Oleh : Abdillah Rakinten


Bagaimanakah pendidikan kita yang seharusnya? Dalam sistem negara yang bukan negara sekuler juga bukan negara agama seperti Indonesia, pendidikan kita menjadi sesuatu yang dijadikan objek rebutan atau tarik menarik antara kementerian pendidikan dan kementrian agama. Kedua kementrian itu sejak awal Indonesia merdeka sampai sekarang menjadi penyelenggara pendidikan nasional kita.

Nuansa saling curiga antara keduanya soal pendidikan sangat kental. Gambaran itu tampak pada kesan saling curiga antara keduanya: jika hanya pendidikan sekuler saja maka akhlak anak didik dianggap akan bermasalah. Demikian juga sebaliknya jika hanya pendidikan agama saja anak didik dianggap akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Nyatanya tetap saja, baik pendidikan yang dihasilkan dari departemen pendidikan maupun dari departemen agama sama sama memproduk koruptor. Masih ingat korupsi pengadaan Alquran di Kementrian Agama yang viral itu?

Sampai disini masih belum diketahui dimana letak kesalahannya. Meskipun buku tentang filsafat pendidikan itu sudah cukup banyak ditulis, namun pada kenyataannya tidak merubah kondisi pendidikan kita. Indonesia belum menemukan pola membangun karakter maupun pola keilmuan sains dan teknologi. Orang Indonesia mentalnya korup alias karakter buruk. Sains dan Teknologi juga tak terlalu menonjol, bahkan banyak putra bangsa yang menunjukkan penemuan dan kehebatan sains justru diabaikan.

Kembali ke pertanyaan awal, untuk dapat menjabarkan pendidikan kita harus bagaimana, terlebih dahulu kita perlu memahami hakikat pendidikan bagi manusia. Sesungguhnya pendidikan atau tarbiah dilakukan langsung oleh Tuhan Robbul Alamin. Pendidikan langsung oleh Tuhan ini melalui dipilihnya langsung para nabi dan para imam. Para nabi itu melakukan pendidikan pada manusia melalui penyucian jiwa, pengajaran kitab suci, keteladanan atau uswah al-hasanah, dan mengajarkan hikmat.

Pendidikan langsung oleh Tuhan kepada manusia melalui para nabi dan imam berlangsung terus menerus tanpa adanya konsep fathroh (masa ketiadaan pembimbing). Ilusi tentang adanya waktu suwung dari pembimbingan Tuhan lewat manusia pilihannya, memicu lahirnya Agama Manusia atau agama tafsiran manusia. Bahkan lahirnya ateisme banyak dipicu dari situ. Yang tentu saja akan menimbulkan bias atau keluar dari poros pembimbing Tuhan.

Dalam kesimpulan filsuf Al-Farabi pada kitab Ara Almadinah Alfadilah, setidaknya untuk kepemimpinan manusia dapat menjadi paripurna dibutuhkan pemimpin filsuf. Pandangan filsuf Mulla Sadra terkait pondasi filsafat hikmat yang mensintesiskan filsafat sebelumnya kedalam filsafat metafisika dengan mistisisme, pada akhirnya menjadi bahan utama bagi lahirnya konsep Wilayatul Faqih, pandangan dunia Baru Republik Islam Iran. Pemerintahan para Mujtahid atau para ahli agama ini, menjadi model baru yang menjawab pola kepemimpinan ala demokrasi Barat.

Pada celah diatas, Indonesia yang merupakan sebuah Bangsa Baru yang tercetak dari adonan atau DNA Falsafah Pancasila, sebaiknya memulai start langkahnya dari situ. Dimulai dari pemimpin filsuf yang melahirkan politik pendidikan yang integral. Bukan yang dualisme seperti sekarang, yang hasil dan efeknya buruk karena pada tingkat hulunya buruk. Celah itu dimulai dari mengkonstruksi tafsir Pancasila yang kokoh dan berlapis. Bahwa Bangsa Falsafah Pancasila itu harus punya pondasi pemikiran pandangan dunia yang kokoh, dipimipin oleh Raja Filsuf dan dapat membuat norma sistem kekuasaan yang layak.

