NABIRE - Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional (HPN) Kapitan Pattimura ke-209 yang jatuh pada 15 Mei 2026, Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Kabupaten Nabire menggelar prosesi pembakaran dan pawai obor. Kegiatan yang berlangsung penuh semangat dan kebersamaan ini dihadiri oleh ribuan warga Maluku yang bermukim di Kabupaten Nabire, Papua Tengah.

Semangat perjuangan Kapitan Pattimura kembali menyala di tanah rantau melalui prosesi sakral tersebut. Seluruh masyarakat Maluku yang hadir tampak larut dalam suasana khidmat dan penuh antusias, menjadikan momentum ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan nasional, tetapi juga sebagai wadah mempererat tali persaudaraan antarsasama warga Maluku.

Suasana haru dan khidmat semakin terasa saat api obor mulai dinyalakan di tengah-tengah prosesi. Nyala api tersebut menjadi simbol abadi dari perjuangan, keberanian serta semangat nasionalisme yang diwariskan oleh Kapitan Pattimura kepada generasi penerus bangsa agar tidak melupakan sejarah pergerakan kemerdekaan.

Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawannari, yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pawai obor ini bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. 

Menurutnya, agenda ini merupakan simbol kebangkitan semangat perjuangan Kapitan Pattimura yang di masa lalu telah berjuang mati-matian mengusir para penjajah dari bumi Maluku.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan serta menumbuhkan semangat juang yang diwariskan oleh Kapitan Pattimura bagi seluruh warga Maluku di Nabire,” ujar Wakil Bupati Burhanuddin Pawannari dalam sambutannya di hadapan ribuan warga Ikemal.

Burhanuddin juga berharap agar nilai-nilai luhur perjuangan Pattimura tetap membara dalam hati sanubari masyarakat Maluku di tanah Papua. Kontribusi aktif dari warga Ikemal sangat diharapkan, terutama dalam mendukung roda pembangunan daerah di berbagai sektor penting seperti ekonomi, sosial dan budaya.

Ia menambahkan, filosofi hidup masyarakat Maluku yang dikenal dengan Pela Gandong harus terus dirawat di Nabire. Meskipun berada dalam satu rumah dengan perbedaan suku maupun agama, warga Maluku terbukti mampu bersatu, berkolaborasi dan hidup rukun berdampingan dengan seluruh elemen masyarakat lainnya demi membawa Kabupaten Nabire ke depan yang lebih maju, hebat dan sejahtera.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Kabupaten Nabire, Edward A. Berhitu, menjelaskan prosesi pembakaran obor ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Tradisi ini merujuk pada awal perjuangan Kapitan Pattimura saat membakar obor di Gunung Saniri, Negeri Tuhaha, Pulau Saparua, untuk mengumpulkan masyarakat melawan penjajah Belanda.

Edward memaparkan, setelah obor dinyalakan dan dibawa mengelilingi desa-desa di wilayah Maluku Tengah, pada 15 Mei, Kapitan Pattimura memimpin peperangan besar dan berhasil merebut Benteng Duurstede. Sejarah heroik inilah yang mendasari anak cucu keturunan Maluku untuk selalu memulai peringatan dengan prosesi penyalaan obor perjuangan. 

Sebagai penutup, Edward mengingatkan generasi muda akan falsafah hidup orang Maluku seperti ale rasa beta rasa dan semboyan Maluku Satu Darah. Melalui momentum Hari Pattimura ini, ia berharap pemuda-pemuda Maluku di Nabire tetap menjaga identitas diri yang cinta tanah air, kokoh mempertahankan harga diri serta selalu hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat pemilik ulayat adat di tanah Papua.(amd)