NABIRE - Dalam kesempatan yang baik, di Papuapos TV Podcast pada Kamis (5/6/2025) lalu, mengundang narasumber yang berasal dari tokoh agama. Dimana dihadirkan ialah selalu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Tengah, Drs. Ignatius Robertus Adii, M.MPd, tentu perbincangan tersebut membahas berbagai topik, soal keagaman, peran FKUB, program dan kerjasama FKUB dengan pemerintah setempat, dengan harapan tentunya kepada generasi muda di tanah Papua.

Drs. Ignatius menjelaskan, program yang berada di FKUB Papua Tengah, yaitu program rumah ibadah Equme rumah doa dan tidak memandang agama ini atau agama itu, tetapi semua sama. Program lainnya, diharapkan bupati serta gubernur mendirikan rumah ibadah Equme untuk nantinya berpuasa bersama.

"Dari itulah akan mempelajari orang Islam berpuasa seperti apa, orang Katolik puasa seperti apa dan agama lainnya puasa seperti apa, dari situlah akan saling mengetahui," katanya. 

Program selanjutnya ialah saling mengunjungi rumah ibadah, dengan doa bersama serta mengunjungi, seperti yang terlihat pada ketua FKUB, ia memakai kopiah tersebut tidak sertamerta di-Islamkan, tetapi ini simbol toleransi. Contohnya seperti pejabat, organisasi partai politik dilantik menggunakan kopiah.

Ia menekankan kepada pengurus FKUB harus menjadi moderat, setelah itu harus menularkan kepada pemimpin, baik tingkat provinsi, kabupaten serta kecamatan sekalipun, agar semua pemimpin menjadi moderat dan tidak akan menjadi soal untuk kedepannya.

Ia berharap dengan adanya moderat tentu toleransi kerukunan akan terbentuk serta tidak memunculkan isu agama.

FKUB adalah Mitra kerja pemerintah dalam bidang keagamaan, bukan saja hanya tentang agama tetapi sosial, ekonomi dan pendidikan, sehingga peran dari pada FKUB memberikan masukan dari segi kerohanian. Kalau di sekolah tidak boleh mengajarkan tentang fanatisme, sekolah lebih kepada mengajarkan pembentukan karakter yang bermoderat, satu untuk semua dan semua untuk satu.

Generasi muda terutama akan diserahkan kepada pimpinan daerah, dikarenakan pemerintah memberikan kesempatan menjadi bupati dan wakil bupati yang berasal dari orang daerah, daerah harus mengutamakan visi, yaitu tentang kerukunan dan damai, jangan terlalu menonjolkan visi politik, misalnya seperti menempatkan posisi orang yang dimana penempatan tersebut diatur dengan sesuka hatinya.

“Kepada saudara-saudara di pegunungan untuk melakukan pelayanan, sehingga bisa untuk menikmati hidup ini dikarenakan hidup ini hanya sementara, dan tentunya semua ada batasannya, apa yang menjadi punya kita, kita tidak akan membawanya,” ujarnya. 

"Mari kita bangun Papua Tengah dengan suasana damai dan sapaan FKUB adalah kerukunan, salam rukun-rukun-rukun. Kalau kita rukun, maka Papua Tengah akan aman, dimulai dari Nabire sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Tengah," tutupnya.(edi)