Puncak Karya Agung di Nabire: Peresmian Pura Agung Puja Dewata, Pusat Spiritual Papua

NABIRE - Umat Hindu di Provinsi Papua Tengah merayakan momen bersejarah dengan suksesnya pelaksanaan Puncak Karya Agung Mamungkah, Balik Sumpah Madya, Rsi Ghana, Pandudusan Agung, Mapaselang, lan Menawa Ratna di Pura Agung Puja Dewata Parahyangan Jagat, terletak di Jalan Poros Bumiraya SP 1, Nabire, pada Jumat (28/11/2025). Acara ini merupakan penanda resmi peresmian pura tersebut sebagai pusat spiritual dan pembinaan moral di Tanah Papua Tengah.
Karya Agung yang mengusung tema mulia ‘Nangun Sat Kerthi Bhuana Papua Tengah’ ini bertujuan untuk mewujudkan keseimbangan dan kesucian alam semesta Papua Tengah beserta isinya. Tema ini memiliki makna membangun dan menjaga keharmonisan, kedamaian serta kemakmuran di alam Papua Tengah.
Ketua Panitia Pelaksana, I Dewa Rai Jagatnata, S.Pd, dalam laporannya menegaskan bahwa Pura Agung Puja Dewata tidak hanya berfungsi sebagai tempat persembahyangan, namun juga sebagai pusat pembinaan moral dan pelestarian budaya spiritual.
Rangkaian upacara Panca Yadnya yang sangat utama ini telah dilaksanakan secara bertahap dan terstruktur. Karya Agung ini didasarkan pada dua keputusan resmi, yaitu Surat Keputusan Pembangunan Pura Puja Dewata Nomor 03/SK/I/2024 dan Surat Keputusan Panitia Karya Agung Nomor 08/PHDI Provinsi Papua Tengah/VIII/2024.
Panitia melaporkan bahwa rangkaian upacara meliputi: Karya Agung Mamungkah (ritual awal pembersihan), Balik Sumpah Madya dan Rsi Ghana (ritual penyucian tingkat menengah untuk mengembalikan janji dan menyucikan kekuatan negatif), Mamata Daging (penanaman benda-benda suci pada dasar bangunan pura), hingga puncaknya yaitu Puncak Upacara Peresmian dan Pengukuhan Pura pada 29 November 2025.
Total biaya yang dihabiskan untuk pembangunan dan pelaksanaan Karya Agung ini mencapai Rp15.750.000.000, dengan rincian biaya pembangunan Rp13,5 miliar dan biaya karya agung Rp2,25 Miliar.

I Dewa Rai Jagatnata menjamin bahwa setiap rupiah yang dipercayakan kepada panitia telah dipergunakan secara transparan dan akuntabel. Sumber pendanaan utama berasal dari dana punia umat, bantuan pemerintah daerah dan donasi berbagai pihak, termasuk Pemda Kabupaten Nabire sebesar Rp2 miliar dan Pemda Intan Jaya Rp400 juta serta donasi dari tokoh dan institusi lainnya.
Atas nama panitia, I Dewa Rai Jagatnata menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para sulinggih dan pinandita atas tuntunan spiritual, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Papua Tengah atas dukungan moral dan material serta seluruh donatur, PHDI dan panitia pelaksana yang bekerja keras tanpa pamrih.
"Dengan berakhirnya rangkaian Karya Agung ini, Pura Agung Puja Dewata Parahyangan Jagat Nabire Provinsi Papua Tengah secara resmi ditegakkan linggih-nya. Kami berharap pura ini akan terus menjadi sumber kedamaian, kerukunan antar umat beragama, dan pusat spiritual untuk mencapai cita-cita Nangun Sat Kerthi Bhuana," tutup I Dewa Rai.
#Amanat PHDI Pusat dan Daerah
Ketua PHDI Papua Tengah, I Dewa Gede Sukawati, S.Pd, menyampaikan bahwa tujuan dan inti dari upacara besar ini bukan hanya mendoakan umat Hindu di Nabire, tetapi secara khusus mendoakan seluruh umat manusia serta alam di Papua Tengah dan Nusantara pada umumnya, demi terwujudnya keharmonisan, kedamaian, dan komunikasi yang baik.
Ia juga mengingatkan pentingnya Manawa Sewa Madawa Sewa (melayani sesama juga merupakan pelayanan kepada Tuhan), sebagai jalan mencapai Mokshartam Jagadhita (kebahagiaan rohani dan kesejahteraan duniawi).
#Tri Hita Karana sebagai Fondasi

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, turut memberikan sambutan dan menjelaskan konsep dasar Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan): hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan alam (Palemahan), dan dengan sesama manusia (Pawongan).
Wisnu Bawa Tenaya menekankan pentingnya membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang rohani (Sradha Bhakti kepada Tuhan) dan jasmani (Mensana in Corpore Sano). Ia berpesan agar umat Hindu senantiasa menjaga hutan (Wana Kerthi), sumber air (Danu Kerthi), laut (Samudra Kerthi), dan udara (Atmosfer Kerthi).
Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (DPMA) Provinsi Bali, I G.A.K Kartika Jaya Seputra, SH., MH, yang mewakili Gubernur Bali, menyampaikan apresiasi atas keberagaman dan karifan lokal Papua Tengah. Beliau terkesan dengan keindahan Papua dan menyarankan agar Pemajuan Masyarakat Adat dan budaya lokal diangkat kembali untuk menjadi roh pariwisata Papua Tengah.
Kartika Jaya Saputra menitipkan pesan bahwa Pura Agung Puja Dewata harus menjadi pusat belajar agama, adat, dan kebudayaan, yang menyatukan seluruh umat, alam, dan manusia di Papua Tengah.
Peresmian ini dihadiri oleh para Bupati di Papua Tengah, Ketua DPR Kabupaten Nabire, perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Papua Tengah, para Ketua PHDI dan WHDI se-Tanah Papua, FKUB Provinsi Papua Tengah, serta Ketua PHDI Sulawesi Utara dan Manado. Kehadiran berbagai tokoh ini mencerminkan semangat kerukunan dan kebahagiaan dalam menyaksikan puncak Karya Agung tersebut.(sam)
Bagikan artikel ini



