WAROPEN – Speed Boat pembawa 23 penumpang dari pelabuhan rakyat Sanggei dengan tujuan ke Distrik Demba terbalik di perairan muara Orega Distrik Sombai, Kabupaten Waropen, Jumat (9/3) sore. Kapolres Waropen, AKBP Supraptono, S.Sos, M.Si mengungkapkan kronologi kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 Wit ketika speed boat yang membawa 23 penumpang dari pelabuhan rakyat Sanggei dengan tujuan ke Distrik Demba diterpa gelombang dan angin kencang saat berada di Perairan muara Orega Distrik Sombai. “Tujuan rombongan yang membawah para pelajar itu hendak menghadiri pemakaman salah satu rekannya yang meninggal di Distrik Demba, setelah sampai di Perairan muara Orega Distrik Sombai, sekitar 45 menit perjalanan speed boat di terpa angin kencang dan gelombang sehingga mengakibatkan speed boat yang di tumpangi rombongan terbalik dan tenggelam,” jelasnya. Sampai dengan pukul satu siang kemarin sudah 8 orang korban yang berhasil dibawah ke Waropen  dengan selamat dan satu orang telah dijemput oleh orang tuanya di muara kali Botawa dengan selamat, dan sisanya 15 orang yang telah diselamatkan oleh warga masyarakat saat lewat lokasi kejadian yang saat ini masih di Distrik Dembah. Pencarian dilakukan sejak laporan itu diterima pukul 18.00 Wit hingga menjelang pagi ditemukan 6 orang di Muara kali Botawa dalam keadaaan selamat, selanjutnya  langsung dievakuasi ke puskesmas terdekat, Minggu pagi dinyatakan pulih dan telah dijemput oleh orang tuanya, 6 orang ini berenang ke Muara Kali Botawa selama 2 setengah jam. “Kita telah melakukan pencarian kurang lebih 12 jam, bersyukur semua korban laka Laut selamat”. Tutup Kapolres Supraptono.  Sementara itu ditempat yang sama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri Urfas Heni Sulawarikar mengatakan, saat pagi anak-anak ini memberi tahu gurunya bahwa temannya meninggal di Distrik Demba, dan mereka ingin untuk pergi melayat. Namun saat diantar ke Pelabuhan Tradisional di Sanggei melihat kondisi laut tidak bersahabat, sehingga saat itu sempat menegur anak-anak untuk tidak usa berangkat, tetapi teguran itu di hiarukan dan tetap berangkat. Menurutnya, selain kondisi laut yang tidak bersahabaat, juga melihat ujian sekolah dan Ujian nasional yang telah dekat, sehingga ditegurlah anak-anak untuk tidak pergi, namun tetap untuk pergi. “Pagi mereka kasi tau bahwa temannya meninggal, saya arahkan karena kondisi laut tidak bersahabat kita tidak harus pergi, cukup memberikan sumbangan dari sekolah, tetapi saat memberikan arahan sama mereka untuk tidak pergi, langsung naik perahu dan mereka pergi, Pagi itu memang saya mau ikut tetapi karena kondisi laut, maka saya tidak mau ambil resiko,” kata Ibu Heni. Lanjut dikatakan setelah Kejadian, Ibu Heni sempat diancam oleh orang tua murid dengan membakar rumah, tetapi Puji Tuhan anak-anak semua selamat. (Afrans)