NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah (Paputeng) mulai mengambil langkah konkret dalam menangani persoalan sampah yang menjadi isu krusial di wilayah tersebut. Kabupaten Nabire kini ditetapkan sebagai daerah model atau percontohan dalam pengelolaan sampah yang akan diimplementasikan ke seluruh kabupaten di bawah lingkup Provinsi Papua Tengah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Paputeng, Yan Richard Pugu, S.Hut., M.Si., menyatakan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk merealisasikan rencana ini. 

“Kabupaten Nabire akan jadi model, jadi seluruh kabupaten, itu kita sudah punya tim, itu kita dengan Kabupaten Nabire sudah lakukan,” ujar Yan Richard saat memberikan keterangan kepada awak media di Aula RRI, Kamis (2/07/2026) kemarin.

Langkah ini merupakan keberlanjutan dari upaya yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. “Penanganan-penanganan sejak 2013, jadi ada di 9 kelurahan dan 3 kampung. Jadi kita berharap itu menjadi bagian pengolahan persampahan. Memang bicara sampah ini tidak dengan satu dua kali menaruh perlakuan,” jelasnya.

Menurut Yan Richard, keberhasilan program ini sangat bergantung pada perubahan karakter masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Ia menegaskan bahwa setiap individu adalah penghasil sampah, sehingga kesadaran personal menjadi kunci utama. 

“Kita akan terus membimbing masyarakat, memperbaiki karakter, karena setiap kita adalah penghasil sampah. Jadi bagaimana kita merubah karakter. Karakternya misalnya sampah itu dipilah dulu, baru nanti petugas yang mengangkut,” tambahnya.

Dalam menjalankan misinya, DLHKP Provinsi Paputeng berpedoman pada dokumen perencanaan Jakstrada (Kebijakan dan Strategi Daerah) yang mencakup dua kegiatan besar, yakni pengurangan dan penanganan sampah. 

Yan Richard memberikan contoh nyata mengenai upaya pengurangan sampah plastik yang bisa dimulai dari lingkungan keluarga. “Pengurangan itu misalnya nanti kegiatan-kegiatan yang hubungannya mungkin kita mengurangi penggunaan botol plastik. Kita minum pakai tumbler saja, bawa air minum dari rumah, itu mengurangi beban sampah,” tuturnya.

Sementara itu, untuk aspek penanganan sampah, Yan Richard menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat agar sistem pengelolaan dapat berjalan efektif. “Penanganan berarti, kita ajak masyarakat terlibat dalam mengimplementasikan. Semakin banyak orang terlibat, akan semakin baik, karena minimal setiap orang mengolah sampah yang dia hasilkan,” tegasnya.

Mengakhiri keterangannya, Yan Richard berharap adanya pola pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir. Ia meyakini bahwa langkah sederhana tersebut akan memberikan dampak signifikan bagi lingkungan. “Misalnya dari setiap rumah kalau sebelum buang dia sudah pilah dulu, itu akan mempermudah kerja selanjutnya,” tutupnya. (sam)