NABIRE – Patut dibanggakan, tiga “Anak-anak Nabire” membuktikan kepada publik di Nabire, Papua, bahkan Indonesia bahwa Nabire juga mampu dan bisa menulis dan membukukan kekayaan alam Nabire.

Nabire bisa ini dbuktikan oleh tiga “Anak Nabire” yang mengangkat 5 bahan alam lokal sebagai ramuan, obat herbal yang selama ini digunakan masyarakat lokal.

Tiga penulis pemula yakni Fauzan Al Ayyuby, Manfred Kudiai dan Nomensen Dou mampu membuktikan bahwa Nabire juga bisa dengan mencetak buku RAMUAN DI SEGITIGA WALLACEA dengan mempromosikan 15 jenis obat tradisional dari wilayah Indonesia Timur kepada publik di Nabire khususnya, Papua, dan Nusantra bahkan kepada dunia melalui buku cetak.

  Dari 15 jenis obat tradisional yang diangkat lewat buku karya “Anak-anak Nabire” ini, 5 ramuan diantaranya sebagai obat tradisional (herbal) dari alam Nabire.

Buku yang mengulas tentang obat tradisional masyarakat di Indonesia Timur ini dibedah, Rabu (7/4). Penulis, Taufan Al Ayyuby saat membedah obat herbal asal Nabire dan Indonesia Timur ini menjelaskan, Wallacea ini diangkat dari nama seorang penemu obat-obatan yang tidak begitu populer tetapi Wallacea membuat Segitiga mulai dari Sulawesi Selatan ke Lombak, Bali hingga daratan Papua.

Walacea membuat segitiga berdasarkan tanaman herbal yang ada di bagian Timur Indonesia ini berbeda dengan bahan-bahan herbal yang tumbuh dan ada di bagian barat.

Oleh karena itu, dalam buku tentang ramuan (obat tradisional) di wilayah Segitiga ini, dibukunya ramuan dari Sulawesi Selatan, Bali dan Papua khususnya Nabire.

Dari 15 ramuan tersebut, 6 diantaranya dari Sulawesi Selatan, 5 lagi jenis ramuan lagi dari alam Nabire.

Oleh karena itu, tiga penulis muda ini mengangkat 6 jenis ramuan (obat tradisional sebagai pengobatan  herbal dari tanaman yang bertumbuh di Nabire dan dikenal oleh masyarakat lokal.

Buku Ramuan di Segitiga Wallacea yang disajikan tiga penulis muda asal Nabire ini mudah dicerna oleh semua kalangan karena disajikan dengan gaya etnografi, menutur kembali dari sumber di lapangan, sehingga bahasanya dipahani semua orang.

   Sambena Inggeruhi sebagai nara sumber saat bedah buku Ramuan Di Segitiga Wallacea mengapresiasi diterbitkannya buku yang memuat tentang ramuan yang selama ini dikenal dan dipakai oleh masyarakat sebagai obat tradisional.

Karena, selama ini ketika sakit lebih mengandalkan obat-obatan dari farmasi dan obat-obtan herbal dari Cina.

Padahal, alam Papua juga menyediakan banyak bahan yang tersedia untuk dijadikan sebagia ramuan untuk mengatasi kesakitan dengan bahan tradisional yang ada disekitar kita.

Fauzan mengakui hadirnya buku tentang Ramuan di Segitiga Wallacea dengan mengangkat bahan lokal sebagai obat herbal ini tentunya berhadapan dengan obat dari pabrikan.

Namun, obat herbal (ramuan) paling tidak untuk membunuh kesakitan dan tidak memiliki dampaknya.

Oleh karena itu, obat herbal merupakan obat alternatif disamping obat pabrikan dan obat-obatan herbal lainnya. (ans)