Penerapan Sekolah Sepanjang Hari (SSH) Di SMA Negeri 2 Nabire Tuai Pro Dan Kontra Dari Peserta Didik

NABIRE – Penerapan Program Sekolah sepanjang Hari (SSH) yang mulai diterapkan sejak 20 Januari 2026 di SMA Negeri 2 Nabire menuai pro dan kontra dari peserta didik. Sejumlah peserta didik mengaku mengalami kelelahan fisik dan berkurangnya waktu untuk membantu orang tua, seperti bekerja atau berkebun. Sementara itu, sebagian peserta didik lainnya menilai program tersebut membantu menciptakan pembelajaran yang lebih kondusif.
Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) dilaksanakan berdasarkan kebijakan hari sekolah sesuai Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, dengan waktu belajar delapan jam per hari. Program ini bertujuan menata waktu belajar peserta didik sekaligus memberikan waktu libur penuh pada Sabtu dan Minggu bersama keluarga.
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan juga bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter. Melalui penerapan SSH, peserta didik diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang seni, olahraga, serta keterampilan lainnya di luar pelajaran akademik.
Melalui program ini, peserta didik di SMA Negeri 2 Nabire mengikuti kegiatan pembelajaran dari pagi hingga sore hari. Berdasarkan jadwal sekolah, pada hari Senin hingga Kamis peserta didik pulang sekitar pukul 15.30 – 16.00 WIT, sementara pada hari Jumat peserta didik pulang lebih awal. Selain mata pelajaran inti, peserta didik juga mengikuti kegiatan pengembangan diri serta ekstrakurikuler yang di jadwalkan pada hari tertentu.
Respons terhadap penerapan SSH datang dari perwakilan peserta didik SMA Negeri 2 Nabire. Adhitya, siswa kelas XII, menyampaikan keberatannya karena program tersebut di nilai belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi peserta didik secara menyeluruh.
“Menurut saya program ini tidak bisa diterapkan begitu saja, banyak pertimbangan yang harusnya dipikirkan, mungkin sepele bagi beberapa orang, tapi ada beberapa peserta didik yang harus membantu orang tua nya pada jam tersebut, belum lagi kualitas KBM dikelas jelas menurun karena beberapa peserta didik mengeluhkan pusing dan lelah berlebih,” respon nya. Ia menambahkan bahwa SSH berdampak pada aktivitasnya di rumah.
“Memotong waktu saya di sore hari, sebelumnya saya bisa mengerjakan pekerjaan dirumah atau membantu orang tua dikebun. Untuk saya rasa capek itu wajar dan bisa beradaptasi seiring berjalan nya waktu, tapi pemangkasan waktu itu mengurangi produktifitas saya dirumah,” ujarnya.
Adhitya juga menyoroti pentingnya dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Menurut saya kalau SSH dilaksanakan harus segera di ikuti dengan pemberian MBG, Selain untuk memenuhinya nutrisi peserta didik,
tidak semua peserta didik memiliki uang untuk membeli makanan disekolah dan tidak semua peserta didik juga bisa membawa bekal,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Airin, siswi kelas XII, mewakili peserta didik yang mendukung program tersebut. Ia menilai SSH membantu menciptakan pembelajaran yang lebih teratur. “Menurut saya program ini cukup baik, pembelajaran jadi lebih kondusif. Saya juga terbantu karena Sabtu dan Minggu waktunya bisa digunakan lebih banyak untuk membantu orang tua,” ungkapnya.
Meski demikian, Airin berharap ada perhatian khusus pada waktu makan siang.
“Yang perlu diperbaiki mungkin waktu makan siang, karena banyak peserta didik tidak membawa bekal,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 2 Nabire, Ibu Titik Sri Handayani, S.Pd., menjelaskan bahwa SSH di rancang agar jadwal belajar peserta didik lebih tertata. “Sekolah Sepanjang Hari bertujuan membantu peserta didik supaya jadwal belajarnya lebih teratur. Dengan begitu, pada hari Sabtu dan Minggu bisa dimanfaatkan untuk istirahat atau persiapan belajar minggu berikutnya,” jelasnya.
Menurutnya, tanggapan peserta didik terhadap SSH cukup beragam. Ada yang merasa terbantu, namun ada pula yang mengalami kelelahan fisik atau bertabrakan dengan aktivitas di luar sekolah.
“Yang dipermasalahkan bukan programnya, tetapi dampaknya terhadap aktivitas mereka,” tambahnya.
Pihak sekolah juga mengakui bahwa kendala utama saat ini adalah belum terealisasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga kini belum ada sosialisasi lanjutan terkait waktu pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Nabire.
“Karena MBG belum berjalan, banyak peserta didik merasa lapar dan kurang fokus. Sekolah berharap program ini segera direalisasikan agar peserta didik tetap ber energi dan dapat mengikuti pembelajaran secara maksimal,” ujarnya. Ke depannya pihak sekolah juga berharap kedisiplinan guru dalam mengajar semakin meningkat agar pelaksanaan SSH berjalan lebih nyaman dan berdampak baik pada peningkatan prestasi peserta didik.
Dengan berbagai respons yang muncul, pelaksanaan Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di SMA Negeri 2 Nabire menunjukkan perlunya evaluasi berkelanjutan, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan gizi dan pengaturan waktu belajar, agar tujuan peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai tanpa mengabaikan kondisi peserta didik. (Novia Ismawati/Juara 4 Lomba Karya Jurnalistik HPN 2026 PWI Papua Tengah)
Bagikan artikel ini



