NABIRE - Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal, K.H. Rohimin Abdurrohman, menekankan pentingnya peran orang tua dalam membekali anak dengan pendidikan Al-Qur'an sejak usia dini. 

Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sekaligus kegiatan santunan anak yatim piatu yang berlangsung di lingkungan Ponpes Tarbiyatul Athfal, Kalibobo, Minggu (04/01/2026).

Dalam arahannya, K.H. Rohimin menyoroti fenomena anak usia SMA yang baru mulai belajar membaca Al-Qur'an dari tingkat dasar. Ia menyayangkan keterlambatan tersebut karena seringkali motivasi belajar anak di usia remaja cenderung tidak bertahan lama dibandingkan jika dididik sejak masa Taman Kanak-kanak (TK). 

Menurutnya, membiasakan anak mengaji sejak kecil akan membuahkan hasil yang lebih maksimal sesuai harapan orang tua. Terkait kurikulum pendidikan di pesantren, Rohimin menjelaskan saat ini Ponpes Tarbiyatul Athfal fokus pada dua tingkatan, yakni tingkat Awaliyah dan Wustha. Penentuan tingkatan ini disesuaikan dengan regulasi dari Kementerian Agama. K.H. Rohimin menyebutkan bahwa pihaknya belum membuka tingkat Ulya karena mempertimbangkan kesiapan santri yang seringkali sudah disibukkan dengan urusan pekerjaan atau pernikahan setelah lulus sekolah.

Pada tingkatan Wustha, para santri tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur'an, tetapi juga dibekali dengan berbagai disiplin ilmu agama yang mendalam. 

Materi yang diajarkan meliputi Ilmu Tajwid, Tauhid, Fikih hingga Akhlak. Kurikulum ini dirancang agar para santri memiliki pemahaman agama yang komprehensif untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain materi pokok tersebut, pengasuh pondok pesantren juga menyelipkan pengajaran Hadis di sela-sela proses belajar mengajar. Tambahan materi ini dinilai penting untuk memperkuat landasan hukum dan etika para santri. Meski durasinya singkat, pemberian materi hadis ini diharapkan dapat memperkaya wawasan spiritual anak didik dalam menghadapi tantangan zaman.

Acara tersebut juga menjadi momen haru saat prosesi penyerahan santunan kepada anak yatim piatu. K.H. Rohimin memberikan apresiasi yang tinggi kepada para donatur yang telah menyisihkan sebagian hartanya. 

Ia menyebutkan bahwa sedekah jariyah yang diberikan atas nama orang tua yang telah meninggal dunia merupakan hadiah yang sangat mulia dan tak ternilai harganya bagi para almarhum.

Sebagai penutup, seluruh jamaah yang hadir diajak untuk mengirimkan doa berupa pembacaan surat Al-Fatihah bagi para orang tua dan ahli kubur dari para donatur. Kegiatan peringatan Isra Mi’raj ini diakhiri dengan suasana khidmat, memperkuat tali silaturahmi antara pengurus pondok, santri dan masyarakat sekitar di awal tahun 2026 ini.(sam)