Pendeta Yulianus Magai, 36 Tahun Jadi Pendeta Wigoumakida Suksel
PENDETA Yulianus Magai yang telah berumur 84 tahun itu memiliki harapan besar untuk kemajuan di Kabupaten Dogiyai dan secara umum di Provinsi Papua Tengah.

PENDETA Yulianus Magai yang telah berumur 84 tahun itu memiliki harapan besar untuk kemajuan di Kabupaten Dogiyai dan secara umum di Provinsi Papua Tengah.
Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah adalah tanah besar Wosokunu yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Kaimanan dan Pemerintah Kabupaten Fak–Fak serta dengan Pemerintahan Kabupaten Timika. Kampung Wasior perbatasan dengan pemerintah dan pemerintahan Kabupaten Nabire. Kampung Yamor pemerintah dan pemerintahan Kabupaten Kaimana. Untuk keselamatan tanah besar Wosokunu pemilik pemerintah dan Pemerintahan Kabupaten Dogiyai.
Pendeta Yulius Magai minta dan perhatian serius kepada warga masyarakat Kamu dan Mapia (Kamapi) dalam memilih bupati yang tepat memberikan nurani yang tepat untuk perubahan di Dogiyai.
Hal ini membuktikan simbol kebersamaan koteka 'Dogiyai Dou Enaa' untuk perubahan dan bagi kabupaten perbatasan pemerintah dan pemerintahan di Propinsi Papua Tengah.
Tahun 1991 pendeta ini menghadap pemerintah Kabupaten Fak–Fak, saat Bupati Matondang mengusulkan pemekaran kampung/ Desa Yepima dan Kampung Wosokunu.
Dirinya asal warga Mee (Wiselmereng) untuk kepentingan di kabupaten perbatasan ke depan. Kampung perbatasan pemerintah dan pemerintahan ke depan di Propinsi Papua Tengah yang diapit oleh beberapa kabupaten perbatasan ini, ujar dia kepada Papuapos Nabire di Moanemani.
Menghadap Bupati Matondang telah diadengakan dan disetujui untuk diberikan pemukaran dua desa. Sekarang ada sekolah Inpres Wosokunu, dimana terdapat 85 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 1.200 jiwa.
“Saya bertemu dengan orang suku terasing di Kampung Muri, warga orang telanjaang Suku Mere. Mereka ini berada diantara Kabupaten Wasior (Etnabai) dan Kabupaten Kaimana, Fak–Fak, Nabire, Dogiyai demi pelayanan pemerintahan kepada suku terasing ini," katanya.
Ke depan, tak ada hambatan pernah menghadap kepada Kadis Piyaiye dijabat Yohanes Tekege, juga Kadis Sukikai Selatan Unito, Tobias Bunapa di kaki gunung perbatasan Mimika, Kaimana, Wasior, Nabire wilayah Distrik Jamor Timika (Mimika) dan Kaimana.
Dia pernah usulkan kepada Pemkab Dogiyai segera bentuk Distrik Adaibado. Kedepan ada peluang kita semua bagi forsi jatah Gung Pegai Takamai Weilad Kobouge.
Pernah survei bersama 4 negara, Amerika, Jepang, Israil dan Belanda, itu dirinya sebagai saksi sejarah. Tak boleh salah memilih Bupati Dogiyai dan Gubernur Papua Tengah, termasuk Bupati Nabire ke depan kabupaten nusantara ini, khayalan tentang kemajuan dengan keajaiban alam yang berbicara Moanemani – tidak ada yang lebih menyedihkan tentang yang dangkal kehilangan cahaya itu, 'Kahyalnya keajaiban alam yang berbicara'.
Bilamana orang berjalan dengan cahaya itu, tahun-tahun yang berjalan menyentuh atau tidak. Dengan kesedihan bagi yang kianat bersinar dan kemuliaan bilamana penginjilan pendeta kehilangan hal itu.
Tak ada kalimat hampa kotbahnya, langkah–langkahnya penyimpan kotbah menyimpang dari cahaya. Apalagi kalimatnya hampa 'kasih tak mungkin kehilangan cahaya' sudah selama 36 tahun, pendeta (guru penginjil) tanah lembah besar Kampung Wosokunu dan Kampung Wigoumakida Distrik Sukikai Selatan. Distrik tersebut murni masuk pelajanan pemerintah dan Pemerintahan Kabupaten Dogiyai.(don)
Bagikan artikel ini



