Pakde No dan Sebungkus Nasi Urab

NAMANYA Damono. Lelaki asal Pati Jawa Tengah itu tiap pagi keliling kota Nabire manjajakan sayur, kue dan makanan sarapan pagi. Klakson Honda Supra tuanya biasa telah bunyi sekitar pukul delapan." Ganjal perut ganjal perut, sayur mas," kalimat khasnya ketika memasuki halaman kantor.
Bagi yang mau sarapan pagi ada nasi urab yang dijualnya dengan harga lima ribu rupiah. Begitupun jajanan atau sayur semua dijual dengan harga murah.
Nama-nama dagangannya cukup unik. Ada Krupuk India. Ada Semangka Inul. Nasi kucing. Ketika ditanya apakah Krupuk India digoreng di India? Pakde No hanya ketawa. Dia seorang penjual nasi yang lucu dan suka becanda.
Semangat dan kesehajaannya jangan ditanya. Dia mengunjungi pelanggannya tiap hari dengan tepat waktu. Murahnya harga jualan Pakde menjadi solusi masyarakat yang kesulitan daya beli.
Di tengah riuhnya jagat maya yang kerap mendengungkan narasi krisis ekonomi, realita di sudut-sudut kota justru bicara lain. Kesederhanaan pangan lokal seringkali menjadi bukti sahih bahwa ketahanan pangan kita masih kokoh berdiri di atas alas daun pisang.
"Indonesia krisis? Ah, kalau lihat nasi urab ini, rasanya kata krisis itu jauh sekali," ujar seorang warga sambil menimang bungkusan daun pisang yang masih hangat.
Nasi urab, panganan murah meriah ini nyatanya mampu menjadi pahlawan bagi lambung masyarakat. Hanya dengan Rp5.000, sebungkus nasi sekepal lengkap dengan parutan kelapa berbumbu dan ikan asin sanggup mengganjal perut hingga setengah hari lamanya.
Nilai guna nasi urab ini mengingatkan pada serabi di tanah Jawa yang harganya hanya Rp2.000. "Serabi yang dimasak pakai tungku tanah itu juga bikin kenyang sampai siang, sama efektifnya dengan nasi urab ini untuk tenaga kerja," tambah warga tersebut membandingkan.
Di balik distribusi nasi urab dan sayur-mayur yang menyambung hidup warga Nabire, ada sosok Pakde No. Lelaki berusia 64 tahun kelahiran Pati, Jawa Tengah ini adalah potret nyata determinasi rakyat kecil dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar.

"Saya sudah keliling jual sayur di Sorong, Manokwari, Jayapura, sampai akhirnya sekarang di Nabire," tutur Pakde No dengan wajah yang tetap bugar meski rambutnya mulai memutih.
Setiap pagi, dari kediamannya di SP3 Wadio, Pakde No memacu motor Supra kesayangannya. Di atas motor itulah, berbagai bahan pangan mulai dari rengginang, tape, telur puyuh, arem-arem, kacang, hingga tempe tersusun rapi.
"Sayur-sayur ini saya ambil dari orang lain, lalu saya jual lagi putar-putar komplek sampai ke Kotalama," katanya sambil menata dagangan yang nampak segar di bawah sinar matahari pagi.
Suaranya yang khas seringkali memecah kesunyian komplek, menjadi alarm alami bagi para ibu rumah tangga. "Sayur... sayur mas! Ada semangka Inul!" teriaknya lantang, menghidupkan suasana pagi yang hangat.
Bagi Pakde No, jualan sayur bukan sekadar mencari untung, tapi tentang bagaimana ia bisa menghidupi keluarga dengan tangan sendiri. "Ya, keuntungannya lumayanlah, cukup sekali buat sekolah anak dan makan sehari-hari," ungkapnya jujur.
Menariknya, rutinitas Pakde No hanya berlangsung setengah hari saja. Namun, dalam waktu singkat itu, ia telah memastikan distribusi gizi dan pangan sampai ke depan pintu rumah pelanggan setianya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa selama nasi urab seharga lima ribu rupiah masih tersedia dan penjual sayur seperti Pakde No masih berkeliling, narasi krisis yang digembar-gemborkan di media sosial terasa seperti angin lalu.
"Kalau memang krisis, tidak mungkin orang masih bisa kenyang sampai siang hanya dengan uang recehan," celetuk seorang pelanggan Pakde No saat membeli arem-arem.
Nasi urab dan semangat Pakde No seolah menjadi tamparan lembut bagi mereka yang terlalu asyik dengan data statistik tanpa melihat realita di gang-gang sempit. Indonesia, dengan segala kearifan pangannya, terbukti jauh lebih tangguh dari apa yang tampil di layar ponsel. (sam)
Bagikan artikel ini



