NABIRE - Keluarga besar guru Madrasah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nabire menggelar acara Halalbihalal yang berlangsung khidmat di Gedung Islamic Center, Selasa (14/04/2026). Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan pasca-Idul Fitri 1447 H di lingkungan pendidikan agama se-Kabupaten Nabire.

Ketua Panitia, H. Bahar, menjelaskan bahwa persiapan acara ini telah dimatangkan melalui pertemuan di kantor pemerintah pada 30 Maret lalu. Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa Islamic Center dipilih sebagai lokasi utama pelaksanaan pada 14 April 2026. Berkat koordinasi yang solid, agenda besar ini akhirnya dapat terlaksana dengan baik sesuai rencana yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan halalbihalal ini merupakan hasil kolaborasi erat antara guru-guru Madrasah dan guru PAI. Dukungan dana pun mengalir secara gotong royong, yang bersumber dari Seksi Pendidikan Islam (Pendis), lembaga-lembaga Madrasah mulai dari tingkat MI, MTs, hingga MA serta partisipasi aktif dari para guru PAI di wilayah Kabupaten Nabire.

Dalam laporannya, H. Bahar menegaskan tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi dan menjadi ajang saling memaafkan. Mengingat kesibukan masing-masing yang membuat pertemuan personal sulit dilakukan, forum ini menjadi jembatan bagi para pendidik untuk melebur kesalahan dan memperkuat hubungan emosional antarsesama rekan sejawat.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nabire, Robert Wopairi, S.Th., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang hadir. 

Ia menyapa hangat para kepala sekolah dari berbagai tingkatan, pengurus MGMP SD hingga SMK, serta para penyuluh agama yang hadir untuk menunjukkan wajah kerukunan umat beragama di Nabire.

Hal menarik dalam acara ini adalah kehadiran personel Densus 88 Anti-Teror. Robert Wopairi berpesan agar kehadiran mereka tidak dipandang sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai mitra yang ingin menjalin silaturahmi. 

Selama ini, mereka aktif mendampingi berbagai kegiatan di luar kantor dan organisasi Islam untuk memastikan keamanan serta membangun kedekatan dengan masyarakat.

Robert juga mengenang kembali momen ketika H. Bahar pertama kali mencetuskan ide acara meriah ini meskipun awalnya terkendala keterbatasan anggaran. 

Semangat pantang menyerah dari panitia terbayar lunas dengan suksesnya acara yang ia sebut sebagai ‘ajang mahal’, karena hanya terjadi sekali setahun, namun memiliki makna pertemuan yang sangat mendalam.

Robert menekankan pentingnya kehadiran para guru dalam momen seperti ini agar saling mengenal satu sama lain sesuai pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’. 

Baginya, guru adalah sosok luar biasa yang harus dijunjung tinggi karena peran mereka dalam mendidik generasi masa depan bangsa, sebagaimana lirik lagu ‘Terpuji Wahai Engkau Ibu Bapak Guru’. 

Dalam perspektif kerukunan, Robert menegaskan komitmennya untuk menjaga wajah Nabire sebagai kota yang rukun. Ia berpesan kepada tamu dari luar daerah agar selalu menghormati kedamaian yang sudah terjaga, selaras dengan tema acara ‘Menjalin Ukhuwah Islamiyah melalui Halalbihalal dalam bingkai kebersamaan dan keikhlasan untuk mewujudkan pendidikan’. 

Sebagai penutup, Ustadz Rofiq dari MUI provinsi memberikan tausyiah mengenai makna filosofis halalbihalal yang menjadi ciri khas Indonesia. Ia menjelaskan, istilah ini mengandung makna saling menghalalkan dan saling memberi kasih sayang antara dua pihak, yang menjadi fondasi kuat dalam membangun harmoni sosial di tengah masyarakat.(sam)