NABIRE - Memasuki awal tahun 2026 ini Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, SH, menilai telah terjadi peredaran Miras yang kian merajarela di mana-mana yang dipastikan akan membawa dampak sosial dan krisis ekonomi.

Dan di tengah–tengah menghadapi situasi darurat sosial yang kompleks dengan dipicu peredaran Minuman Keras (Miras) yang ilegal, maka dipastikan akan terjadi lemahnya kondisi ekonomi serta meningkatnya tindak kriminal di wilayah perkotaan, sehingga kondisi ini dapat dinilai akan mengamcam keamanan, kemanusiaan dan masa depan generasi muda di 8 kabupaten se-Provinsi Papua Tengah.

Untuk itu, Melkias Keiya menegaskan, dengan mengkonsumsi Miras yang sering disebut mabuk ringan atau berat telah menjadi pemicu utama berbagai tindakan di luar kendali akan sehat dan hati nurani masyarakat.

“Mabuk ringan atau berat bukan hal sepele, karena dalam kondisi tersebut seseorang bisa melakukan apa saja yang sebelumnya hanya direncanakan dalam hati nuraninya, sehingga saya menilai alkohol dapat mematikan rem moral dan rasa takut kepada Tuhan,” tambahnya.

Melkias Keiya, dalam siaran persnya yang kirim melalui pesan WAnya kepada Papuapos Nabire, Minggu (1/2) seraya menambahkan, upaya penutupan dan pengendalian Miras telah dilakukan beberapa waktu lalu melalui kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah dengan melibatkan semua tokoh–tokoh yang ada di daerah ini.

Namun kesepakatan tersebut belum berjalan secara efektif akibat banyaknya sumber produksi dan pemasok alkohol dari luar Nabire yang beroperasi dengan izin ilegal yang membuat Miras terus masuk ke Papua Tengah, meskipun penertiban telah dilakukan di tingkat local. 

“Selama pasokan dari luar belum diputuskan, penutupan di tingkat lokal hanya bersifat sementara, dampaknya akan menjadi fatal bagi kemajuan Papua Tengah,” imbuhnya.

Selain menyoroti Miras, Melkias Keiya, juga menyoroti faktor ekonomi sebagai pemicu tambahan meningkatnya kriminalitas, karena kurangnya lapangan pekerjaan dan melemahnya peredaran uang yang mendapat membuat masyarakat semakin nekat melakukan tindakan apa saja melakukan tindakan begal, kekerasan hingga pembunuhan.

Terlihat di mana-mana harga barang atau kebutuhan pokok (Sembako) semakin meningkat, karena distribusi tidak berjalan secara normal. Sementara di kalangan masyarakat daya beli masyarakat juga sangat menurun, sedangkan harga barang terus meningkat dan uang tidak berjalan. Tekanan ekonomi dapat bertemu alkohol dan menjadi kombinasi yang sangat berbahaya.(des)