Esai : Abdul Munib"

Teman kerja dulu di Papua, saat setengah dekade 1990-an awal merintis harian Cenderawasih Pos namanya Yusuf. Dia bagian layout. Sosoknya penyabar disenangi semua karyawan. Tiga puluh tahun berlalu kemarin saya mampir di rumahnya di bilangan BSD (Bumi Serpong Damai). Di kompleks Katalina. Dia masih kerja Lay Out, kali ini di koran Harian Rakyat Merdeka. 

Ia menjemput saya di Stasiun Kereta Pal Merah bersama keluarganya. Malam itu mobil melewati jalanan Kantor Harian Kompas, kantor Koran Harian Jakarta Post dan kantor Majalah Tempo. Letaknya cukup berdekatan. Pemandangannya sangat sepi. Mas Yusuf juga menceritakan bahwa sekarang para redaktur di kantornya bekerja di rumah masing-masing, pasca Vovid. Juga bagian lay out. Ketika mobil melintasi kantor Graha Pena di bilangan Kebayoran tampak kantornya juga sepi. Padahal dulu ketika saya pernah ke sana kantor-kantor itu malam ramai dengan lalu lalang wartawan yang datang dan pergi. 

Pikiran saya lari ke satu tahun lalu di 2024 awal, di Nabire. Kota itu belum satu tahun baru jadi Ibu Kota Provinsi Papua Tengah hasil pemekaran. Saya memilih nginap di kantor redaksi koran Harian Papuapos Nabire. Sudah lama tidak mendengar tuts keyboard berbunyi ketika komputer dipakai ngetik atau layout. Juga suara mesin cetak koran dihidupkan dini hari. Masih melihat anak-anak melipat koran seperti seperempat abad lalu di Jayapura. Saya merasa lebih kaya dari Dahlan Iskan, Pak Bos saya dulu. Bukan soal isi kantong. Tapi soal suara mesin cetak, biar jelek tapi milik sendiri. Bukan milik Grafiti. Yang berakhir konflik seperti ditulis tiga jilid oleh Haji Bahari. 

Papuapos Nabire adalah koran harian yang saya masih bisa merasakan denyut redaksi. 

Malamnya saya ngobrol dengan wartawan-wartawan senior. Mereka minta bikin kelas jam 08.00 pagi, untuk menurunkan semua kajian tentang pers. Pertemuan hampir dua bulan lamanya itu materinya kemudian ditulis oleh Ahmad Fauzi dan disiapkan menjadi satu buku. Judulnya Tenggelamnya Industri Pers. 

Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan datang jaman digital yang membubarkan riuhnya kantor redaksi media-media besar kalau malam. Ekosistem kantor redaksi kini sudah tak ada lagi. Padahal itu bukan sekedar kantor sebuah pabrik. Tapi tempat informasih diolah sebelum disebar ke masyarakat. Dinamika, interaksi dan dialektika berjalan dinamis melebihi ruang akademisi. Teriakan-teriakan khas redaksi masing-masing tak terdengar lagi. Suasana ruang waktu redaksi yang guyub, gayeng dan geregetan telah hilang oleh digital. Rasanya tak tega menerima kenyataan ini semua. Semuanya hanyut terbawa trend jaman. 

Hilangnya ekosistem redaksi merupakan kehilangan yang tak ada gantinya di era digital bahkan dengan tongkrongan di caffe sekalipun. Saya mengalami ekosistem redaksi Jawa Pos di Karah Agung era awal dekade sembilan puluhan, sebagai wartawan bawahan. Lalu di Cendrawasih Pos Jayapura, Papua di 1993-1999 sebagai komando redaksi. Berikutnya di lima tahun perintisan Papua Post 1999-2004. Itu bukan semata-mata ruang kerja. Tapi juga ruang praktik transfer skill penulisan. Para penulis bagus lahir disini, di ekosistem redaksi. Bahari penulis buku Konflik Jawa Pos, Dahlan Iskan vs Gunawan Muhamad, kepenulisannya lahir justru di Papua melalui ekosistem redaksi Cenderawasih Pos awal. 

Ada pepatah gabah menjadi beras yang putih bening karena bergesek diantara sesamanya. Kira-kira seperti itulah analogi ekosistem ruang redaksi mengolah para wartawan dan redaktur menjadi penulis yang handal. Ekosistem ruang redaksi adalah percampuran dari bekerja, berpikir, berkarya, berdialektika, berkomunitas dan nongkrong sekaligus. 

Hilangnya ekosistem ruang redaksi, digantikan group Whatsapp, tentu bukan penggantian yang memadai dan setimpal. Berkomunikasi dalam group digital terasa garing dan membosankan. Karena manusia tetap saja manusia yang makhluk sosial yang butuh bersentuhan fisik maupun visual. Seperti group main kartu gaple di Poskamling. Kampus bisa saja seluruhnya menggunakan daring, tapi kelas yang punya dosen berdiri di depan mahasiswa tak bisa sama sekali ditiadakan. Artifisial Intelijen (AI) bisa ditanya apa saja, tapi ia bukan manusia. Ia hanya mesin. Tak punya perasaan, tak punya perenungan. Garapan IA tak akan berkarakter seperti garapan manusia.

Kembali ke masalah sebuah ruang redaksi di kantor koran atau majalah di waktu yang sudah terlewati kemarin, mungkin tempat bercengkerama terakhir sebelum era digital datang. Era digital memang membuat manusia terkoneksi dengan siapa saja dimana saja, tapi. Bersamaan dengan itu justru wartawan kehilangan ruang redaksinya yang hangat, penuh kenangan, dinamis, dan inspiratif. Apa yang dikisahkan Sahabat Yusuf diatas merupakan kenyataan yang sama di daerah lain juga.

Ibarat seekor ikan seorang wartawan butuh lapangan dan ruang redaksi dan pembacanya dimana ia hidup dengan dunia penciptaan naskah berita. Dan dari nilai ekonomis beritanya itu ia menafkahi keluarganya. Masih dapat juga penghormatan dari masyarakat. Tapi di era digital ? Sumber berita jadi sumber rejeki, wartawan mengerjakan pekerjaan humas. Itu pun sering kali satu kantor instansi bergerbol banyak wartawan disitu menunggu reles berbayar dibagi bersama uang transport. Bagi wartawan yang lincah bisa beralih jadi buzzer berharap perolehan lebih baik.

Bagi media yang punya brand bagus, relasi kekuasaan masih bisa belanja iklan meski tak sebesar sebelumnya. Bagi wartawan yang masing-masing punya satu website, berita cukup dikirim ke WA nara sumber, sebagai laporan tanda bukti. Bagi brand besar yang dianggap masih punya kepercayaan masyaratat Pers masih bisa dilanjutkan dengan Perselingkuhan. Digauli oleh George Soros tidak masalah, yang penting masih ada pemasukan. Mottonya sudah berganti : Hidup dulu baru Pers, karena media tak bisa ditulis oleh wartawan yang almarhum.

Sebagai penutup penulis ingin mengajak mencari kelanjutan dari perjalanan Pers Indonesia ini. Harus seperti apakah Pers kita kedepannya. Seperti sekelompok katak yang mengorkestrasi bunyi di pematang sawah saat hendak menanam padi, tapi lahan sawah itu sudah berubah menjadi bangunan beton digital. Alam tak terbatas tempat pesawat luar angkasa kehilangan titk kordinat. Sepi tulisan jurnalistik bernilai. Penuh dengan suara bising hoax.

Punya sebuah ruang redaksi yang masih hidup di jaman sekarang adalah impian yang sangat mahal.