NABIRE - Suasana lapangan tenis di Jalan Kusuma, Kamis (15/01/2026), mendadak cair dan penuh tawa. Komandan Korem (Danrem) 173/PVB, Brigjen TNI I Ketut Mertha Gunarda, memilih gaya komunikasi yang tidak kakuh saat menggelar jumpa pers, sekaligus silaturahmi bersama para kuli tinta di wilayah tugasnya.

Mengawali arahannya, jenderal bintang satu ini meminta seluruh awak media untuk santai dan tidak tegang. "Bikin benar-benar santai, kawan-kawan kita jangan dibuat stres," ujarnya, sembari mempersilakan para hadirin untuk menikmati suasana layaknya sedang berkumpul dengan keluarga sendiri.

Dengan rendah hati, Brigjen TNI Ketut memperkenalkan diri sebagai sosok yang sudah memasuki usia 53 tahun. Ia menganggap para jurnalis yang hadir sebagai adik-adiknya sendiri, mengingat rentang usia yang cukup jauh, namun disatukan oleh visi yang sama untuk membangun daerah.

Lahir dan besar di Bali, masa remaja Ketut ternyata sudah diabdikan sepenuhnya pada negara. Sesaat setelah lulus SMA, ia langsung menempuh jalur militer. Ia mengenang masa mudanya yang habis di tangsi militer, sebuah pengorbanan yang membuatnya jarang menikmati masa remaja di tanah kelahiran, namun ia imani sebagai garis tangan yang harus dijalani.

Kisah personalnya pun mengalir, termasuk cerita tentang ketiga buah hatinya. Ketut bercerita dengan jenaka bagaimana ia memutuskan menambah anak ketiga saat hendak menjabat sebagai Komandan Batalyon (Danyon). "Kalau jadi komandan tidak ada mainan (bayi), tidak lucu juga," candanya yang disambut tawa para wartawan.

Kebanggaan terpancar saat ia menceritakan kesuksesan anak-anaknya di dunia akademik. Anak pertamanya kini mendalami arsitektur, sementara yang kedua menempuh pendidikan kedokteran. Meski sang putra sempat ingin mengikuti jejaknya sebagai tentara, namun garis takdir akhirnya membawa sang anak memilih jalan profesional sebagai arsitek.

Dalam sesi diskusi yang lebih mendalam, Danrem mengajak awak media untuk berefleksi mengenai dinamika politik global dan lokal. Ia menyoroti pentingnya stabilitas di Papua agar tidak terjebak dalam krisis ekonomi dan politik layaknya negara-negara luar yang mengalami inflasi gila-gilaan akibat ketidakstabilan nasional.

Ia menjelaskan, gagasan pembentukan batalyon-batalyon teritorial di setiap kabupaten merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjaga kedaulatan. Hal ini penting untuk membentengi kekayaan alam Indonesia, dari Aceh hingga Papua, agar tidak terus menjadi incaran kekuatan imperialisme modern.

Brigjen TNI Ketut menegaskan, kehadirannya malam itu murni untuk menjalin silaturahmi dan mendengar masukan dari masyarakat melalui media. Ia ingin memahami lebih dalam mengenai aspirasi warga Papua agar solusi-solusi konstruktif dapat segera terwujud demi kedamaian bersama.

"Kami berharap sinergitas antara Korem 173/PVB dan media dapat terus diperkuat, sehingga informasi kepada masyarakat bisa tersampaikan secara tepat, cepat dan bertanggung jawab," tegasnya. Menurutnya, hubungan harmonis dengan media adalah kunci membangun kepercayaan publik terhadap institusi TNI.

Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut diakhiri dengan doa bersama sebagai simbol keselamatan dan kelancaran tugas. Sebagai penutup yang manis, seluruh awak media dan jajaran Korem 173/PVB melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan tersebut.(sam)