​NABIRE - Tradisi makan Patita membawa makna tersendiri bagi masyarakat Maluku meski berada di tanah perantauan. Tradisi kuliner turun-temurun ini sudah dilakukan selama ratusan tahun, terutama dalam momen peringatan HUT Pahlawan Nasional asal Maluku, Kapitan Pattimura, yang diperingati setiap tanggal 15 Mei.

​Tak mau ketinggalan, ribuan warga Maluku yang tergabung dalam organisasi Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Kabupaten Nabire juga turut merayakan HUT Pattimura ke-209. Perayaan yang berlangsung meriah ini digelar di Pantai Jesbri pada Minggu (17/05/2026) dengan menyajikan tradisi makan Patita sebagai acara puncak.

​Makan Patita sendiri merupakan salah satu tradisi kuliner masyarakat Maluku yang masih terus dipertahankan dengan kuat hingga saat ini. Bagi orang Maluku, tradisi makan bersama ini menjadi agenda wajib yang rutin dilaksanakan setiap kali ada hajatan atau momentum besar.

​Inti dan makna utama dari makan Patita adalah makan bersama dalam jumlah orang yang banyak yang dilandasi oleh semangat kekeluargaan yang erat. Adapun makanan yang disuguhkan dalam acara ini seluruhnya merupakan jenis makanan tradisional yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat di Kepulauan Maluku.

​Sajian yang dihidangkan sangat beragam, mulai dari singkong rebus, pisang rebus, sagu, kohu-kohu (urap khas Maluku), ikan bakar, ikan goreng, ikan kuah, colo-colo, hingga papeda dan sayur-sayuran. 

​Dalam tradisi makan Patita kali ini, pihak panitia telah menyediakan berbagai macam menu tradisional tersebut untuk disantap bersama. Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak ribuan warga Maluku di Kabupaten Nabire, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berkumpul dengan antusias mengambil makanan untuk dinikmati bersama.

​Selain menggelar tradisi makan Patita, panitia penyelenggara juga memeriahkan suasana dengan menampilkan berbagai tarian adat dari berbagai daerah di Pulau Maluku. Salah satu yang menarik perhatian adalah tari Maku-maku dan tari Saureka-reka yang juga disebut tari gaba-gaba, menunjukkan betapa kayanya Maluku akan adat istiadat.

​Ketua Ikemal Kabupaten Nabire, Edward A. Berhitu, menjelaskan bahwa tradisi makan Patita biasanya dilaksanakan pada hari-hari yang dianggap penting. Momen tersebut meliputi hari ulang tahun pahlawan nasional, ulang tahun tempat ibadah seperti gereja atau masjid, hingga peringatan ulang tahun kota maupun provinsi.

​"Makna dari makan Patita ini tidak hanya sekadar menikmati aneka jenis makanan tradisional, tetapi juga untuk memupuk tali persaudaraan. Karena semua makanan dihidangkan di atas tikar yang sama dan dicicipi secara bersama-sama tanpa sekat," ujar Edward.

​Menutup keterangannya, Edward menegaskan bahwa tradisi ini merupakan kelebihan orang Maluku yang selalu mengedepankan nilai kekeluargaan warisan leluhur. Selain makan Patita antar keluarga, marga, maupun Pela Gandong, siapa pun yang hadir bebas mencicipi hidangan, sesuai dengan prinsip: "Makan patita bakumpul basudara gandong, merawat adat lewat rasa."(amd)