ada di Kabupaten Nabire, baik penyakitnya itu sendiri, maupun manajemen atau apa yang selama ini dikerjakan oleh Satgas Covid maupun mereka yang terlibat di dalam penangan Covid itu sendiri.

  Kemudian, lanjutnya, yang ingin kami kerjakan selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi yang sudah kami dapatkan nanti, yang pertama yaitu memaksimalkan semua petugas kesehatan dimanapun mereka berada, terutama yang ada di daerah-daerah Puskesmas-Puskesmas.

Karena, tugas mereka adalah menjaga masyarakat supaya tidak boleh sakit yaitu dengan mengutamakan sosialisasi terhadap seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Nabire, khususnya yang ada di masing-masing wilayah kerja Puskesmas.

Apa yang harus dibuat oleh masyarakat, sehingga tidak mudah terinfeksi atau terkena Covid, yaitu dengan penyuluhan-penyuluhan termasuk tadi mencuci tangan atau 3M, mencuci tangan meggunakan Masker, menjaga jarak dan juga menghindari keramaian.

  “Ini yang ingin kami kerjakan kedepan dan Puskesmas sebagai ujung tombak menjaga masyarakatnya agar tidak boleh sakit, kemudian bagi yang sudah terinfeksi Covid yang OTG ditempatkan sendiri, atau di penampungan sendiri dan ini yang kami harapkan harus ada penampungan untuk mereka.

Kemudian, yang layak untuk tinggal di rumah ya bisa tinggal di rumah, tetapi rumah yang layak untuk bisa tinggal dengan keluarga.

Kemudian bagi mereka yang sudah terinfeksi dan sakit, ya ini jelas harus dirawat di rumah sakit,” terang Yufinia.

   “Yang jelas di rumah sakit harus ada ruang tersendiri, atau ruang isolasi dan mereka disana bukan hanya diisolasikan atau dibiarkan begitu, tetapi harus ada penanganan yang serius karena Corona ini ketika ditangani dengan baik, maka bisa sembuh.

Sehingga, layanan-layanan ini yang ingin kami kerjakan kedepan dan setelah evaluasi kami akan melihat kebutuhan apa yang kita butuhkan, satu bulan berapa pasien Corona yang ditangani, berapa banyak alat yang digunakan sehingga dalam penganggaran, dalam menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penanganan Covid ini bisa tepat, bisa sesuai dengan sasarannya.

Karena, sesuai dengan hasil evaluasi yang sudah di dapati,” pungkas Yufinia. 

Selanjutnya, masih dalam tema yang sama yakni, “Strategi Penanganan Covid-19” di Nabire, Paslon nomor urut 2, Mesak Magai, S.Sos.,M.Si dan Ismail Djamaluddin (MESI) dimana panelis mengajukan pertanyaan bahwa dalam rangka menghadapi Covid-19 Pemerintah Kabupaten Nabire selain melakukan penanganan kesehatan, juga memberikan bantuan sosial ekonomi kepada masyarakat terdampak, total realisasi dana pengangan Covid-19 per 31 Oktober 2020 mencapai 40 milyar lebih, terbagi untuk penanganan kesehatan 24 milyar lebih atau 61 %, penanganan dampak ekonomi 2 milyar lebih atau 7 % dan untuk bantuan jaring pengaman sosial 12 milyar lebih atau 32 %.

   Pertanyaannya, bagaimana kebijakan Anda terkait degan anggaran penanganan Covid-19 dan program prioritas apa yang akan Anda lakukan utuk menangani Covid-19 di Kabupaten Nabire dengan mempertimbangkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

  Calon bupati nomor urut 2, Mesak Magai menjawab, sampai hari ini (Kamis 19/11 red) komulatif 367 kasus, yang sembuh 284 dan meninggal 11 kasus.

Maka pada kesempatan yang berbahagia ini saya pasangan nomor urut 2 beserta tim turut berduka cita atas meninggalnya 11 orang karena Covid-19.

Untuk tangani persoalan Covid ini saya pikir bahwa ada landasan hukumnya, untuk kita menganggarkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 yaitu Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2020, Kemudian Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2020, Surat Edaran Gubernur Papua Nomor 440 Tahun 2020 ini juga menjadi landasan hukum, sehingga kebijakan di dalam APBD Kabupaten Nabire kita alokasikan untuk mengatasi Covid-19.

  “Tetapi, kami sampaikan bahwa untuk mengatasi Covid–19 kita berawal dari pribadi kita masing-masing.

Maka, kita mengedepankan sosialiasi kepada masyarakat Kabupaten Nabire, untuk jaga jarak, untuk cuci tangan dan pakai masker.

Itu mengedepankan, sehingga kebijakan anggaran ini tepat pada sasaran maka kepada tenaga medis, kepada masyarakat yang kena covid, ini kita mengatasi sehingga Kabupaten Nabire ini untuk kasus Covid ini kita kurangi,” ujarnya.

“Saya pikir, selama ini mejadi pengalaman, sehingga masyarakat ini sudah mulai terbiasa untuk jaga jarak, pakai masker bahkan juga kerumunan di dalam tempat-tempat keramaian, sehingga ketika kami kedepan pendekatan kepada masyarakat, sosialisasi kepada masyarakat, saya pikir masyarakat akan mengetahui dengan baik, sehingga Covid -19 di Kabupaten Nabire ini akan teratasi,” tutupnya.  

Sementara itu, calon wakil bupati nomor urut 2, Ismail Djamaluddin mengatakan, terkait Covid-19 saya berharap pemerintah bersama jajarannya untuk tetap menahan diri, untuk tidak melakukan efek jera kepada pelaku pelanggar Covid.

Dan sebaiknya dilakukan sosialisasi, pasang di mana-mana baliho, mengajak bagaimana kita untuk menggunakan masker, menggunakan sanitizer, bagaimana kita juga menghindari kerumunan, itulah bagaimana caranya.

Jangan memberikan efek jera di tengah-tengah kesulitan ekonomi seperti ini. (cad)