NABIRE – Puluhan, lebih dari 40 perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire melakukan aksi demo damai ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire pada Senin (31/10), untuk menuntut pembayaran jasa resiko kepada perawat IGD. Mereka diterima Wakil Ketua I DPRD, Marcy Kegou didampingi Wakil Ketua II, Roy Wonda bersama sejumlah anggota dewan. Puluhan perawat yang sehari-hari bekerja pada unit pelayanan IGD menuntut kepada Direktur BLU RSUD Nabire agar diberikan jasa resiko, karena hampir semua tindakan yang dilakukan di IGD ditangani oleh perawat. Para perawat di IGD melaksanakan semua tindakan medis seperti pasang infuse, injeksi, jahit luka, pasang kateter, pasang NGT, melakukan pemeriksaan (Visite) dokter spesialis dan lain-lain sehingga beban kerja perawat di IGD semakin bertambah.Oleh sebab itu, mereka mengadu kepada wakil rakyat karena selama ini perawat yang bekerja di IGD tidak mendapat jasa resiko seperti halnya yang diterima di beberapa unit pelayanan lain di lingkungan BLU RSUD Nabire. Mereka meminta agar pembayaran tersebut mulai tahun anggaran mendatang.Dalam pertemuan di Ruang Badan Musyawarah (Bamus), anggota dewan berjanji akan menemui Direktur RSUD untuk mempertanyakan pembayaran insentif dan uang jasa yang dibayar direktur kepada perawat selama ini.Usai menerima perawat dari IGD, anggota dewan dipimpin Wakil Ketua I, Marcy Kegou menemui Direktur BLU RSUD Nabire, dr. Jhoni Ribo Tandisau, SPB,KBD di ruang kerjanya. Anggota dewan mempertanyakan uang jasa resiko bagi perawat di IGD selama ini.Direktur BLU RSUD Nabire, Jhoni Ribo Tandisau mengatakan, pembayaran intensif perawat dan jasa perawat dibayar berdasarkan RKA yang ada, tidak ada pembayaran di luar dari RKA. Selama ini, uang jasa resiko hanya diberikan kepada perawat yang bekerja di unit-unit pelayanan yang mengandung resiko tinggi (Resti) seperti ruang ICCU, ruang paru dan ruang HIV/AIDS. Sedangkan perawat di unit-unit pelayanan lain mendapat uang jasa dan intensif.Direktur Jhoni Tandisau menjelaskan, bisa saja rumah sakit memberikan uang resiko seperti yang dikeluhkan perawat, tetapi apabila pihak rumah sakit menambah uang resiko bagi perawat di IGD, dikuatirkan tahun depan akan ada lagi demo serupa dari perawat di unit-unit pelayanan lainnya. Karena, disana juga ada resiko pelayanan di setiap unit.Usai mendengar penjelasan Direktur Jhoni, anggota dewan berjanji akan kembali memanggil Direktur BLU RSUD dan perawat di IGD ke DPRD untuk mendengar tanggapan masing-masing pihak dan mencari solusi bersama.Sebelum kembali ke DPRD, Ketua Komisi B, Abelenstra Yoweni menyampaikan kepada perawat IGD di unit pelayanan bahwa dewan akan memanggil kembali perawat di IGD dan direktur BLU RSUD untuk mendengarkan penjelasan bersama, agar masalah ini tidak berlarut-larut sehingga mengganggu pelayanan di rumah sakit. (ans)