NABIRE - Suasana sukacita dan kebersamaan memenuhi Gedung Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua Efrata Nabire, pada Minggu (25/05/2025). Ribuan jemaat tumpah ruah mengikuti ibadah penutupan Sidang Klasis Luar Biasa, Peresmian Klasis GPI Papua Nabire, sekaligus perayaan syukur HUT ke-40 GPI. Acara bersejarah ini menandai babak baru bagi pelayanan GPI di Tanah Papua, khususnya di wilayah Nabire.

Kegiatan diawali dengan ibadah penutupan Sidang Klasis Luar Biasa, sebuah momen penting yang menjadi puncak dari rangkaian pembahasan dan pengambilan keputusan strategis bagi perkembangan GPI ke depan. Dimana, jemaat dengan khidmat mengikuti setiap prosesi ibadah, menunjukkan antusiasme dan komitmen mereka terhadap gereja.

Puncak acara adalah peresmian Klasis GPI Papua Nabire. Hadirnya klasis ini secara definitif di Kabupaten Nabire menjadi jawaban atas doa dan kerinduan jemaat yang telah lama menanti. Hal ini juga menjadi penegas identitas dan kemandirian GPI di wilayah ini, setelah sebelumnya bergabung dengan Klasis Jayapura.

Dalam sambutannya, Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos.,M.Si, diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, Pieter Erari, SE.,M.Si, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya acara ini. "Tentunya acara ini sangat dinanti-nantikan oleh jemaat-jemaat Klasis GPI Nabire," ujar Pieter Erari.

Pihaknya juga mengingat kembali sidang klasis sebelumnya pada Januari, dimana dirinya telah menyampaikan bahwa Nabire telah menjadi Provinsi Papua Tengah.

Pieter Erari menegaskan keyakinannya bahwa campur tangan Tuhan telah bekerja pada jemaat dan kelembagaan GPI, baik sinode maupun klasis. "Hadirnya Klasis Nabire secara definitif di Kabupaten Nabire ini, bersama-sama gereja-gereja Protestan yang ada di Nabire, kami juga harapkan dari pengurus Klasis GPI Nabire bisa ikut terdaftar bergabung bersama badan kerjasama gereja-gereja yang ada di Kabupaten Nabire," tambahnya, menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah.

Pieter Erari mengingatkan akan sejarah dan dinamika yang pernah terjadi. "Dengan kejadian awal mula-mula yang ada di sebelah timur, sekarang menjadi gereja GKI, kejadian-kejadian saat itu dengan hadirnya Klasis GPI Nabire, kami harap wujudkan kasih sebagai hukum Tuhan jika masih ada di dalam hati kita karena saat itu kita hadir seru, diskusi, perdebatan sampai luar biasa," kenangnya.

Ia mengajak seluruh umat Kristiani untuk saling memaafkan dan bersatu membangun amanat agung Tuhan Yesus Kristus. Kehadiran Klasis GPI Nabire juga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga dan menciptakan kondisi keamanan dan kedamaian di Nabire.

"Kami juga berharap dengan semangat Klasis GPI Nabire ikut membangun, menciptakan kondisi keamanan dan kedamaian bagi kita di Nabire," tegas Pieter Erari.

Senada dengan itu, Sekretaris Sinode GPI Papua, Pdt. B.A Lewier, M.Th dalam sambutannya, mengungkapkan rasa syukur atas kemurahan Tuhan yang telah menjawab doa-doa.

"Klasis Jayapura - Nabire kini telah menjadi Klasis Nabire dan Jayapura yang dengan luar biasa khidmatnya terus membaharui kreativitas anugerah pemberian Tuhan," ujarnya, menggambarkan optimisme dan harapan besar bagi masa depan pelayanan GPI di tanah Papua.

Perayaan syukur HUT ke-40 GPI juga menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pelayanan gereja. Empat puluh tahun adalah rentang waktu yang tidak singkat, penuh dengan suka dan duka, tantangan dan berkat.

Kehadiran ribuan jemaat yang memadati gereja menjadi bukti nyata akan pertumbuhan iman dan komitmen jemaat dalam mengiringi langkah GPI.

Ibadah penutupan, peresmian dan perayaan syukur ini diakhiri dengan pujian dan penyembahan, menegaskan kembali tekad jemaat untuk terus berkarya dan menjadi berkat bagi sesama.

Hadirnya Klasis GPI Papua Nabire tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga simbol persatuan, kasih dan semangat pelayanan yang membara di tengah-tengah masyarakat Papua.(sam)