Latar belakang filosofi yang lain adalah teori Disposesi Baqir Sadr dalam kitab Falsafatuna. Dalam teori ini fisika dan metafisika tidak didudukan saling berhadap-hadapan atau polaritas, melainkan dinilai satu kesatuan. Pada sahadat pertama Tuhan adalah seratus persen metafisis, tak terikat ruang waktu. Dan sahadat kedua, Nabi Muhamad adalah fisika, makhluk sejarah ada manusianya, keluarga dan tempat lahirnya.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan harus meliputi penyucian jiwa (tazkiatun nafs) atau membangun karakter baik, membangun tradisi dan peradaban ilmiah, ilmu agama sebagai navigasi perjalanan jiwa dan hikmat sebagian landasan epistemologi dan ontologi. Walhasil tidak membuat dikotomi dan polarisasi antara fisika dan metafisika. Bukan dengan memisah dua penyelenggaraan pendidikan oleh kementrian pendidikan dan kementrian agama seperti yang terjadi selama ini.

Dari pemandangan diatas, kita harus dapat memahami secara sederhana bahwa pendidikan adalah hal sangat mendasar bagi kebangsaan ini. Dimensi paling penting untuk tidak diterlantarkan atau diabaikan seperti yang telah berjalan selama ini. Karena dalam lokasi tanah persemaian inilah karakter Manusia Pancasilais dapat ditumbuhkan dengan baik. Pendidikan kita selama ini sarat oleh beban tujuan materialistik yang posesif. Sepertinya semua orang dipicu, didorong dan diseret untuk menjadi kaya dengan segala cara. Sehingga pendidikan kita hanya memproduksi manusia toxic.

Arah Pendidikan yang menciptakan produk materialistik dan posesif menjadikan generasi Indonesia dari waktu ke waktu selama 80 tahun kemerdekaan ini seakan tidak bergerak kemana-mana. Manusia yang diciptakan oleh sistem Pendidikan Indonesia hanya siap untuk menjadi pekerja saja, bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah hanya untuk menjadi pekerja tanpa adanya persiapan untuk menjadi seorang pemikir. Tingkat pembelajaran yang hanya sampai pada level satu (transfer knowledge) ini menjadikan anak bangsa hanya mengetahui apa yang di transfer oleh guru kepada mereka, bahkan Sebagian mahasiswa saat ini tidak lolos level 1, bagaimana kita mau membicarakan level selanjutnya seperti pemahaman, praktek, Analisa, evaluasi, dan created?

Sebelum melanjutkan misi membangun, kita seharusnya sampai di titik berhasil menerjemahkan dasar pondasi negara kita terlebih dahulu, untuk saat ini pemahaman tentang apa isi dari Pancasila saja belum bisa diterjemahkan oleh para pemikir saat ini, bagaimana pada sila pertama kita menaruh filsafat metafisik berupa tuhan yang maha esa, namun universitas-universitas yang ada di negara ini mengadopsi banyak sekali buku-buku dan pemahaman dari filsafat barat yang tidak mau mengakui adanya metafisik. Untuk sila yang pertama saja kita tidak bisa menjamahnya, bagaimana mau melanjutkan ke sila-sila selanjutnya sebagai anak gerbong dari sila pertama.

Dasar negara yang seakan menjadi lukisan di dinding ruang tamu, hanya dipuji tanpa pernah mau ada yang mengerti, menjadikan negara ini berjalan seperti tanpa adanya arah mata angin, ingin bergerak ke utara tapi terus menerus berbelok ke selatan, semakin banyaknya tukang olah (koruptor) menambahkan kerumitan dalam membangun negara ini. Pendidikan yang tidak berhasil bahkan sejak awal dasarnya ini menyulitkan segala bentuk pergerakan, muncullah para aktipis-aktipis yang hanya menjadi bentuk singkatan baru di Tengah-tengah masyarakat (aktipis = anomali kecerdasan tipis).

Pada penutup essai ini, penulis membuat sketsa agar dapat dipahami bahwa pendidikan kita selama ini telah gagal secara faktual. Tidak melahirkan karakter manusia Indonesia yang bersih dan jujur. Juga tidak menghasilkan capaian sains dan teknologi yang bersaing di antara bangsa lain. Kedua kita harus menganalisa dan mengevaluasi untuk dapat merumuskan pondasi kokoh pendidikan nasional kita. Dengan ini penulis mengajak komponen anak bangsa lain untuk dapat ikut memperkuat gagasan pendidikan nasional kedepan yang kokoh. Membangun manusia bukan hanya bagaimana dia berpikir tapi juga bagaimana dia berperilaku begitupun sebaliknya, dua hal ini harus berjalan bersama-sama secara berkelanjutan, juga dengan semangat karena untuk saat ini kita sudah disusupi banyak sekali tungau, yang hanya mau mengisap inti sari dalam tubuh-tubuh setiap insan yang hidup di negara ini.

*Mahasiswa S2 pada jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.