NABIRE - Peluncuran Buku Tragedi Dogiyai Berdarah yang dilaksanakan oleh Solidaritas Rakyat Papua (SRP), bertempat di Aula Kristus Raja, Siriwini, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Selasa (5/05/2026).

Kegiatan peluncuran buku tragedi Dogiyai ini dihadiri Komisi A DPRD Dogiyai, anggota DPD RI, Ketua Pokja Adat MRP PT, aktifis HAM Papua, Ketua SRP Dogiyai dan elemen masyarakat Dogiyai.

Sambutan Ketua SRP Dogiyai, Benediktus Goo mengatakan Dogiyai dulu dikenal dari hasil pertanian atau kebun tetapi sekarang Dogiyai dikenal karena konflik.

“Dogiyai yang dulu dikenal dari hasil pertanian atau kebun, tetapi sekarang Dogiyai dikenal karena konflik, kebakaran, pencurian, pembunuhan di mana-mana, tetapi pelaku tak satupun yang terungkap, padahal kita hidup di tengah-tengah zaman yang canggih,” ujar Ketua SRP Dogiyai.

Lanjutnya, sehingga pemuda berinisiatif untuk menulis buku ini bertujuan untuk menjadi pengantar atau riset awal bagi penyelidik-penyelidik dan investigator bisa menjadikan buku ini menjadi riset awal. 

“Peluncuran buku ini bukan akhir dari perjuangan kejadian kemarin, tetapi ini adalah proses dan progres untuk selanjutnya sampai pelaku ditemukan. Sampai detik ini pemuda di Dogiyai sepakat pelaku pembunuh, pelaku pembacok atau siapa mutilator terhadap anggota polisi Bribda Juventus Edowai harus diungkap secara terbuka dan kami siap kalau memang itu kami siap menerima dan kami juga mendesak kepada lima orang yang ditembak mati di tempat agar pelakunya di proses,” ucapnya.

Sementara sambutan tertulis Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, dibacakan oleh Ketua Komisi A DPRD Dogiyai, Yohanes Degei, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas lahirnya karya literatur kritis ini.

Ketua komisi A DPRD Dogiyai mengakui membaca buku ini memunculkan kesedihan yang mendalam karena harus mengingat kembali luka lama, namun di sisi lain ia merasa bersyukur karena suara hati rakyat telah berhasil didokumentasikan.

Yohanes menilai kehadiran buku ini sejalan dengan visi misi pemerintah dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis. “Melihat lahirnya buku ini, saya menyambut dengan hati yang terbuka. Di satu sisi ada rasa sedih karena kembali mengingat kesedihan yang mendalam, namun di sisi lain ada rasa syukur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan suara hati rakyat yang menjadi saksi bisu merekam apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Yohanes Degei.

Ketua Komisi A DPRD Dogiyai menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendorong proses hukum yang transparan dan bertanggung jawab.

Ia menekankan bahwa pembangunan Dogiyai sebagai ‘Honai’ atau rumah besar bagi semua pihak tidak akan tercapai jika semua pihak menutup mata terhadap realitas pahit yang ada.

Melalui sambutan tersebut, ditegaskan pula fokus pemerintah pada pemulihan trauma bagi keluarga korban serta penguatan dialog untuk mencegah kekerasan serupa terulang kembali.

“Darah yang tumpah tidak boleh menjadi benih permusuhan, melainkan harus menjadi pemicu semangat untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat. Kita harus hidup rukun dalam honai besar ini, saling menghormati dan melindungi,” tutupnya.(agustinus)