Nabire Lumpuh Selama Sehari
NABIRE – Selama sehari, Kamis (22/8) aktifitas di kota Nabire lumpuh, gara-gara masyarakat Orang Asli Papua (OAP) melakukan aksi demo
Bagikan
NABIRE – Selama sehari, Kamis (22/8) aktifitas di kota Nabire lumpuh, gara-gara masyarakat Orang Asli Papua (OAP) melakukan aksi demo damai ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire. Tidak ada aksi anarkis, kecuali para pendemo membakar ban di Bumi Wonorejo. Aksi inipun dikendalikan aparat keamanan.Aktifitas di Pasar Karang Tumaritis misalnya, tidak ada pedagang yang membuka kios dan meja jualan lainnya. Demikian juga dengan penjual sayuran oleh petani juga tidak terlihat. Aktifitas di Pasar Karang Tumaritis sepi sejak pagi. Selain perdagangan kelontongan dan sayuran tetapi juga semua kendaraan jalur tiga kabupaten (Dogiyai, Deiyai dan Paniai) juga tidak nampak sejak pagi. Aktifitas di pasar ini lumpuh.Demikian juga halnya pelayanan di kantor pemerintah. Kantor-kantor pemerintah juga tidak membuka kantor, kalaupun dibuka, dijaga oleh aparat keamanan. Pelayanan umum seperti Puskesmas Karang Tumaritis dan Bumiwonorejo serta unit perbankan di Karang Tumaritis dan Bumiwonorejo menutup pelayanan. Bahkan, tempat pengisian bahan bakar seperti Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Wonorejo dan Bukit Meriam juga tidak buka.Lumpuhnya aktifitas perekonomian di Nabire ini tidak hanya di Karang Tumaritis. Pasar di Kali Bobo, pertokoan dan Pasar di Oyehe juga tidak ada aktifitas. Toko dan kios di dua pasar, termasuk perbankan di kawasan Oyehe juga tutup.Aktifitas kota Nabire lumpuh selama sehari karena warga di kota ini tidak mau pengalaman di Manokwari dan Kota Sorong, ketika ada demo menentang rasis ini terulang di kota Singkong, Nabire. Warga tidak menghendaki aksi anarkis, pembakaran fasilitas untuk dan pengrusakan fasilitas negara sehingga sebagian warga non OAP memilih untuk bertahan di rumah dan tidak melakukan aktitifas. Kesan ini terlihat dengan tidak membukanya kios dan jaulan eceran premium di luar jalan umum dan pasar seperti di tengah pemukiman warga. Hanya, dua kios di Karang Tumaritis yang sempat buka dan melayani masyarakat sekitarnya. Sementara lainnya, termasuk di kompleks pasar, tutup. “Aduh om, ini nanti mereka (pendemo) bakar-bakar dan bikin rusak kah. Kami takut, kalau mereka bikin kacau seperti di Manokwari dan Sorong. Aduh bagaimana ee,” tutur seorang ibu di kawasan Bumiwonorejo mendengar adanya demo menentang rasis ke DPRD Nabire.Warga lain menuturkan, mereka demo, kalau hanya menyampaikan aspirai saja boleh-boleh saja. Rakyat mau aspirasi mereka di dengar oleh pimpinan di daerah ini. Karena itu, diharapkan supaya pimpinan di daerah ini seperti Bupati dan pimpinan DPRD harus terima mereka. Jangan anggap ini hanya aspirasi, pemimpin harus dengar aspirasi rakyat kecil juga. Tidak hanya warga non OAP yang kuatir akan terjadinya tindakan anarkis oleh pendemo. Beberapa ibu yang hendak ke pedalaman arah tiga kabupaten tetangga juga demikian. “Aduh, mau kasih berangkat anak-anak ini tapi bagaimana ee, tidak ada mobil ini. Anak-anak ini takut nanti kalau kacau jadi minta pulang cepat,” tutur seorang ibu.Kekuatiran akan timbulnya anarkis saat warga OAP demo ke DPRD Nabire sudah mulai terasa sejak Rabu (21/8) malam. Pasalnya, dua SPBU di Bumiwonorejo dan Bukit Meriam ditutup cepat, kalaupun ada pelayanan hanya sau slang dengan berdalih sedang pengisian. Beberapa kios juga sudah tutup sebelum jam yang biasanya menutup kios. (ans)
Bagikan artikel ini



