NABIRE – Secara aklamasi atau penunjukan langsung / kembali dengan suara bulat (baca : suara 1) dan dari kesepakatan pengurus melalui komisi-komisi yang ada, Ketua Pengurus Cabang (PC), Hj. Siti Komariyah,S.Pd, kembali me-nahkodai pengurus cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Nabire. Pemilihan Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Nabire lewat Konferensi Cabang (Konfercab) ketiga tahun 2015, berlangsung Selasa (28/4) kemarin bertempat di Aula Kantor Kelurahan Bumiwonorejo Nabire ini, turut dihadiri Bupati Nabire yang diwakili Asisten II Setda, Ir. Sukadi dan Ketua Pengurus Wilayah Muslimat NU Provinsi Papua dan Papua Barat, Hj. Ramahtang, SE.,M.Si serta tamu undangan lainnya.Pantauan media ini, jalannya Konfercab III Muslimat NU Nabire sejak pembukaan hingga penutupan berlangsung aman dan lancar serta penuh kekerabatan. Di sela-sela kegiatan Konfercab, ketua terpilih Hj. Siti Komariyah mengatakan Muslimat NU adalah organisasi perempuan di bawah naungan Jami’iyah Nahdlatul Ulama, yang juga merupakan organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan yang merupakan badan otonom dari NU.Lanjutnya, seperti juga ditambahkan Ketua PW Muslimat NU Papua dan Papua Barat, Hj. Ramatang, Muslimat NU dilahirkan sekitar 69 tahun silam tepatnya pada tanggal 29 Maret 1946, yang mempunyai tujuan mengangkat harkat dan martabat Perempuan Indonesia melalui bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakat.Jelas kedua sumber ini, secara nasional saat ini Muslimat NU telah memiliki jaringan di 36 provinsi dan mempunyai 556 cabang di tingkat kabupaten/kota, 5.222 anak cabang di tingkat distrik serta lebih dari 36 ribu ranting di tingkat kelurahan. Sedangkan di tingkat kabupaten / cabang Nabire sendiri, mempunyai 7 anak cabang serta kurang lebih 21 ranting dengan jumlah anggota sesuai data kami akhir tahun 2014 kurang lebih 1.200 anggota.Lanjut Hj. Siti Komariyah, dalam sambutan dan laporannya, sebagai organisasi social keagamaan, Muslimat NU memberikan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, social keagamaan, ekonomi dan budaya. Untuk bidang pendidikan, Muslimat NU cabang Nabire telah mengelola 3 Pendidikan usia Dini (Paud), satu Taman Kanak-kanak (TK), 1 taman penitipan dan 2 taman pendidikan Al-quran.“Di bidang kesehatan khususnya di Muslimat NU cabang Nabire telah memiliki 1 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan pada bidang ekonomi Muslimat NU Nabire mempunyai Koperasi Wanita (Kopwan) Annisa. Sedangkan di bidang budaya Muslimat NU mengembangkan seni budaya islam berupa kesenian Qosidah,” ujarnya.Tambahnya, perlu juga kami sampaikan bahwa dalam rangka konferensi cabang ketiga kali ini yang sekaligus peringatan Hari Lahirnya (Harlah) Muslimat NU tahun ini, kami telah melaksanakan kegiatan santunan anak yatim dan lansia di lingkungan Muslimat NU cabang Nabire.Adapun tema Konfercab Muslimat NU tahun ini ‘Mewujudkan Perempuan Indonesia Berkualitas, Bermartabat dan Religius’. Tema ini merupakan master plan serta visi program Muslimat NU. Mengacu pada tema tersebut, imbuh Bunda Siti panggilan akrabnya, selaku Ketua Muslimat Cabang Nabire, ada 4 hal yang ingin saya tekankan kepada seluruh anggota.Pertama, tanamkan iman dan taqwa sedini mungkin kepada anak-anak kita, ajarkan untuk takut kepada Tuhan. Karena agama merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Kedua, tandasnya, dengan maraknya berita di media televise tentang pelecehan seksual terhadap anak, juga berita-berita soal organisasi radikal yang notabene mengatasnamakan Islam, kami ingatkan kepada ibu-ibu tingkatkan pengawasan terhadap anak-anak kita dan arahkan mereka kepada hal-hal positif.“Dampingi mereka pada saat menonton televise, pilihkan acara yang sesuai dengan usianya, buatlah jam wajib belajar, jam wajib mengaji dan biasakan untuk mengajak anak-anak sholat berjamaah. Jadilah ibu yang bijak dalam menghadapi permasalahan keluarga, perhatikan suami kita, jadikan rumahku/rumahmu adalah surgaku/surgamu, yang lazim disebut Baiti Jannati, agar suami kita betah di rumah. Jangan jadikan suami-suami yang takut istri,” katanya.Diakhir sambutannya, Bunda Siti kembali menitipkan pesan dengan mengatakan arus globalisasi dan derasnya kemajuan teknologi telah memperlihatkan perkembangan menakjubkan disatu sisi, namun disisi lain masyarakat Indonesia nampaknya mulai berhadapan pada benturan budaya, seolah-olah perlahan ilmu pengetahuan mengucapkan selamat tinggal pada agama. “Kehidupan manusia semakin kering akan makna spiritual, oleh karena itu Muslimat NU pada muatan ahlu sunah wal jamaah ingon mengajak kepada kita semua, untuk menempatkan agama dalam koridor keimanan yang kuat,” ungkapnya. (wan)