Setelah MPLS, Semua SMP/MTs Wajib Siapkan Murid Belum Lancar Calistung

NABIRE - Awal tahun Pelajaran 2026/2026 tinggal hitungan hari saja, semua sekolah di seluruh negeri ini sudah harus kembali membuka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sesuai dengan apa yang telah tertulis dalam kurikulum pendidikan di setiap satuan jenjang sekolah.
Dengan melihat awal masuk tahun pelajaran baru, Kepala Bidang (Kabid) SMP/MTs Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Selpiana Magai, S.Si, kembali mengingatkan semua sekolah SMP/MTs yang ada di wilayah Kabupaten Nabire, agar setelah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) semua sekolah wajib menyiapakan siswa/siswi baru yang belum lancar Calistung atau belum lancar membaca, menulis dan berhitung.
Sebab, berdasarkan data dan fakta di lapangan pada setiap awal tahun pelajaran, pasti ditemukan ada murid lulusan SD/Mi yang belum lancar Calistung, sehingga hal ini menjadi tugas wajib bagi guru–guru SMP/MTs untuk 3 hingga 6 bulan awal sudah membina anak-anak tersebut hingga tuntas di kelas awal agar bisa lancar Caliskatum.
Untuk itu, pada tugas awal tahun pelajaran 2026/2027 selain melaksanakan MPLS dan juga menyelesaikan data Dapodk murid baru, juga diminta untuk mendata semua murid baru yang belum lancar Caliskatum dengan catatan, tidak ada kata bosan, tetapi marilah menyelamatkan mereka yang belum lancar membaca, menulis dan menghitung.
Dikatakan Kabid SMP/MTs Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, kepada Papuapos Nabire, Kamis (9/7) di ruang kerjanya, anak yang kurang lancar Calistung hampir ditemukan pada setap awal tahun pelajaran di tingkat SMP/MTs, dengan demikian guru SMP/MTs wajib melaksanakan Calistung di tiga hingga enam bulan pada kelas awal.
Dengan melihat data dan fakta di lapangan selama beberapa tahun ini, tentunya diharapkan ada kerja sama yang baik antara orang tua, pemerintah dan masyarakat, karena pendidikan itu bukan tanggung jawab pemerintah semata, tetapi partisipasi dan dukungan orang tua serta masyarakat sangat dibutuhkan.
Karena berdasarkan pengalaman di lapangan selama ini, anak sudah dijadwalkan untuk mengikuti jam Calistung, namun saat kegiatan berlangsung tiba–tiba anak tersebut hilang dari sekolah, namun itu tidak menjadi alasan dan hambatan tugas guru mengejar Caliskatum untuk menyelamatkan anak agar punya masa depan yang lebih baik. (des)
Bagikan artikel ini



