PANIAI - Senin (6/8) sekitar pukul 10.00 WIT di Distrik Wegemuka, terjadi kasus penganiayaan dan perampasan senjata api milik anggota TNI 753 Nabire BKO Kabupaten Paniai dan KORAMIL 1705-02 Enarotali Paniai yang sedang melaksanakan tugas pengamanan survei pemasangan jaringan aliran listrik dari PT. PLN. Demikian keterangan yang disampaikan Kapolres Paniai, AKBP Supryagung, S.Ik, MH, melalui pesan dari hand phonenya. Kronologis kejadian, sekitar pukul 08.00 WIT 17 anggota TNI (Koramil 1705-02 Enarotali dan Rider 753 Nabire) bersama petugas PLN berangkat dari Enarotali Distrik Paniai Timur menuju Distrik Wegebino. Rombongan paling depan dihadang/diserang oleh orang tak dikenal yang berjumlah sekitar 30 orang dengan menggunakan kampak, parang dan kayu. Serta melakukan perampasan senjata api milik anggota TNI, setelah itu kabur dari TKP. Sekitar pukul 11.50 WIT korban dibawa oleh rekan-rekannya ke RSUD Madi guna mendapatkan perawatan medis. Korban masing-masing, IR mengalami luka robek di bagian belakang kepala, KR mengalami luka robek diatas pelipis sebelah kanan, luka robek pada tulang kering sebelah kanan. Sementara 4 pucuk senjata api yang dirampas masing-masing jenis Jat ss1 v3, jenis Jat SS2 V2, jenis Jat SS2 V2, dan jenis Jat laras pendek FN 45,1 magasen dan munisi 10 butir. Sementara itu, keterangan dari Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, menyebutkan, team survey Papua Terang yang terdiri dari 17 orang. Ke-17 orang itu terdiri dari 3 orang tenaga ahli PLN, 3 orang tenaga suka rela, 11 mahasiswa (4 UI dan 7 Uncen) dipimpin oleh Sugiri selaku koordinator sekaligus pendamping serta 16 orang pasukan pengamanan dari TNI berangkat dari Bandara Paniai menuju Distrik Wagemuga Kabupaten Paniai dengan menggunakan 2 unit speed boat pada Senin (6/8) pagi. Pukul 08.19 WIT kelompok team survey tiba dan disambut baik oleh masyarakat Distrik Wegemuka menuju arah Kampung Kinou, dengan melewati 7 kampung yaitu Muyadebe, Kegomakida, Uwamani, Bokoa, Ugitadi, Dapaiba dan Kampung Kinou. Kegiatan mereka melaksanakan pengambilan gambar dan melaksanakan pencatatan data elektronik. Selama melewati ketujuh kampung tersebut mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Namun pada saat team tiba di Kampung Kinou dihentikan oleh 3 orang masyarakat Kinou dan diminta untuk kembali karena tidak membawa surat ijin dari Pemda. Selanjutnya Serma Alpius Gobay berusaha untuk negoisasi dengan ketiga masyarakat tersebut. Tetapi ketiga orang masyarakat tersebut tetap bersikukuh agar tim survey kembali. Untuk menghidari benturan dengan masyarakat, team kembali menuju ke pelabuhan Kampung Muyadebe Distrik Wegemuka. Tetapi pada saat tiba di Kampung Bokoa, team dikejar oleh sekitar 50 orang dari kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) dan masyarakat dengan membawa sekitar 10 pucuk senjata laras panjang campuran, panah, parang dan kampak. Tidak beberapa lama kemudian dari kiri, kanan dan belakang rumah penduduk Kampung Bokoa keluar sekitar 30 orang KKSB dan dan puluhan masyarakat lainnya yang juga membawa sekitar 20 pucuk senjata laras panjang campuran, panah, kampak dan parang untuk mengepung Team Survey. Mereka mengeluarkan tembakan secara membabi buta dan berusaha merampas senjata milik TNI. Anggota TNI dibawah pimpinan Serma Alfius Gobay berusaha melakukan perlawanan untuk mempertahankan senjatanya. Namun karena jumlah yang tidak berimbang akhirnya KKSB berhasil merampas 3 pucuk senjata senapan panjang. Sementara itu ratusan warga masyarakat yang mendukung dan melindungi team survey berdatangan dan mengusir kelompok KKSB. Untuk menghindari jatuh korban masyarakat sipil, Serma Alifius Gobay memerintahkan kepada seluruh anggota agar tidak ada yang mengeluarkan tembakan. Akibat kejadian tersebut beberapa orang anggota TNI mengalami luka-luka antara lain: Serma Alfius Gobay bibir pecah kena pukulan benda tumpul, Sertu Yauji luka memar di bagian punggung sebelah kiri kena pukulan balok, Sertu Hardi luka lebam di muka, Kopda Karyadi luka sobek di atas pelipis dan kaki kanan kena kampak, Prada Irfannudin luka sobek kepala belakang. Sedangkan team survey lainnya dalam keadaan aman dan saat ini seluruh korban telah dievakuasi ke Paniai. Selanjutnya korban Kopda Karyadi dan Prada Irfandi mendapat perwatan medis di RSUD Paniai. "Team survey ini bekerja dalam rangka mendukung program pemerintah Papua Terang, sehingga diharapkan seluruh masyarakat Papua sampai ke pedalaman menikmati penerangan listrik. Namun sangat disayangkan karena adanya sekelompok orang selalu menghambat proses pembangunan di tanah Papua melakukan tindakan kekerasan dan tidak berprikemanusiaan," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi. Mereka ini mempersenjatai diri secara illegal dan selalu membuat kekacauan di tanah Papua, dengan dalih perjuangan kemerdekaan Papua pisah dari NKRI. Padahal merekalah yang telah merampas kemerdekaan masyarakat Papua. Mereka menciptakan teror, melakukan pembantaian baik terhadap masyarakat sipil maupun terhadap aparat keamanan. Bayangkan sekelompok mahasiswa yang sebagian dari mereka adalah putra-putra terbaik asli Papua beserta tenaga ahli dari PLN melaksanakan survey untuk mewujudkan program pemerintah Papua Terang. Dengan harapan agar seluruh wilayah Papua hingga ke pelosok menikmati penerangan listrik untuk kesejahteraan rakyat. Sebaliknya KKSB menyerang team dan melakukan tindakan kekerasan, melukai aparat keamanan, merampas senjata dan yang paling penting mereka menghambat proses pembangunan di Papua. (ros/ist)