NABIRE - Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Nabire, Cheppy Karubuy, kepada Papuapos Nabire, Senin (7/07/2025) mengatakan, ketika Lord Baden-Powell menggelar eksperimen pertamanya di Pulau Brownsea pada tahun 1907, ia tak sekadar, mengajak anak-anak berkemah. Ia merancang sebuah pengalaman pendidikan yang nyata dengan melibatkan alam terbuka, tanggung jawab pribadi, dan kebersamaan yang penuh makna. Sejak itu, berkemah menjadi salah satu teknik kepramukaan paling efektif dalam membentuk karakter.

Namun seiring waktu, semangat pendidikan dalam berkemah tak jarang bergeser. Di beberapa tempat, perkemahan cukup dilakukan asal ‘terlaksana’, sekadar pindah tidur, tanpa mengalami proses pendidikan yang utuh dari awal hingga akhir.

Padahal, berkemah adalah proses belajar yang panjang. Pendidikan dimulai sejak persiapan. Bagaimana peserta merancang perlengkapan, memahami peran, membangun ekspektasi.

Puncaknya terjadi saat perkemahan berlangsung. Saat tidur di bawah bintang, masak mandiri, berbagi air, bertahan di cuaca tak menentu. Dan tak kalah penting ketika selesai. Ada refleksi pascaperkemahan. Kumpulan hikmah dan pelajaran untuk dinternalisasi pembina yang akan membentuk sikap hidup jangka panjang.

Belakangan tren berkemah kembali naik daun di Indonesia. Keluarga-keluarga muda mulai menyukai camping sebagai aktivitas akhir pekan. Pencarian Google untuk kata ‘camping keluarga’ naik 90% dalam 2 tahun terakhir. Munculnya komunitas seperti Ayah-Ibu Camping, Kemping Ceria, hingga Family Overland memperlihatkan bahwa banyak keluarga kini sadar bahwa berkemah bukan sekadar liburan, tapi juga rekreasi yang mendidik, khususnya untuk putra/putrinya.

Bagi Gerakan Pramuka, ini kabar baik. Karena kita lah yang sejak awal dikenal sebagai ‘organisasi Pendidikan yang berkemah’. Kepramukaan dapat menjadi rujukan utama keluarga Indonesia untuk memberikan pengalaman mendalam pada anak-anak mereka melalui aktivitas alam terbuka.

Melihat perkembangan aktifitas berkemah ada satu hal yang perlu kita perhatikan yaitu, perkembangan teknologi berkemah. Aktivitas luar ruang saat ini jauh lebih mudah dan praktis dibanding satu dekade lalu.

Beberapa teknologi yang menarik diketahui para Pembina Pramuka, seperti diantaranya;

  • Tenda ringan (ultralight): Ada tenda 1-2 orang dengan berat hanya 1,5 kg yang muat dalam tas daypack.
  • Sleeping bag seukuran botol minum: Dengan bahan goose down atau fiber ultracompact, bobot hanya sekitar 600-800 gram.
  • Kompor portable: Tersedia yang bisa dilipat hingga seukuran cangkir, kompatibel dengan gas kaleng mini atau bahan bakar cair.
  • Headlamp rechargeable, matras tiup ultrathin, dan peralatan masak titanium yang ringan dan tahan lama.
  • Bahkan ada filter air portable seukuran sedotan yang dapat digunakan langsung di sungai!

Karakter perlengkapan itu mengunakan teknologi dengan prinsip Light and Compact Ringan dan Ringkas namun tetap fungsional.

Dengan teknologi ini, seorang bisa naik gunung selama 3-4 hari hanya dengan tas kapasitas harian (daypack), asal pemilihan perlengkapannya tepat. Tentunya kualitas tinggi berbanding harga, tapi pasar yang makin luas juga membuka pilihan barang terjangkau dengan fitur fungsional.

Gugus depan, Pusdiklat, maupun pembina pribadi bisa mulai mempertimbangkan berinvestasi pada peralatan semacam ini. Bukan hanya untuk kenyamanan, tapi juga untuk keselamatan dan efektivitas pendidikan alam terbuka.

Hindari anak-anak memanggul carrier 60 liter berisi barang yang beban berlebih. Perlengkapan regu juga harus lebih praktis. Misalnya Hindari residu sampah dari gapura gapura yang terlalu berlebihan untuk Jambore yang hanya 3-4 hari. 

Bagi yang pernah ke jambore dunia, tentu pernah menyaksikan area tenda-tenda elegan, fungsional, dan tetap penuh identitas tanpa terlihat rumit. Meski durasinya sampai 12-14 hari. Bukan sekadar tampilan, tapi memperhatikan efisiensi, ergonomi, dan filosofi. Simple but impactful. Sederhana tapi berdampak.

Jambore nasional tahun depan bisa menjadi ajang penerapan prinsip ini. “Kita mulai biasakan dari Gudep dan Kwartir kitam. Mari tunjukkan bahwa Gerakan Pramuka Indonesia tidak hanya bisa membangun semangat, tapi juga mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman,” harapnya.

Tentu perkembangan teknologi berkemah tidak akan menggantikan nilai-nilai kepramukaan, tapi ia bisa menjadi alat bantu yang membuat pengalaman berkemah makin aman, nyaman dan bermakna. “Pembina Pramuka melek tren, namun tetap setia pada esensi berkemah sebagai medium pendidikan karakter khas dari kepramukaan. Belajar dari alam dan petualangannya,” tandas Cheppy Karubuy.(agustinus)