Ribuan Hektare Lahan Siap Kembalikan Kejayaan Kakao Papua

NABIRE - Pemerintah Kabupaten Nabire tengah bersiap menggebrak sektor perkebunan dengan meluncurkan program pengembangan lahan Kakao seluas 3.000 hektare. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari kebijakan pemerintah pusat untuk mendiversifikasi komoditas pangan sekaligus mendongkrak roda perekonomian masyarakat. Melalui perluasan ini, Nabire berkomitmen penuh untuk menghidupkan kembali sektor perkebunan yang sempat menjadi tulang punggung daerah.
Fokus pengembangan komoditas yang sering dijuluki ‘emas cokelat’ ini tidak akan terpusat di satu titik saja, melainkan tersebar secara merata. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilison Manuaron, S.P., mengungkapkan program besar ini akan menyasar sembilan distrik potensial. Peta pengembangan tersebut dirancang membentang luas mulai dari wilayah Distrik Wapoga, Yaur hingga Distrik Uwapa.
Pemerintah daerah pun bergerak cepat untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai linimasa yang telah ditentukan. “Pada tahun ini kami akan menyiapkan bibit dan lahan melalui fasilitasi pemerintah pusat," ujar Ronald saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Selasa (2/06/2026). Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci utama kelancaran fase awal persiapan lahan ini.
Langkah ambisius ini sebenarnya bukan tanpa alasan, sebab Nabire memiliki ikatan historis yang sangat kuat dengan tanaman kakao. Puluhan tahun lalu, daerah ini pernah mencatatkan diri sebagai salah satu produsen kakao sukses yang produknya mampu menembus pasar luar daerah.
Rekam jejak keberhasilan masa lalu inilah yang kini dijadikan modal kepercayaan diri sekaligus landasan pacu untuk mengelola lahan baru seluas 3.000 hektare tersebut.
Mengenang masa keemasan tersebut, Ronald menceritakan bagaimana kakao sempat menjadi pahlawan ekonomi bagi lembaran hidup masyarakat Nabire sebelum tahun 2005. Pada masa itu, hasil panen dari kebun-kebun kakao sangat melimpah dan bernilai tinggi. Pendapatan yang diperoleh para petani lokal bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, membangun rumah yang layak hingga mengantarkan anak-anak mereka mengenyam pendidikan tinggi di universitas.
Namun, roda nasib berputar pada tahun 2006 ketika badai hama menyerang perkebunan warga secara masif. Serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) serta Kepik Penghisap Buah (VSD) seketika merusak tanaman dan memicu gelombang gagal panen yang dahsyat di seluruh wilayah Nabire.
Dampak buruk ini diperparah dengan jatuhnya harga biji kakao di pasar global secara signifikan, yang akhirnya membuat banyak petani terpaksa gulung tikar dan mengabaikan lahan mereka.
Setelah sekian lama meredup, secercah harapan baru kini mulai muncul kembali ke permukaan seiring membaiknya ekosistem pasar global. “Saat ini harga kakao kembali stabil dan permintaan pasar meningkat. Kondisi tersebut mendorong semangat masyarakat untuk kembali menanam kakao,” tambah Ronald dengan nada optimis.
Kebangkitan harga ini dinilai menjadi momentum paling tepat untuk memantik ulang gairah bertani masyarakat yang sempat padam. Secara makro, program pemulihan sektor perkebunan di Nabire ini juga berjalan beriringan dengan visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada kemandirian ekonomi nasional.
Lewat target pengolahan lahan 3.000 hektare ini, Nabire diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan baru, menjamin pasokan bahan baku industri domestik dan yang paling utama, membawa kesejahteraan nyata kembali ke kantong para petani lokal. (amd)
Bagikan artikel ini



