Strategi Jemput Bola untuk Lansia dan Disabilitas di Nabire

NABIRE - Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Nabire, Yohanes Pigome, S.Sos., MM., MH., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan administrasi kependudukan bagi kelompok rentan. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai awak media ini di Aula Inspektorat, Selasa (14/07/2026).
Yohanes menyoroti adanya kendala mobilitas yang kerap dialami oleh kelompok Lanjut Usia (Lansia) dan penyandang disabilitas dalam mengakses layanan kependudukan. “Jadi terkait dengan stabilitas dan kelompok Lansia, ini memang ada sedikit persoalan terkait dengan mobilitas mereka,” ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Disdukcapil Kabupaten Nabire telah menyiapkan strategi pelayanan proaktif yang akan dilaksanakan setelah program saat ini berakhir. “Sehingga mungkin yang akan kita lakukan strateginya itu, setelah kegiatan Jebol (jemput bola) ini selesai, kita dari tim Dukcapil Kabupaten sendiri juga akan melaksanakan kegiatan Jebol di masing-masing distrik dan kampung yang ada,” jelasnya.
Melalui pendekatan jemput bola tersebut, Yohanes berharap seluruh masyarakat, khususnya Lansia dan penyandang disabilitas yang sebelumnya belum terjangkau, dapat segera mendapatkan pelayanan. “Sehingga mereka yang terlewatkan atau belum tersentuh, baik itu Lansia maupun penyandang disabilitas, kita bisa melaksanakan kegiatan langsung kepada mereka,” tambah Yohanes.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti permasalahan penduduk yang belum melakukan pindah domisili secara administratif meski sudah menetap lama di Nabire. “Selama ini mereka sudah bertahun-tahun belum memiliki KTP sini, mereka masih memegang KTP dari kabupaten asal. Padahal, mereka datang tinggal dan mencari penghidupan di Kabupaten Nabire,” ungkapnya.
Sebagai solusi, pihak Disdukcapil akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah asal agar proses pindah domisili dapat dilakukan lebih mudah. “Jadi mau tidak mau, kita akan melakukan pendekatan kepada mereka. Kita akan bersurat ke pimpinan di daerah asal untuk memberikan izin agar mereka bisa menambah data dalam program jemput bola ini,” tutup Yohanes. (sam)
Bagikan artikel ini



