NABIRE – Program Keluarga Berencana (KB) seringkali hanya dipandang sebagai upaya pemerintah untuk mengontrol jumlah penduduk, padahal, esensi dari program ini jauh lebih dalam. 

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Paulus Talakua, S.KM.,M.Kes., menegaskan bahwa program KB berperan krusial dalam pembentukan karakter anak dan peningkatan kualitas keluarga secara keseluruhan.

Paulus menjelaskan bahwa kualitas pembinaan orang tua terhadap anak menjadi kunci dalam membentuk karakter. Pembinaan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga, terutama dari segi ekonomi. “Kalau kita kaitkan dengan program KB, maka sasaran pemerintah bagaimana keluarga Indonesia ini diupayakan dua anak cukup,” ujar Paulus saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/8/2025).

Menurutnya, program dua anak cukup bukanlah sekadar pembatasan, melainkan sebuah strategi untuk memberikan edukasi kepada keluarga. Tujuannya adalah agar orang tua memiliki cukup sumber daya dan waktu untuk mempersiapkan generasi penerus dengan lebih optimal. Paulus menyebut, masalah ekonomi seringkali menjadi pemicu berbagai persoalan lain dalam keluarga.

“Banyak anak berarti dari sisi pemenuhan kebutuhan keluarga untuk sandang, pangan, papan, itu sangat mempengaruhi. Ekonomi ini juga mempengaruhi karakter,” jelasnya. Ia berpendapat bahwa beban ekonomi yang berat akibat terlalu banyak anak bisa memicu stres dan ketidakstabilan dalam keluarga, yang pada akhirnya berdampak pada tumbuh kembang anak.

Paulus juga menyoroti peran penting seorang ibu. Menurutnya, ibu adalah sentral dalam pembentukan mental dan karakter anak. Namun, jika seorang ibu harus mengurus banyak anak sekaligus, ia akan kehilangan waktu untuk merawat diri dan menyiapkan diri sendiri. “Kalau banyak anak, seorang ibu tidak mungkin akan menyiapkan diri. Tidak bisa menyiapkan diri karena banyak kebutuhan yang seorang ibu harus lakukan,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, program KB yang mengedepankan pengaturan jarak kehamilan, bukan pembatasan jumlah anak secara paksa, memberikan kesempatan bagi ibu untuk membenahi diri dan merawat dirinya. Hal ini tidak hanya menguntungkan ibu, tetapi juga berdampak positif pada seluruh anggota keluarga.

Bahkan, ayah atau kepala keluarga juga diuntungkan. Dengan jumlah anak yang terencana, ayah memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan terlibat dalam pembinaan anak. Sebaliknya, terlalu banyak anak bisa memicu berbagai persoalan yang membebani seluruh keluarga.

Paulus berharap, seluruh warga negara, khususnya masyarakat Nabire dan Provinsi Papua Tengah, menyadari betapa pentingnya program KB ini. Keberhasilan program ini, menurutnya, tidak akan tercapai tanpa dukungan dan pemahaman dari masyarakat. Oleh karena itu, DPPKB akan terus gencar melakukan edukasi dan penyuluhan.

“Keberhasilan program itu harus dari pendekatan-pendekatan yang kita buat selama ini adalah pendekatan edukasi, memberikan penyuluhan supaya masyarakat bisa mengerti dan paham betul apa itu sebenarnya KB bagi masyarakat,” tutupnya. Dengan demikian, program KB dapat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya keluarga yang sejahtera dan anak-anak yang berkarakter unggul.(sam)